Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Di kepung


__ADS_3

Adiba melihat seorang laki-laki memakai baju hitam dan bawahannya juga hitam, berjalan ke arah mobil mereka.


Adiba juga sudah menghubungi teman-temannya, Adiba merasakan kecurigaan kepada mereka, pasti ini salah satu dari musuh-musuh keluarga Alexander.


"Keluar," teriak orang yang baju hitam itu.


Syukurnya Adiba membawa dan memasangkan headphone di telinga Zayyan dan Syila, jadi mereka tidak mendengar apa yang terjadi di luar.


Adiba memegang tangan sang suami dengan lembut. "Aku akan keluar untuk menemui mereka, kamu tetap disini temani anak-anak kita."


Gus Adnan menggelengkan kepalanya, tanda tidak setuju. "Aku akan menemani kamu, nanti biarkan Agus dan Salman yang menjaga mereka, dan mobil ini juga anti peluru."


"Tapi…"


Gus Adnan menyentuh bibir Adiba dengan jari telunjuknya, agar Adiba tidak berbicara lagi. "Kita sekarang sudah pasang suami dan istri, aku sebagai kepala keluarga yang harus melindungi kalian, menjaga keselamatan kalian dan memberikan nafkah, aku tahu kamu pandai dalam bela diri, tapi sepandai-pandainya kamu, apabila musuh yang kita hadapi sangat banyak tetap saja kita akan kalah tenaga,"


"Jadi kita hadapi bersama-sama, kamu tenang saja dengan keselamatan anak-anak, Agus dan Salman mereka berdua juga pandai dalam bela diri." Gus Adnan tersenyum menenangkan.


Adiba hanya bisa pasrah saja, Iya tidak ingin membuat suaminya merasa tidak berguna untuk dirinya, Adiba tidak ingin menjatuhkan harga diri sang suami.


"Kang Agus setelah saya keluar, dan kedua mertua dan adik ipar saya masuk ke mobil ini, langsung dikunci dan apabila situasi dan kondisinya sudah tidak baik langsung tancap gas, nanti ada beberapa teman saya yang menjaga kalian." Adiba membuka pintu mobil dan turun bersama sang suami.


Agus dan Salman yang mendengar perintah dari Adiba, hanya mengangguk kepala, tanda mereka setuju.


"Kamu saja sayang yang pergi ke mobil Abi, mas akan mengawasi mereka." Mengusap lembut kepala Adiba dan tersenyum lembut.


Adiba menjemput mertua dan adik iparnya, mereka bingung dengan situasi sekarang, akan tetapi mereka memilih untuk diam saja dulu, tidak ingin membuat anak dan menantunya kuatir.


Setelah merasa mereka aman, dan Adiba juga sudah mendapatkan pesan dari Andrian bahwa mereka sudah sampai dan bersembunyi.


Adiba dan Gus Adnan berjalan ke arah pria berbaju hitam itu dengan wajah yang dingin, datar dan tegas.


"Siapa kamu, kenapa anda mengganggu perjalanan saya," tekan Gus Adnan.


"Saya tidak ada perlu dengan kamu, akan tetapi saya hanya ingin menangkap gadis yang ada di sebelah kamu." Pria baju hitam itu menunjuk ke arah Adiba.


"Apabila kamu ingin gadis yang di sebelah saya, maka kamu hadapi saya dulu, karena saya adalah suami dari gadis yang ingin kamu tangkap." ucap Gus Adnan dingin dan tersenyum menyeringai.


Adiba melihat sang suami, iya menjadi ikut takut, dan sekaligus kagum, ternyata Gus Adnan bisa juga bermuka dingin, bahkan terlihat seperti pemimpin Mafia.


Sangat jelas perbedaannya ketika berdakwah, mengajar, berbicara kepada orang-orang yang dekat dengannya.


Adiba sempat berpikir bahwa sang suami mempunyai alter ego (kepribadian ganda). Mungkin setelah ini selesai Adiba akan menanyakan hal itu.


"Hahaha… apa hebatnya kamu. Kamu hanya seorang ustadz bukan seorang mafia." cemooh pria baju hitam itu dan anak buahnya juga tertawa mengejek.

__ADS_1


Gus Adnan tetap diam, dan tenang tidak terkecoh dengan hinaan mereka. "Aku tanya sekali lagi, apa yang kalian inginkan." Tegas Gus Adnan.


Pria yang berbaju hitam itu merasakan ketakutan melihat tatapan dingin dan tenang Gus Adnan, bahkan bos mereka saja tidak seperti Gus Adnan, pria itu mencoba untuk santai. "Sudah jelas kami inginkan adalah istri kamu, dan bos kami menginginkan Dia untuk menjadi ****** nya, hahaha."


Mendengar ucapan dari pria baju hitam itu, Gus Adnan mengepalkan tangannya menahan amarahnya, dan ketika sudah ingin maju, Adiba menggenggam tangan sang suami dan menggelengkan kepalanya dan mencoba untuk menenangkan Gus Adnan.


"Kita tidak punya waktu cepat tangkap gadis itu, dan bunuh mereka semua jangan ada yang dilewatkan." Perintah pria baju hitam itu dengan tegas.


Anak buahnya menyerang Adiba dan Gus Adnan secara bruntal, dan anak-anak buah Adiba yang bersembunyi, mereka semua keluar untuk membantu, jadi perlawanan mereka sekarang seimbang.


Bughh…


Bughh…


Krakakk…


Akahh…


Gus Adnan melepaskan rasa sesak dan marah yang ditahannya sedari tadi, Iya lampiaskan dengan memukul, menendang bahkan mematahkan anak buah pria baju hitam itu dengan kejam.


Melihat anak buahnya yang sudah banyak tumbang, karena kebrutalan Gus Adnan, iya berencana ingin kabur, tetapi semua itu hanya ada dipikirannya, karena sekarang Gus Adnan sudah ada di depannya dengan tatapan tajam dan menyeringai.


Bugh…


Buggh…


Brukk..


Bunyi jatuh seseorang, Gus Adnan masih belum puas untuk memukul pria itu. Keadaan laki-laki itu sudah sangat lemah, darah mengalir di sudut bibirnya, wajahnya dipenuhi dengan memar, dan yang lebih memprihatinkan adalah,


Krakk…krakkk


"Ahhhh…" pria itu berteriak kencang ketika tangan kakinya dipatahkan oleh Gus adnan begitu saja, Gus Adnan tidak merasakan kasihan sama sekali, raut wajahnya juga terlihat biasa saja, seperti sudah biasa melakukan hal itu.


"Ini belum seberapa, apabila ada yang ingin menyakiti bahkan menyentuh seujung kuku istriku, maka orang itu akan terluka parah, seperti yang aku lakukan sekarang kepada kamu." Ketika Gus Adnan kembali untuk memukul pria itu, tiba-tiba tangannya ada yang memegang.


Adiba tersenyum lembut. "Sudah cukup, jangan kamu kotori tangan ini dengan membunuh orang, kita tinggalkan tempat ini, biarkan teman-teman aku yang mengurusnya." Adiba merasakan terharu ketika mendengar ucapan dari sang suami, Adiba tidak pernah menyangka Gus Adnan begitu menjaga, memberikan kasih sayang yang begitu tulus, mata Adiba berkaca-kaca.


Adiba memegang tangan sang suami dan menariknya dengan lembut ke arah mobil yang akan membawa mereka pulang.


Untuk mobil yang ditempati oleh mertua Adiba sudah berjalan sejak mereka bertarung.


"Ansel," panggil Adiba.


Mendengar panggilan Adiba, Ansel berlari ke arah Adiba. "Iya nona, apakah ada yang perlu saya lakukan?"

__ADS_1


"Kamu bawa mereka semua ke markas dan cari tahu semuanya, aku serahkan mereka kepada kalian, semua keputusan ada di tangan kalian, Andrian, Aileen dan Davia, aku percaya kalian tidak akan pernah mengecewakan aku, aku pamit." Adiba masuk ke dalam mobil.


Di dalam mobil adiba menatap sang suami, yang sedari tadi hanya diam, Adiba mencoba untuk menenangkan sang suami dengan cara mengelus lembut pergelangan tangan Gus Adnan. "Mas marah sama aku ya?" tanya Adiba pelan.


Gus Adnan menghela nafas berat, berusaha untuk meredakan emosinya yang masih ada. "Aku tidak marah dengan kamu sayang, hanya saja aku tidak suka mendengar ucapan dari pria itu, rasanya ingin sekali aku membunuhnya."


Adiba tersenyum bahagia mendengar ucapan sang suami, iya beruntung mendapatkan Gus Adnan yang sangat sempurna bagi Adiba. Gus Adnan tidak hanya pandai dalam ilmu agama, umum dan dalam hal apapun, Gus Adnan juga jago dalam beladiri, bahkan terlihat seperti orang yang sudah profesional.


Drtrt…handphone Gus Adnan berbunyi, dan melihat nama yang sedang menelponnya, dengan cepat Gus Adnan mengangkatnya.


Gus Adnan


"Assalamualaikum Abi,"


Abi hamza


"Wa'alaikum salam,"


"Bagaimana keadaan Kalian nak, apakah kalian baik-baik saja, bagaimana dengan menantu Abi, apakah Adiba terluka?"


Gus Adnan


Gus Adnan terkekeh mendengar perkataan sang ayah. "Satu-satu Abi heheh,"


"Alhamdulillah kami baik-baik saja dan sekarang ini kami sudah dalam perjalanan, jadi jangan kuatir lagi. Abi tenang saja anak taman Abi ini tidak akan membiarkan menantu cantik Abi ini terluka.


Abi Hamza


"Bagus, kamu harus tepati janji kamu, apabila putri Abi terluka sedikit saja kamu yang akan Abi hukum."


Gus Adnan


"Oke Abi, sekarang lebih baik Abi Istirahat, jangan pikirkan apapun, assalamualaikum."


Abi hamza


"Wa'alaikum salam."


Gus Adnan membawa Adiba ke pelukannya dan mencium kening sang istri.


"Mas boleh aku tahu, kamu…..


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰

__ADS_1


Salam kenal semua…


__ADS_2