
Mas apakah aku boleh tanya sesuatu?" ucap Adiba manja.
"Apa yang ingin kamu tanyakan sayang?" Gus Adnan mengelus lembut kepala Adiba.
"Kenapa kamu bisa jago dalam beladiri, aku melihat kamu seperti orang yang sudah terlatih?" tanya Adiba.
"Sejak kecil aku sudah berlatih, aku suka dengan segala hal yang berkaitan dengan beladiri, aku juga sering mengikuti pertandingan untuk mewakili pondok pesantren As-Salam." Gus Adnan membanggakan dirinya sendiri.
Adiba mencubit pinggang Gus Adnan, karena kesal dengan kepedean sang suami. "Iya kamu memang selalu yang terbaik, dan banyak wanita yang menyukai kamu." Cetus Adiba.
"Kamu cemburu sayang!" goda Gus Adnan.
"Sudah tahu istrinya cemburu, masih aja tanya, jadi laki-laki itu harus peka?" Adiba cemberut, dan menatap tajam sang suami.
Melihat raut wajah sang istri yang marah, terlihat sangat cantik, gemes, dan Gus Adnan tidak merasakan takut.
Cup
Cup
Cup
Cup
Gus Adnan mencium Adiba bertubi-tubi, karena Istrinya kecilnya ini sangat imut. Jika bisa, Iya ingin sekali mengurung Adiba di dalam kamar saja, agar laki-laki lain tidak ada yang melihat wajah cantik Adiba.
Adiba hanya diam saja, ketika Gus Adnan menciumnya, Adiba sudah mulai membiasakan diri, karena statusnya sekarang bukan lagi single, akan tetapi sudah berubah menjadi istri.
Setelah ciuman itu, mereka sama-sama terdiam, menikmati pelukan hangat. "Sayang bagaimana perasaan kamu setelah bertemu kembali dengan kedua orang tua kamu?"
Adiba terdiam beberapa saat, dan mengingat kembali pembicaraannya dengan keluarga Alexander.
Di ruang keluarga itu mereka berkumpul semuanya, mereka menatap Adiba dengan perasaan bersalah.
"Terima kasih kamu masih mau menginjakkan kaki kamu dirumah ini, saya hanya ingin kita makan bersama sebelum kamu pergi, ikut dengan suami kamu," ucap Bastian.
"Apakah itu saja yang ingin kalian bicarakan?" tanya Adiba tegas.
Gus Adnan memegang tangan Adiba dan mengelusnya dengan lembut, agar sang istri merasakan tenang.
__ADS_1
Kakek Johan mengeluarkan sebuah kartu kredit dan meletakkannya di atas meja. "Sebagai permintaan maaf, saya ingin memberikan kamu ini, ambillah?"
Adiba tersenyum getir, melihat sang kakek dan yang lainnya. "Apakah semua yang kalian lakukan kepada saya, hanya dibayar dengan uang, saya tidak butuh uang anda. Uang bisa dicari, tapi kasih sayang tidak bisa dibeli dengan uang. Tegas Adiba, dan air matanya mengalir membasahi pipinya.
"Bukan seperti itu yang kami maksud, kami hanya ingin memberikan nafkah yang harus kamu terima selama ini," ungkap kakek Jordan.
"Apabila anda hanya ingin membahas tentang ini, lebih baik kami tidak datang, saya sudah mempunyai suami yang bisa memberikan saya uang, dan saya juga memiliki sebuah toko yang cukup untuk membiayai hidup saya. Saya tidak perlu uang kalian." Tegas Adiba dan menatap sang suami.
Gus Adnan memeluk Adiba dan mengusap air matanya, Gus Adnan menatap mereka dengan tegas. "Saya rasa semua sudah cukup, kalian sudah terlalu dalam menyakiti istri saya, apakah kalian tahu. Rumah ini adalah rumah yang membuat Adiba trauma, Adiba berusaha melawan traumanya itu demi memenuhi keinginan kalian yang ingin bertemu, tetapi kalian juga yang sudah membuat istri saya semakin kecewa."
"Ini peringatan terakhir untuk kalian semua, jangan pernah menemui istri saya, tanpa izin saya. Ini terakhir kalinya kalian membuat istri saya sedih, apabila kalian melakukan hal yang sama di kemudian hari, maka saya sendiri yang akan turun tangan membalas perbuatan kalian." Dingin Gus Adnan.
Gus Adnan dan Adiba berjalan keluar tanpa menatap mereka.
Setelah kepergian Adiba dan sang suami, di ruang keluarga Alexander masih terdiam. "Kita salah lagi," ucap mama Keyla dengan mata berkaca-kaca.
"Sekarang Adiba semakin membenci kita, kita selalu menyakitinya, sekarang apa yang harus kita lakukan?" Baskara mengusap wajahnya kasar.
Kenzo dan Kenzi hanya terdiam melihat kedua orang tua, Zea, kakek dan neneknya yang menyesal.
Kenzo berdecak. "Aku sudah pernah bilang jangan lakukan itu, tetapi kalian tetap saja melakukannya, dan sekarang apa yang terjadi kami berdua juga kena imbasnya tidak bertemu Adiba lagi." Geram Kenzi.
Mereka berdua berdiri dan berjalan keluar dari kediaman Alexander, ketika sampai di depan pintu Kenzi berbalik dan menatap mereka yang masih duduk di kursi. "Aku sama Kenzo akan tinggal di luar, selama Adiba tidak menginjakkan kakinya di rumah ini, maka selama itu juga kami tidak akan kembali."
Mendengar ucapan si kembar, mereka semua semakin frustasi, mereka tidak pernah menyangka Kenzo dan Kenzi akan melakukan hal yang sama dengan Adiba. Sekarang keluarga Alexander yang dulunya terkenal dengan keluarga yang harmonis, hanya tinggal nama saja, karena keluarganya mengalami perpecahan, karena perbuatan mereka sendiri.
***
Waktu berlalu begitu cepat, sekarang Adiba sudah berumur 18 tahun dan Adiba juga sudah berada di kelas 12 MA.
Adiba juga sudah mengalami banyak perubahan, sekarang ini Adiba di sudah bisa membaca ayat-ayat Al Qur'an dan bahkan Iya juga menghafal.
Hubungan Adiba dan Gus Adnan berjalan dengan lancar, tapi juga dibumbui dengan masalah kecil dan mereka berdua bisa mengatasinya, karena inti dalam berkeluarga adalah komunikasi dan kejujuran lah yang membuat hubungan menjadi lebih baik.
Untuk santri putra dan santriwati mereka masih belum ada yang mengetahuinya, hanya ada beberapa ustadz, ustadzah, mbak ndalem dan kang ndalem.
Adiba juga semakin semangat dalam belajar agama maupun umum, bahkan Adiba mendapatkan nilai terbaik, dan Adiba juga ikut melatih santriwati dalam beladiri.
Kehidupan seperti ini lah yang Adiba impikan, bersama dengan orang-orang yang tulus mencintainya. Ulang tahun Adiba yang ke 18 dirayakan di rumah ndalem, bersama dengan sang suami, anak-anaknya, adik ipar dan mertua yang sangat baik hati dan penuh kasih sayang.
__ADS_1
Saat ini Adiba berada di ndalem yang sedang menemani Zayyan dan Syila belajar, dan mengerjakan tugas.
Zayyan dan Syila sudah masuk sekolah TK kecil. "Umi nanti setelah menyelesaikan semua tugas ini, apakah boleh Zayyan meminta umi untuk memasak ayam krispi." Pinta Zayyan.
"Boleh sayang, setelah ini umi akan membuatkan makanan kesukaan kalian." Adiba mengusap lembut kepala kedu anaknya.
"Hore… kami sayang umi, sayang… sayang… sayang banyak." Syila dan Zayyan memeluk Adiba dengan erat.
Gus Adnan masuk kedalam rumah dan melihat ketiga orang yang sangat dicintainya sedang berpelukan, merasakan kebahagiaan yang luar biasa.
Untuk malam pertama, Gus Adnan dan Adiba masih menundanya, setelah Adiba selesai sekolahnya baru mereka akan berkumpul dirumah yang sama, karena selama ini adiba masih tinggal di kamar yang ada di pondok.
Tapi tenang saja, setiap ada waktu luang Adiba akan pergi ke ndalem untuk mencuci dan menyetrika baju suami dan anak-anaknya, dan sebisa mungkin Adiba juga akan menyiapkan keperluan Gus Adnan, Zayyan dan Syila.
Gus Adnan mendekati mereka dan hap, Gus Adnan memeluk mereka bertiga.
Cup
Cup
Cup
Gus Adnan mencium kening Adiba, Zayyan dan Syila dan mereka juga membalas ciuman itu.
Untuk sekarang Adiba tidak malu lagi membalas ciuman sang suami, bahkan mereka juga sudah ciuman bibir hehehe..🤭
Gus adnan menemani Zayyan dan Syila bermain, sedangkan Adiba berada di dapur untuk memasak makan malam.
Saat Gus Adnan, Zayyan dan Syila sedang Asyik, tiba-tiba salah satu santri datang dan mengetuk pintu dengan keras.
Gus Adnan yang mendengar, langsung berjalan ke arah pintu dan melihat ada dua santri putra dengan raut wajah ketakutan.
"Ada apa?" tanya Gus Adnan
"Itu Gus….
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
__ADS_1
Salam kenal semua…