
"Silahkan duduk pak kyai Hasan dan keluarga," ucap pak kyai Ali.
Gus Adnan menatap keluar Farah dengan tatapan dingin, tidak ada senyuman yang diperlihatkan, tapi Gus Adnan masih menghormati pak Kyai Hasan.
"Sayang, kamu bawa anak-anak ke kamar ya," bisik Adnan ditelinga Adiba.
"Aku ke atas dulu ya, nanti aku akan kesini lagi, aku ingin melihat drama apa yang akan dilakukan oleh wanita itu," kesal Adiba.
Gus Adnan tersenyum melihat sikap Adiba yang kesal, karena bagi Gus Adnan semakin sang istri kesal atau cemberut maka akan semakin cantik.
Adiba pamit kepada mereka, untuk kembali ke kamar, menggandeng tangan Zayyan dan Syila.
Saat akan naik tangga, Adiba mendengar suara dari wanita yang sangat Adiba benci.
"Apakah seperti ini kelakuan menantu dari pak kyai Hamza, tidak ada sopan-sopannya," sindir Ning Farah.
Adiba tersenyum ramah kepada Ning Farah. "Maaf sebelumnya Ning Farah, bukannya saya sudah pamit kepada semuanya untuk mengantarkan anak-anak saya ke kamar, karena ini sudah waktunya untuk mereka istirahat, apakah Ning Farah tidak mendengarkan ucapan saya ya, apakah suara saya tidak kedengaran?" tanya Alifa polos.
Alifa menetap sang suami dan kedua mertuanya. "Mas, Abi, dan umi apakah Adiba salah ya, jika Adiba pergi ke kamar terlebih dahulu, bukannya Adiba tidak menghormati tamu, tapi anak-anak juga harus istirahat, dan anak-anak juga tidak baik mendengar pembicaraan orang dewasa, iya kan mas," rengek Adiba.
__ADS_1
"Kamu tidak salah sayang, lebih baik kamu segera pergi ke dalam kamar, Zayyan dan Syila terlihat sangat mengantuk," ucap umi Ayu lembut.
Ning Farah terlihat sangat marah, karena gagal mempermalukan Adiba. Ning Farah mengapalkan tangannya berusaha untuk tetap tenang agar tidak ada yang mencurigainya. "Aku tidak menyangka gadis itu bisa berbicara seperti itu kepada ku, sepertinya gadis itu memiliki keberanian untuk melawan ku, minta lihat saja nanti siapa yang akan menjadi pemenangnya," batin Farah dan tersenyum licik.
Tanpa diketahui oleh Ning Farah, semua gerak gerik sudah diketahui oleh Gus Adnan.
Gus Adnan sangat bangga dengan sang istri tanpa banyak drama Adiba berhasil membuat Ning Farah mati kutu. "Kamu tidak tahu seberapa hebatnya istriku, apalagi jika menyangkut anak-anaknya maka orang itu tidak akan selamat.
Setelah cukup lama terdiam, Pak Kyai Ali yang terlebih dahulu untuk berbicara. "Jadi apakah ada sesuatu yang ingin pak kyai Hasan sampaikan?" tanya pak kyai Hamza.
"Saya kesini ingin silaturahmi dan juga ingin melihat cucu saya, dimana mereka?" tanya pak kyai Hasan dengan suara yang sedikit lantang.
Umi Ayu sangat kesal dengan keluarga pak kyai Hasan, sudah menipu anak mereka, dan juga melantarkan cucu-cucunya sendiri. Sejak kecil Zayyan dan Syila sudah dirawat oleh Bu nyai Ayu, jika tidak keinginan Gus Adnan yang ingin menjadi ayah mereka, sudah pasti Zayyan dan Syila menjadi anak-anaknya, karena anak-anak Bu nyai dan Zayyan Syila mereka saudara sesusu.
"Maafkan saya, dulu saya tidak bisa menahan amarah, karena harus kehilangan anak yang sangat saya sayangi, ketika melihat anak itu, saya tidak bisa mengontrol emosi saya," cerita pak kyai Hasan.
"Oooch… sekarang anda datang ke sini ingin mengambil cucu saya, karena anak anda tidak jadi mati, tapi masih hidup, dan satu pertanyaan saya dimana kamu selama ini tinggal, kenapa kamu membohongi kami semua?" ucap umi Ayu dingin.
Pak kyai Hamza menggenggam tangan sang istri dan mengelusnya dengan lembut. "Umi harus tenang, jangan menggagalkan rencana yang sudah disusun oleh anak dan menantu kita." bisik Abi Hamza ditelinga sang istri.
__ADS_1
"Maaf Abi, umi merasakan kesal dengan mereka yang tidak tahu diri, datang kemari hanya untuk bertemu dengan cucunya yang sudah tidak mereka perdulikan," ucap umi Ayu pelan.
"Silahkan kalian jawab dulu pertanyaan dari umi saya?" ucap Gus Adnan tegas.
"Untuk pertanyaan umi kamu, bagi saya itu tidak penting," ucap pak kyai Hasan cuek.
Umi ayu yang mendengar ucapan pak kyai Hasan, semakin kesal dan marah, ingin sekali umi Ayu menyeret mereka keluar dari rumah dan membuangnya ke dalam jurang agar tidak muncul lagi.
"Saya datang kesini ingin mengambil anak saya, dimana anak saya, sudah seharusnya saya sebagai ibu kandungnya untuk membawa anak saya pergi dari sini," gertak Ning Farah tersenyum licik.
Gus Adnan mengapalkan tangannya, menahan amarahnya, jika Farah bukan seorang wanita sudah Gus Adnan pukul.
"Kamu tidak berhak untuk mendapatkan anak itu, jika kamu berani menyentuhnya maka….
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…
__ADS_1