Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Kedatangan orang tua Ning Farah


__ADS_3

Di ruang keluarga sudah berkumpul keluarga pak Kyai Ali dan Kedua orang tua Ning Farah.


"Maaf kami mengganggu waktu kalian," ucap pak kyai Hasan merasakan perasaan bersalah karena datang secara tiba-tiba, sedangkan sang istri hanya diam.


"Tidak apa-apa pak kyai Hasan, saya senang anda kembali berkunjung ke sini," ucap pak kyai Hamza tenang.


"Apakah ada sesuatu yang ingin anda sampaikan?" tanya Ning Kinan sedikit kesal.


"Kinan," panggil pak kyai tegas.


"Aku hanya ingin tahu, apa yang menyebabkan mereka kesini, apakah mereka masih mempunyai muka dengan kita, anak perempuannya sudah membuat keponakan aku sakit, bahkan kakak ipar dan Abang juga sakit, apa yang sebenarnya mereka pikirkan, jika aku ada disini, maka aku tidak akan segan-segan mencakar wajah anaknya itu," sindir Ning Kinan.


"Aku hanya benci kepada orang-orang yang selalu saja ingin menghancurkan keluarga kecil Abang, aku tidak bisa melihat mereka yang terus-menerus mendapatkan cobaan, jika aku bisa menggantikan kakak ipar, maka aku akan dengan senang hati menggantikannya," tegas Ning Kinan dan pipinya basah kala air mata berjatuhan.


Adiba sangat terharu ketika adik iparnya begitu menyayanginya, bahkan Adiba tidak pernah menyangka Ning Kinan mau menukarkan nyawanya hanya demi melindunginya. Adiba berdiri dan membawa Ning Kinan kedalam pelukannya. "Terima kasih, kamu selalu ada untuk kakak, semoga kita akan terus seperti ini." bisik Adiba di telinga Ning Kinan.


Setelah Ning Kinan dan Adiba tentang, pembicaraan dilanjutkan. "Jadi, apakah ada sesuatu yang ingin anda sampaikan, silahkan!" ucap Gus Hanan dingin.


"Saya hanya ingin meminta maaf atas semua kesalahan putri saya, dan apakah boleh tuntutan anak saya diberikan keringanan," lirih kyai Hasan.


"Untuk masalah itu saya serahkan kepada anak saya, Adnan bagaimana keputusan kamu." Abi Hamza memandang Gus Adnan.


"Maaf Abi, aku tidak bisa melakukan itu, karena kesalahan Ning Farah sudah fatal," ucap Gus Adnan tegas.


"Apakah kamu tidak kasihan dengan saya, setiap malam saya terus-menerus memikirkan anak saya di dalam penjara, harusnya kamu punya hati," bentak ibunya Ning Farah.

__ADS_1


"Anda bilang masalah hati, saya ingin bertanya kepada anda, apakah anak anda itu mempunyai hati, dan yang saya dengar anak anda itu ingin membunuh anak kandungnya sendiri, jadi berbicara masalah hati, disini siapa yang seharusnya tidak mempunyai hati," ucap Gus Hanan dingin.


"Jangan pernah ganggu keluarga kami lagi, kami tidak akan pernah melepaskan orang-orang yang sudah berani menyakiti keluarga kami, dan saya harap ini terakhir kalinya anda berkunjung kesini, karena saya tidak ingin melihat orang-orang seperti anda!" ucap Ning Kinan tegas.


Ibunya Ning Farah hanya bisa terdiam mendengar ucapan Gus Hanan, dia sebenarnya tahu jika anaknya salah, tapi sebagai seorang ibu dirinya pasti tidak akan tega melihat putrinya menderita.


"Abang, sebaiknya Abang berikan berkas itu sekarang juga, mumpung mereka ada disini," ucap Gus Hanan dingin.


"Kamu ambil berkasnya di kamar Abang, masuk saja," perintah Gus Adnan.


"Adnan, apakah harus kamu melakukan ini?" tanya Abi Hamza lembut.


"Harus Abi, Adnan hanya ingin berjaga-jaga saja, kita tidak suatu saat nanti seperti apa, bisa saja mereka berubah, sifat manusia itu sering berubah-ubah," papar Gus Adnan.


"Baiklah, tapi Abi harap kamu jangan memutuskan silaturahmi," pinta Abi Hamza.


Setelah Gus Hanan datang dan menyerahkan map yang berwarna hijau kepada Gus Adnan. "Di dalam map ini ada perjanjian yang harus anda tandatangani, silahkan dibaca." Gus Adnan meletakkan map tersebut di atas meja.


Pak kyai Hasan mengambil map tersebut dan membukanya, di kertas itu ada beberapa perjanjian yang sudah Gus Adnan ketik. Setelah selesai membaca, pak kyai Hasan menatap Gus Adnan. "Apakah saya masih boleh bertemu dengan cucu-cucu saya?"


"Boleh, tapi anda yang harus datang ke sini, dan waktunya juga harus dibatasi, bukannya saya tidak percaya dengan anda, hanya saja tidak ingin kejadian itu terulang kembali,"


"Adan juga harus tahu, selama 2 bulan ini Syila rutin periksa ke dokter psikiater, karena Syila yang mengalami trauma yang mendalam, dan untuk Zayyan Alhamdulillah baik-baik saja dan mentalnya sudah kuat, tapi tetap saja anak-anak seperti mereka itu tidak seharusnya mengalami kejadian itu, dan jika anak pak kyai ingin bertemu dengan Zayyan dan Syila, saya tidak bisa mengabulkannya," papar Gus Adnan.


"Kenapa anak saya tidak boleh bertemu dengan anak kandungnya sendiri, apakah kalian semua ini benar-benar ingin memisahkan ibu kandung dan anaknya," bentak ibu Ning Farah, Dia masih tidak sadar dengan kesalahannya.

__ADS_1


"Apakah anda lupa atau pura-pura lupa dengan kelakuan anak anda itu, apakah saya harus menceritakannya dari awal hingga Zayyan dan Syila harus terbaring di rumah sakit, bahkan Zayyan harus mengalami koma, dan Syila mengalami trauma, dan ada fakta yang harus anda berdua tahu, Zayyan saat itu hampir saja meninggalkan kita, detak jantung Zayyan sempat berhenti, tapi karena kuasa Allah, akhirnya Zayyan kembali diberikan kesempatan untuk hidup," ucap Gus Hanan dingin.


Ning Kinan dan Gus Hanan sudah tahu cerita sebenarnya, mereka berdua sangat terkejut ketika mendapatkan kabar kedua keponakan diculik oleh ibu kandungnya sendiri, dan harus dirawat di rumah sakit.


setelah mendengar ucapan Gus Hanan, hati pak kyai Hasan terasa sakit, karena sudah tidak bisa menahan putrinya, sehingga yang menjadi korbannya adalah cucu-cucunya sendiri, karena merasakan perasaan bersalah Pak Kyai Hasan langsung mendatangi perjanjian itu.


"Saya mengikuti perjanjian ini, dan ini sudah saya tandatangani, mohon maaf jika kedatangan saya sudah membuat keluarga anda tidak nyaman,"


"Bu, ayo kita pulang sekarang juga, sudah tidak ada yang dibicarakan lagi," ucap pak kyai Hasan.


"Abah ini kenapa sih tidak bisa tegas sama mereka, kita datang ke sini untuk meminta keadilan untuk anak kita," teriak ibunya Ning Farah.


"Pak kyai Hasan, maaf sebelumnya tapi saya harap istri anda sebaiknya dibawa periksa ke dokter psikiater," ceplos Ning Kinan.


"Apa yang kamu bilang hah… saya tidak gila," teriak ibunya Ning Farah.


"Ibu sudah cukup," bentak pak kyai Hasan.


"Ibu ini kenapa jadi seperti ini, apakah ibu sudah lupa bagaimana sikap putri kita selama ini, jadi kamu selalu membela anak itu jika Dia membunuh anak kandungnya sendiri, seekor binatang lebih baik daripada anak kita itu, kamu tidak melihat bagaimana seekor kucing yang sangat menjaga anaknya, tapi coba kamu ingat kembali apa yang telah Farah lakukan dengan anak kandungnya," ucap pak kyai Hasan lembut, agar istrinya sadar.


Tapi tiba-tiba… plak…..


Bersambung


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰

__ADS_1


Salam kenal semua…


__ADS_2