
Dua hari sudah berlalu dari kejadian Ning Farah dan kedua orangtuanya yang datang ke pondok pesantren As-Salam.
Alhamdulillah selama dua hari ini, Ning Farah tidak datang ke pondok pesantren As-Salam, semoga saja Ning Farah tidak merencanakan sesuatu.
Setelah menyelesaikan semua nya beres, Adiba akan pergi menjemput kedua anaknya, karena pagi tadi Adiba sudah berjanji akan menjemput mereka dan mengajaknya pergi jalan-jalan di sekitar luar pondok pesantren As-Salam.
Sekarang Adiba sudah berada di taman sekolahan Zayyan dan Syila, Adiba duduk bersama dengan para ibu-ibu yang sedang menunggu anak-anak mereka.
"Bagaimana kehamilannya Ning, apakah ada ngidam yang aneh-aneh," ucap ibu baju biru kalem.
"Alhamdulillah, saya baik-baik saja, jika masalah ngidam, saya jarang meminta hanya sekali-sekali saja, mungkin mereka tidak ingin membuat ayahnya kesusahan," ucap Adiba lembut.
"Alhamdulillah Ning, semoga diberikan kemudahan sama Allah sampai melahirkan," doa ibu yang memakai baju hitam.
"Amin, terima kasih atas doanya Bu," ucap Adiba tersenyum lembut.
"Ning, saya ingin menyampaikan sesuatu," ucap ibu yang memakai baju ungu.
"Apa yang ibu sampaikan?" tanya Adiba.
"Saya tadi melihat Gus Adnan bertemu dengan mantan istrinya itu loh," ucap ibu baju ungu.
"Ibu tidak salah lihat kan, istri pertama Gus Adnan sudah meninggal, tidak mungkin bisa hidup begitu saja, jangan menakuti!" ucap ibu baju biru kesal.
"Tapi yang saya lihat seperti kenyataan sih, tidak mungkin kan saya berhalusinasi!" ucap ibu baju ungu bingung.
"Kita sudah melihatnya sendiri kan bagaimana, bagaimana mayatnya dikuburkan, dan semua orang yang ditinggalkan terlihat terpukul," ucap ibu baju hitam.
"Tapi saya kagum dengan istri pertama Gus Adnan itu, sudah baik, Sholehah, keturunan seorang ulama yang terkenal juga, katanya Dia juga lulusan terbaik di universitas di Bandung," ucap ibu baju biru semangat.
"Aku juga senang sekali melihat mereka ketika berdampingan, terlihat sangat serasi, dan sekarang terbukti dengan anak-anak mereka, tampan dan cantik," puji ibu baju ungu.
__ADS_1
Adiba yang mendengar pembicaraan ibu-ibu itu membuat hatinya merasakan sedih, kesal dan cemburu. "Jika kamu benar bertemu dengan wanita itu, maka malam ini aku tidak akan mau tidur dengan kamu mas," batin Adiba kesal.
Jika mereka bukan warga desa ini, dan Adiba bukan keluarga dari pak kyai Hamza maka Adiba sudah sedari tadi memarahi mereka, bisa-bisanya mereka berbicara seperti itu di hadapannya tanpa merasakan bersalah.
Untung saja Adiba tidak terlalu lama menunggu anak-anaknya, bel sekolah pun berbunyi tanda pulang sekolah.
"Umi," teriak Zayyan dan Syila dengan senyuman yang manis.
Adiba langsung berdiri dan mendekati anak-anaknya. Adiba mencium kening Zayyan dan Syila. "Sekarang kita pulang, sebelum pulang kalian ingin pergi kemana dulu?" tanya Adiba lembut.
"Bolehkah kami membeli es krim, di supermarket depan," pinta Syila dengan raut wajah yang imut.
"Bagaimana dengan Abang, apakah Abang juga ada yang ingin dibeli?" tanya Adiba.
"Aku juga ingin beli makanan boleh," pinta Zayyan.
Mereka bertiga pergi ke supermarket, sebelum meninggalkan sekolah Adiba menyempatkan diri untuk berpamitan kepada ibu-ibu yang lain.
Adiba bisa saja langsung pergi meninggalkan mereka, tapi ya namanya manusia pasti nanti ada saja yang akan membicarakan sikapnya. Adiba juga tidak ingin membuat malu suaminya, sebagai istri dari seorang penceramah yang terkenal dan penerus pemimpin pondok pesantren As-Salam, jadi Adiba juga harus bisa menjaga sikapnya dimana pun berada.
Adiba berusaha keras menahan tangisnya, Adiba tidak ingin kedua anaknya ikut sedih. "Kenapa aku harus menangis sih, aku bukan wanita yang lemah. Kenapa ya, ketika aku hamil, aku selalu cengeng seperti ini," batin Adiba, seraya menghapus air matanya.
Setelah membayar belanjaan anak-anaknya, Adiba membawa anak-anaknya pergi ke rumah pak kyai Hamza.
"Sayang kita pulang kerumah nenek ya," ucap Adiba lembut.
"Kenapa kita ke rumah Nenek umi?" tanya Zayyan bingung sedangkan Syila enteng dengan eskrim nya.
"Abi kalian jahat sama umi, jadi kita harus hukum Abi," curhat Adiba.
"Oke umi, kita tinggal bersama dengan kakek dan nenek saja, nanti jika Abi datang akan Zayyan marahi Abi," ucap Zayyan seraya mengepalkan tangan kecilnya.
__ADS_1
Mereka sampai di kediaman ndalem, umi Ayu senang dengan kedatangan menantu dan cucu-cucunya, meskipun rumah mereka tidak jauh, tapi tetap saja jika sudah serumah maka akan jarang bertemu.
Adiba langsung memeluk umi Ayu dan keluar lah air matanya. "Umi, mas jahat," ucap Adiba sesenggukan.
umi Ayu sangat terkejut dengan menantunya, datang-datang ke rumah langsung menangis, membuat umi Ayu kuatir. umi Ayu membalas pelukannya dan mengusap punggung Adiba dengan lembut. "Apa yang dilakukan oleh suami kamu itu?" tanya umi ayu lembut.
"Abi sedang berada di luar dan bertemu dengan Ning Farah tanpa berbicara dulu dengan aku umi, aku melihatnya secara langsung, dan ada beberapa ibu-ibu yang membicarakan mereka," ucap Adiba sendu.
"Kamu yang tenang sayang, lebih baik kamu istirahat di kamar bersama dengan anak-anak ya, kamu juga butuh istirahat jangan terus dipikirkan mati cucu-cucu umi yang dikandung akan sedih juga," pesan umi Ayu.
Adiba menganggukkan kepalanya. Setelah melihat Adiba pergi umi langsung menelpon sang suaminya.
Umi Ayu
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,"
"Suruh anak laki-laki kamu itu pulang, bilang sama dia umi tunggu di rumah, 5 menit harus sudah sampai, jika anak kamu itu tidak sampai maka Umi akan bawa Istrinya pergi,"
Umi langsung mematikan teleponnya tanpa menunggu jawaban sang suami.
***
Di ruangan guru, Abi Hamza bingung dengan ucapan sang istri yang terlihat sangat marah kepada anak nya.
"Ustadz Yusuf, tolong bantu saya, pergilah ke warung yang disampaikan pondok, panggil Gus Adnan," perintah pak kyai Hamza.
"Baik pak kyai," ucap ustadz Yusuf.
"Semoga kamu baik-baik saja nak…..
Bersambung
__ADS_1
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…