
Di ruang tamu, Gus Adnan sedang berbicara dengan teman laki-laki dan kedua Abang Adiba. Tiba-tiba saja ada seorang anak kecil yang berlari.
Hap… anak kecil memeluk kaki sang Ayah, anak laki-laki itu itu adalah Zayyan. "Ayah."
Gus Adnan berjongkok menyamakan tinggi dengan sang anak. "Ada apa anak Abi yang Sholeh ini berlari?" Zayyan hanya cengengesan.
"Aku lapar Abi, bisakah Abi mengambilkan makanan, minuman dan menyuapi anak Abi yang ganteng ini," ucap Zayyan polos dan wajah yang sangat imut.
"Kamu tunggu di sofa sana." Gus Adnan menunjuk ke ruang tv.
Melihat sang anak yang sudah berjalan, Gus Adnan juga pergi ke ruang dapur untuk mengambil makanan dan minuman. Setelah dirasa cukup untuk sang anak, Gus Adnan mendekati sang putra yang asyik dengan tontonan kartun si kembar dari Malaysia (Upin dan Ipin).
Gus Adnan duduk di samping sang Anak. "Ini makan dulu ya, baca doa makan." Perintah Gus Adnan.
Zayyan mengangkat kedua tangannya dan mulai berdoa. "Allahumma baarik lama gimana razaqtana wa qinaa 'adzaa bannar."
"Artinya: "Ya Allah, berikanlah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka.
Orang-orang yang disekitar Zayyan sangat gemas, ketika disuruh membaca doa makan, gemas dengan tingkah laku Zayyan.
Setelah selesai makan Gus Adnan bertanya dimana sang adik. "Adik Abang dimana?"
"Abang lupa Abi, adik ada di kamar umi, sebenarnya tadi umi menanyakan Abi heheh..," ucap Zayyan tanpa rasa bersalah.
Mendengar perkataan sang anak, Gus Adnan takut terjadi apa-apa dengan Adiba, Iya berlari kecil ke arah kamar Adiba dan brak… pintu dibuka kasar oleh Gus Adnan dan mendekati Adiba yang duduk bersandar di kasur.
Tanpa melirik kanan kiri Gus Adnan memeluk Adiba dengan erat. Sedangkan Adiba yang dipeluk oleh seorang laki-laki yang sudah menjadi suaminya, rona merah timbul di wajahnya.
Umi Ayu yang melihat kelakuan sang anak, yang masuk tanpa mengetuk pintu dan membukanya secara kasar, membuat umi Ayu memegang dadanya karena terkejut.
Umi Ayu berjalan ke arah sang anak dan menjewer telinga Gus Adnan dengan kuat.
"Ampun umi… kenapa umi menjewer telinga aku?"
"Masih untung hanya telinga kamu saja yang Umi jewer, kamu ini tau adabkan ketika ingin masuk ke dalam kamar, harus ketuk pintu dulu," ceramah umi Ayu.
"Heheh… Abi seperti anak kecil, dimarahi sama nenek, harusnya Abi lebih dewasa dari pada Abang." Zayyan menyombongkan dirinya dihadapan sang ayah dan tersenyum licik.
__ADS_1
"Hehehe… Abi lucu sekali, teruskan saja nenek, jangan dilepaskan, Abi harus kita hukum yang lebih kejam," Syila semakin mengompori sang nenek.
Gus Adnan hanya mendengus dan cemberut melihat kedua anaknya yang tidak membelanya sama sekali, bahkan mereka mengejek dirinya.
"Ampun umi, tolong lepaskan tangan umi dari telinga anak genteng umi ini, umi tidak malu dilihat oleh menantu umi yang cantik." Gus Adnan berbicara pelan dengan sang ibu, dan berusaha melepaskan jeweran.
Umi Ayu menghela nafas panjang dan menatap sang anak dengan tajam. "Setelah pulang dari Jakarta, kamu akan tetap umi hukum karena sudah berani pergi tanpa memberitahu Umi dan Abi."
Gleg… Gus Adnan menelan ludahnya kasar dan menatap sang umi dengan tatapan horor.
Umi ayu dan Bu Anna pamitan keluar bersama dengan Zayyan dan Syila, mereka ingin memberikan waktu untuk kedua pengantin baru itu, untuk berbicara berdua.
Di dalam kamar terlihat dua orang yang sudah berubah statusnya, mereka berdua merasakan canggung, ini pertama kalinya mereka hanya berdua.
Ehmmm… Gus Adnan berdeham, untuk mengurangi rasa canggung. "Apakah kamu baik-baik saja?"
"Aku sudah baik-baik saja, maaf sudah membuat Abang kuatir." Adiba menundukkan kepalanya, Iya merasakan perasaan bersalah.
Gus Adnan mendekati sang istri dan memegang tangan Adiba dengan lembut. "Apakah aku boleh tahu, kenapa kamu bisa kembali seperti itu, bukankah selama setahun ini kamu baik-baik saja."
Adiba meneteskan air matanya. "Ketika mendapatkan kabar dari Andrian, aku sangat terkejut mereka mengalami kecelakaan, itu semua tidak lepas dari musuh-musuh keluarga Alexander."
Adiba menetap sang suami dengan tatapan sendu. "Rasa benci aku kepada mereka itu masih ada, aku tidak bisa melupakan masa lalu itu dalam sekejap, akan tetapi aku sudah berusaha untuk melupakannya secara perlahan-lahan."
Gus Adnan menghapus air mata sang istri dengan lembut dan membawa Adiba dalam pelukannya. "Kita akan sama-sama belajar, aku janji akan selalu ada untuk kamu, dan jangan pernah ada rahasia diantara kita."
Deg…
Deg…
Deg…
Jantung Adiba berdetak kencang mendengar ucapan sang suami. "Maaf Gus aku belum bisa untuk terbuka sama kamu, nanti saat waktunya tiba aku akan mengatakan semuanya." Batin Adiba.
Dalam pelukan sang suami, Adiba merasakan bahagia, damai dan merasa dilindungi. Adian memeluk Gus Adnan dengan erat. "Maaf dan terima kasih."
Gus Adnan hanya tersenyum mendengar ucapan sang istri, perasaan Gus Adnan sangat bahagia, senang, tentram, dan damai, memandang wajah sang istri dan apalagi dalam pelukannya, wah…tidak bisa dijabarkan lagi perasaannya.
__ADS_1
Cup…
Gus Adnan mencium kening Adiba, dan tersenyum kemenangan.
Adiba yang terkejut mendapatkan ciuman mendadak dari sang suami, refleks memukul dada Gus Adnan.
"Aww…sakit sayang." Gus Adnan pura-pura sakit untuk menjahili adiba.
Melihat sang suami kesakitan Adiba merasa bersalah. "Maaf, Abang juga sih yang salah karena mencuri ciuman pertama aku. " Adiba cemberut.
Gus Adnan berusaha untuk tidak tertawa melihat tingkah laku sang istri yang terlihat imut. "Kita sudah halal sayang, bahkan untuk malam pertama pun bisa kita lakukan. Gus Adnan mengedipkan matanya.
"Iya aku juga tahu kita sudah halal, tetapi tetap harus izin dulu sama aku." Adiba tetap kukuh dengan pendiriannya dan menyilangkan kedua tangannya diatas dada.
"Hahaha… oke Abang akan izin dengan istri abang yang cantik ini," ucap Gus Adnan terkekeh.
Gus Adnan melihat ke arah jam yang sudah menunjukkan pukul 11:00. "Kita shalat isya berjamaah dulu ya, setelah ini baru kita istirahat, pasti kamu sangat lelah mengurus semuanya."
Ini pertama kalinya mereka shalat berjamaah setelah sah menjadi pasangan suami istri. Mendengar Gus Adnan membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an dengan suara yang sangat indah dan merdu, membuat hati adiba menjadi tenang dan bahagia, karena Allah telah memberikan seorang jodoh yang tidak pernah adiba bayangkan selama ini. Adiba meneteskan air matanya.
Waktu dulu Adiba hanya meminta satu permohonan kepada Allah yaitu, mendapatkan seorang laki-laki yang tulus mencintainya, dan yang lebih penting selalu ada disaat Iya dalam kesulitan dan kebahagiaan. Sekarang Allah sangat dengannya, bukan hanya diberikan suami yang baik, akan tetapi juga mendapatkan mertua dan adik ipar yang sangat baik dan mereka tulus menyayanginya.
Adiba juga mendapatkan dua orang anak yang Sholeh dan Sholehah. Untuk sekarang Adiba tidak meminta apapun lagi, iya hanya berharap orang-orang yang disayanginya selalu dalam lindungan Allah.
Melihat Gus Adnan yang sudah selesai berzikir, Adiba dengan cepat menghapus air matanya.
Setelah sholat mereka sedang berbaring di atas kasur dan saling berhadapan. "Sayang apakah aku boleh berbicara."
"Apa yang ingin Abang bicarakan." ucap Adiba.
"Ini tentang….
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…
__ADS_1