
Di taman ndalem Adiba Ning Kinan dan Andrian sedang duduk bersama seraya memperhatikan Zayyan dan Syila yang bermain.
"Andria," panggil Adiba.
"Ada apa?" tanya Andrian.
"Kamu selidik tentang keluarga ustadzah Zulaikha, dan apabila mereka berniat ingin berbuat jahat dengan pondok pesantren, maka kita dapat mengalahkan mereka," perintah Adiba.
"Aku juga ingin bilang kepada kalian berdua, kedua orang tua ustadzah Zulaikha adalah salah satu donatur disini dan salah satu pengusaha yang sukses, aku harap Abang Andrian berhati-hati," pinta Ning Kinan.
Adiba hanya bisa tersenyum dengan perhatian Ning Kinan kepada Andrian. Adiba juga sudah mengetahui bahwa yang akan menjadi calon suami Ning Kinan adalah Andrian. Adiba juga kagum dengan keseriusan Andrian, karena Andrian setiap hari selalu belajar tentang agama, bahkan sekarang Andrian sudah hafal bacaan untuk shalat dan beberapa surah pendek.
"Andrian, jika kamu tidak mampu melakukan itu, maka mintalah bantuan Abang Kenzi dan Kenzo, aku sangat yakin, mereka pasti akan bekerja sama dengan perusahaan Alexander," ucap Adiba.
"Baik akan saya lakukan yang terbaik, saya permisi, Assalamualaikum." Andrian berjalan pergi.
"Wa'alaikum salam,"
Setelah kepergian Andrian, Adiba dan Ning Kinan menemani Zayyan dan Syila bermain.
***
Adiba sudah merencanakan semuanya dengan matang, Adiba sudah mempunyai firasat bahwa kedua orang tua ustadzah Zulaikha pasti akan datang.
Adiba juga sudah mengatakan kepada sang suami dan pak Kyai, maka dari itu mereka tenang-tenang saja.
"Bagaimana pak Zainal, apakah ada sesuatu yang terjadi, sehingga membuat anda berkeringat," Adiba tersenyum menyeramkan.
"Siapa kamu sebenarnya, kenapa kamu dekat dengan keluarga Alexander, apa hubungan kamu dengan mereka?" tanya pak Zainal bergetar.
"Anda tidak perlu tahu, apa hubungan saya dengan mereka, yang jelas anda sekarang tidak akan mendapatkan apa-apa, dan untuk uang pemberian anda untuk pondok pesantren As-Salam ini, akan suami saya kembalikan," ucap Adiba tanpa beban.
"Ooch satu lagi, saya hampir lupa, sebentar lagi pak polisi akan datang menjemput anak tersayang bapak," ketus Adiba.
Ustazah Zulaikha yang mendengar polisi, kembali bergetar dan ketakutan.
Adiba mendekati ustadzah Zulaikha dan berbisik di telinganya. "Selamat menikmati fasilitas yang ada di penjara, aku tahu tentang kematian Almarhum istri suami aku, ini semua karena rencana kamu sendiri." Adiba tersenyum licik.
__ADS_1
"Jangan pernah merasa di di atas, sombong, dan bisa melakukan apapun dengan uang. Tidak semua hal bisa dilakukan dengan uang, seperti cinta, tidak bisa diukur dengan uang. Kamu adalah wanita yang licik dan sombong hanya karena kamu memiliki orang tua yang kaya, tapi lihat sekarang, gara-gara perbuatan yang kamu lakukan orang tua kamu juga kena imbasnya. Makanya cari dulu siapa lawan kamu," pesan Adiba.
Tidak lama para polisi datang, menangkap ustadzah Zulaikha, bersama dengan ayahnya, karena perbuatan mereka sendiri.
Gus Adnan menatap sang istri dan memeluknya. "Aku selalu bangga sama kamu, istri mas memang hebat, mas semakin cinta dengan istri cantik mas ini, cup." Gus Adnan mencium kening Adiba.
Adiba tersenyum malu, karena Gus Adnan menciumnya di depan banyak orang. "Mas aku malu." rengek Adiba.
"Hahaha, istri mas lucu benget sih, pengen dikurung aja di kamar." canda Gus Adnan seraya tersenyum bahagia.
Adiba memukul dada Gus Adnan, dan cemberut. "Aku kesal sama kamu mas!"
"Tapi mas sayang sama kamu, mas izin dulu ya pergi bersama dengan Andrian, mengurus ini dulu, agar cepat selesai, setelah ini kamu langsung istirahat jangan begadang." Gus Adnan mengusap lembut kepala Adiba.
Setelah kepergian sang suami, Adiba kedua mertuanya dan adik ipar kembel ke ndalem, begitu juga dengan ustadz, ustadzah, santri dan santriwati mereka kembali ke kamar masing-masing.
Untuk hubungan Adiba dan Gus Adnan, semua orang yang ada di ruang itu menerima hubungan Gus Adnan dan Adiba, mereka tahu Adiba lah yang terbaik untuk menjadi istri Gus Adnan. Mereka sadar hanya Adiba yang pantas untuk menjadi menantu Pak Kyai Hamza, karena Adiba dengan hati yang ikhlas dan tulus menyelamatkan nyawa pak kyai Hamza, tidak semua orang bisa melakukan perbuatan seperti Adiba itu.
***
Adiba sekarang lebih peka terhadap sekitarnya, Iya tidak ingin kejadian seperti itu kembali. Adiba tahu setiap orang yang berumah tangga pasti akan menghadapi berbagai cobaan, dari segi orang ketiga, harta, rasa yang mulai jenuh, dan lainnya, maka dari itu Gus Adnan dan Adiba banyak belajar tentang rumah tangga kepada orang tua Gus Adnan, dan yang paling penting adalah, kejujuran, terbuka dalam hal apapun, dan menyelesaikannya dengan kepala yang tenang dan dingin.
Detik, menit, jam satu hari, seminggu dan sebulan, hari ini adalah hari bahagia Adiba, karena Adiba telah menyelesaikan sekolahnya.
"Istri mas sangat cantik." Puji Gus Adnan seraya mencium kening Adiba.
Adiba memakai pakaian berwarna biru dengan kerudung yang senada, dan Adiba juga mengoleskan wajahnya dengan make-up tipis, karena itu keinginan Gus Adnan. Gus Adnan tidak suka Adiba dililit oleh banyak orang, dengan mek-up yang tipis saja Adiba sudah sangat cantik, jika hari ini tidak hari kelulusan Adiba, maka Gus Adnan akan mengurang Adiba di dalam kamar saja.
"Terima kasih suamiku yang tampan ini." Adiba juga membalas ciuman sang suami di pipinya.
"Apakah kamu bahagia," ucap Gus Adnan.
"Kenapa mas tanya seperti itu?" tanya Adiba.
Gus Adnan menatap sang istri dengan lembut dan mengusap lembut pipi putih Adiba. "Mas tahu kamu pasti ingin kedua orang tua kamu juga hadir di hari kebahagiaan kamu, maka dari itu mas tanya sama kamu, bagaimana perasaan kamu sayang?"
Adiba memeluk sang suami dengan erat. "Aku tidak tahu, apakah aku sudah bisa berdamai dengan mereka, tapi di hati kecil ini, selalu mengharapkan mereka, bagaimanapun juga aku adalah anak adalah anak kandung mereka, sampai kapanpun tidak akan berubah." Adiba mengeluarkan air mata.
__ADS_1
"Andai mereka datang, apakah kamu bisa berbaikan dengan mereka? mas tidak pernah memaksa kamu sayang, hanya saja mas tidak ingin istri mas dianggap durhaka, bagaimanapun juga mereka adalah orang tua kamu," ucap Gus Adnan lembut.
Adiba tersenyum lembut. "Terima kasih banyak, kamu selalu ada untuk aku, dan memberikan nasehat untuk aku menjadi lebih baik."
"Sekarang sudah mau mulai acaranya kita pergi sekarang, pasti mereka sudah menunggu di bawah." Gus Adnan memegang tangan Adiba dengan lembut dan berjalan ke bawah.
"Abi, umi," teriak Zayyan dan Syila.
"Masya Allah anak-anak umi cantik dan tampan." puji Adiba seraya mencium kening kedua anaknya begitu juga dengan Gus Adnan melakukan hal sama.
"Iya pasti dong kami pasti cantik dan tampan, karena kami anak Abi dan Umi." Syila memeluk Adiba dengan erat.
"Sudah puji-pujiannya, ini sebentar lagi acaranya akan dimulai," ucap Umi Ayu lembut.
Mata Gus Adnan berkaca-kaca ketika melihat sang istri maju ke atas panggung, Gus Adnan sangat bangga dengan sang istri, Adiba mendapatkan nilai tertinggi, dan juara pertama, dengan kesibukannya sebagai seorang istri dan mempunyai dua anak, Adiba tetap berusaha untuk mempertahankan nilainya.
Pak Kyai dan Bu nyai juga sangat bangga dengan pencapaian Adiba selama ini.
Acaranya berlangsung dengan lancar dan sukses, Adiba sekarang berfoto bersama dengan sang suami dan kedua anak-anaknya.
Ketika Adiba sedang asik berbicara dengan teman-temannya, tiba-tiba ada yang memanggil Adiba.
"Adiba,"
Adiba berbalik kebelakang dan
Deg…
Deg…
Deg…
Bersambung
Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰
Salam kenal semua…
__ADS_1