Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba

Setitik cahaya kebahagiaan untuk Adiba
Kemarahan Umi Ayu


__ADS_3

Adiba memegang pipinya yang memerah karena ditampar oleh ibunya Ning Farah. Semua orang yang melihatnya sangat terkejut karena kejadian itu begitu cepat.


Gus Adnan langsung memeluk sang istri dan mengusap dengan lembut pipinya Adiba. "Kamu tidak apa-apa sayang?"


"Aku tidak apa-apa mas, tapi perih," cicit Adiba.


Umi Ayu yang melihat menantunya ditampar langsung menampar pipi ibunya Ning Farah.


Plak… plak… dua kali tamparan keras diberikan oleh umi Ayu kepada ibunya Ning Farah. "Kamu berani sekali menampar putri saya, mau kamu itu apa!"


"Saya hanya ingin melampiaskan marah yang selama ini saya tahan, ini semua terjadi karena perempuan itu!" teriak ibunya Ning Farah.


"Maksudnya apa?" tanya umi Ayu tidak mengerti.


"Ini semua gara-gara menantu anda ini, jika kamu tidak menikahkan Adnan dengan wanita itu, anak saya tidak akan dipenjara seperti ini," bentak ibunya Ning Farah.


"Kamu tidak sadar siapa yang dulu meninggalkan anak saya dengan kedua bayi yang baru saja dilahirkan itu, kamu harusnya beruntung saat itu anak saya dengan sukarela mau merawat anak anda, padahal anak saya sudah tahu jika anak ibu mengandung anak pria lain," ucap umi Ayu tegas dengan raut wajah memerah karena menahan amarahnya.


"Tapi tetap saja, jika Adnan tidak menikah dengan wanita itu, maka dengan senang hati pasti Adnan akan menerima Farah kembali, karena Adnan sudah menganggap anak-anak itu seperti anak kandungnya sendiri," ucap ibunya Ning Farah dengan pedenya.

__ADS_1


"Maaf tante, saya ingin meluruskan sedikit, apakah saya dulu menerima anak anda dengan senang hati, maka jawabannya adalah tidak, tapi karena melihat umi yang selalu membela Farah, maka aku tidak bisa melakukan apa-apa karena rasa sayang aku sangat besar kepada Umi, dan satu hal lagi yang harus anda tahu, anak anda lah yang telah meninggalkan saya dengan kedua anaknya yang masih kecil, setelah Farah melahirkan saya sudah menandatangani surat cerai dan menalak nya, ini semua atas dasar keinginan putri anda,"


"Saya juga tahu anda sebagai seorang ibu pasti akan membela anak-anaknya, tapi anda harus melihat dari sikap anak itu terlebih dahulu, jika anak kita yang salah maka suruhlah Dia untuk meminta maaf dan apabila jika anak anda tidak bersalah, maka bicarakanlah dengan baik-baik dan berikanlah nasehat, jangan anaknya sudah salah masih saja dibela, nantinya saat Dia dewasa akan menjadi anak yang manja, dan semua keinginan harus selalu di kabulkan," ucap Gus Adnan panjang lebar.


"Apa yang kakak katakan itu semuanya benar, tapi jika ibu kandungnya seperti itu, tetap saja anaknya tidak akan pernah merasakan bersalah, karena selalu dibela, ya maklum saja sih, anak satu-satunya yang sangat disayangi, sehingga anak-anak yang lain terabaikan," ceplos Ning Kinan.


Pak kyai Hasan setuju dengan ucapan Ning Kinan, selama ini istrinya selalu saja membela Farah, sampai-sampai istrinya juga ikut terseret dalam kejahatan sang anak, tapi baiknya keluarga Gus Adnan tidak melaporkan istrinya. Pak kyai Hasan menatap istrinya dengan tatapan kecewa berkali lipat, sedih, merasakan perasaan bersalah dan malu dengan keluarga pak kyai Hamza, Dia sudah menasehati sang istri sebelum kesini untuk tidak membuat keributan, tapi hasilnya tetap saja, sang istri tidak bisa menjaga emosinya.


Tapi berbeda dengan ibunya Ning Farah, Dia semakin marak ketika Gus Adnan menesehatinya. "Kamu tidak usah menceramahi saya, saya sudah tahu mana yang baik dan tidak baik, jadi jaga sikap kamu kepada yang lebih tua!" bentak ibunya Ning Farah.


"Kamu ya, bukannya sadar tapi masih saja berani membentak anak saya, saya tidak terima jika kamu terus-menerus seperti ini, sebaiknya kamu pergi sekarang juga, jangan sampai aku berbuat jahat sama kamu," ucap umi Ayu marah.


Abi Hamza memeluk sang istri, agar tidak melewati batas, Abu Hamza sangat mengenal sikap sang istri, jika Dia sudah marah, maka sifat asli umi Ayu akan keluar.


"Pak kyai Hasan, saya mohon kepada anda untuk segera membawa istri anda keluar dari rumah ini, saya takut nanti mereka akan semakin memanas," pinta Abi Hamza.


Mendengar permintaan pak kyai Hamza, Pak Kyai Hasan langsung menarik sang istri untuk pulang, Ibunya Ning Farah masih saja mengomel setiap jalan.


Setelah melihat kepergian kedua orang tuanya Ning Farah, mereka langsung duduk di kursi untuk menenangkan hati.

__ADS_1


"Umi sangat hebat, aku semakin sayang dengan umi," puji Ning Kinan.


"Aku tidak pernah menyangka umi bisa marah juga, aku yang melihatnya saja sudah merasakan ketakutan," ucap Gus Hanan.


"Maka dari itu jangan membuat umi kalian marah, Abi tidak akan membela kalian berdua," ucap Abi Hamza bercanda.


"semoga mereka tidak kembali lagi kesini, sangat merepotkan," guman Gus Hanan.


"semoga saja, yang terpenting pak kyai Hasan sudah menandatangani surat perjanjian itu, jadi beliau akan berpikir dua kali jika ingin menginjakkan kakinya kesini," ucap Ning Kinan.


"bagaimana dengan keadaanmu nak, apakah baik-baik saja?" tanya umi Ayu lembut.


Adiba tersenyum lembut. "Aku baik-baik saja ibu, tamparan seperti itu tidak akan membuat aku terluka," ucap Adiba tenang, agar mereka tidak khawatir dengan keadaannya.


Mereka berbicara dengan tenang, membahas tentang acara yang akan dilaksanakan besok pagi, dan berbagai macam lainnya.


"umi,"........


Bersambung

__ADS_1


Hello semua…. Silahkan like comment and vote dan beri rating 5 kakak ❤️🥰🥰


Salam kenal semua…


__ADS_2