Setitik Harapan

Setitik Harapan
Episode 01


__ADS_3

Cahaya mentari menembus tirai kamar milik seorang gadis yang masih terlelap dibalik selimutnya. Dia berjingkat kaget ketika menyadari kilau cahaya matahari yang menyelinap masuk dan matanya yang masih berkabut melirik jam dinding yang telah merangkak pukul delapan pagi.


"Astaga, aku kesiangan!" Segera gadis itu menyibakkan selimutnya asal lalu menyambar handuk mandi yang tergantung dibelakang pintu.


Gadis berparas cantik itu bernama Raihana. Dia putri tunggal dari keluarga sederhana. Sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, Hana hobi mengikuti balap liar itupun dilakukannya secara diam-diam tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya. Hingga sebuah kecelakaan membuatnya jera walau hanya sesaat.


Terdengar derap langkah kaki menuruni anak tangga. Sang ibu yang sedang sibuk di dapur menyiapkan sarapan pun menoleh.


"Pagi Mam, Hana langsung berangkat ya?" Hana sambil menggulung lengan bajunya.


"Sarapan dulu sayang, ini sudah mami siapkan?" bujuk Mona yang sibuk menyiapkan sarapan untuk putrinya.


"Kesiangan nih, Mam. Maaf ya, Mam."


Setelah mengecup pipi ibunya, Hana mengambil helm di atas rak sepatu. Mona menggelengkan kepala, sambil berkata, Hati-hati dijalan, sayang." Hana membalas dengan senyuman.


Jarak kampusnya lumayan jauh dari rumah tapi gadis itu sudah terbiasa mengendari motor sport kesayangannya maka dia tak perlu merasa cemas. Dia menambah kecepatan motornya, meliuk ditikungan dengan handal serta berani mendahului kendaraan besar didepannya. Jika itu wanita feminim mungkin akan menggigil ketakutan bila dibonceng dengan cara seperti itu.


Akhirnya Hana tiba dikampus. "****! lima menit lagi Bu Indri masuk."


Setelah memarkirkan motornya, gadis itu berlari disepanjang koridor kampus. Karena tak mawas diri, dia menabrak seseorang yang sedang membawa kotak barang, mungkin dia baru saja dipecat atau apa gadis itu tidak peduli.


Sambil memengang kepalanya yang terasa pening, Hana memandang seorang pria berkaca mata, dari penampilannya dia terlihat seperti dosen pada umumnya. Hanya saja pria yang didepannya ini memiliki daya tarik yang kuat untuk memikat kaum hawa.


"Hei, Kau baik-baik saja. Apa perlu ke ruang kesehatan? Aku akan mengantarmu jika perlu."


Hana tersadar dari lamunannya akan pria yang baru saja ditemuinya.

__ADS_1


"Maafkan saya, Pak. Ehm, saya baik-baik saja dan saya sedang buru buru, jadi saya permisi sekarang" jawab Hana berlalu pergi.


"Gadis yang aneh."


Akhirnya, Hana bisa mengikuti materinya Bu Indri sampai selesai. Tiba-tiba seseorang menepuk pundak Hana dan gadis itu menoleh.


"Kali ini apalagi alasanmu kesiangan, hem?" tanya sahabat Hana, Intan.


"Begadang. Eh, kunci motorku dimana ya?" tanya Hana pada dirinya sendiri. Sedangkan Intan menautkan kedua alisnya tidak mengerti.


"Coba cari dikantong celanamu. Masih muda tapi sudah pikun."


"Sumpah, kalau ada buat apa sampai bongkar tas begini?" sahut Hana mulai panik.


"Barangkali masih menancap di motormu, ayo kita cari di tempat parkir" seru Intan mengingatkan.


Tiba-tiba Hana menatap horor sahabatnya. Intan yang tidak tahu-menahu menjadi beringsut menjauh.


"Orang itu! Pasti dia yang mengambilnya" ucap Hana penuh yakin.


"Maksudmu kunci motormu ada pada seseorang?" Hana mengangguk mengiyakan. "Bagaimana bisa?" Hana tak menjawab dan segera membereskan buku-bukunya.


Melihat Hana mendahuluinya keluar, Intan bertanya, "Kau mau kemana? Kantin bentar yuk, Han?"


"Aku mau cari orang itu. Nanti aku menyusul ke kantin, oke?"


"Aku tungguin di kantin aja kalau gitu?"

__ADS_1


Hana mengangguk lalu mencoba mencari kunci motornya yang hilang ditempat dirinya tidak sengaja menabrak seseorang tadi pagi. Sayangnya, tidak ada apapun disana. Hana semakin gelisah karena itu kunci satu-satunya dan tidak ada duplikatnya.


***


Hana berjalan gontai menuju kantin kampus yang lumayan ramai. Dari jauh terlihat Intan sedang melambaikan tangan ke arahnya.


"Hei, bagaimana? Kau sudah menemukan kunci motormu?" tanya Intan saat sahabatnya itu mendaratkan bokongnya. Hana membalas dengan gelengan kepala.


Intan menyodorkan semangkuk bakso yang telah dipesan sebelumnya. Beruntung sahabatnya itu menepati janji jika tidak, dua mangkok bakso urat terpaksa Intan sendiri harus menghabiskannya.


"Makan dulu, setelah itu kita cari orang yang mengambil kunci motormu?" bujuk Intan.


"Kau benar juga. Karena kunci motor aku lupa makan."


"Haih, Oh ya. Apa kau dengar bahwa ada dosen baru di kampus kita. Sebagian teman kita pernah bertemu dengannya. Katanya sih, wajahnya sangat tampan. Persis Oppa yang di Korea itu loh, Han. Sayangnya aku sendiri juga belum pernah ketemu dengan dosen ganteng itu."


Hana sibuk mengunyah bakso urat yang dihadapannya. Pikirannya kembali saat kejadian tadi pagi.


"Mungkinkah orang itu yang menemukan kuncinya? lalu kenapa tak mengembalikannya padaku? Ah, Bagaimana jika benar pas waktu itu dia dipecat dan secara tak sengaja menemukan kunci motorku dan dibawa pergi bersamanya? terus aku harus mencari kemana lagi orang itu?"


"Ahhh!" teriak Hana.


"Kau kenapa Hana? Kenapa kau berteriak?Lihat semua orang memperhatikanmu?" Ujar Intan.


Hana menatap sekilas warga kantin yang sedang menikmati makanannya. Tapi satu orang yang membuat Hana penasaran.


"Aha! Itu dia orangnya!"

__ADS_1


__ADS_2