Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 18


__ADS_3

"Mama mu menyetujui kalau aku menjadi tunangan mu".


***


Setelah mengecup pipi Reymond, Silvia meminta ijin pulang. Katanya ada sesuatu yang mau diurus. (Yang suruh loe kesini juga siapa, greget liatnya)


Perkataan Silvia dia tepis jauh-jauh dari pikirannya. Dia teringat sesuatu, Hana !! Ya...gadisnya pasti berpikir yang tidak-tidak. Segera Reymond berlari ke ruangan sekertaris. "Ternyata dia masih fokus dengan pekerjaannya. Raut wajahnya tak menampakkan kesedihan? Biasa aja. Apa dia tidak cemburu dengan kejadian tadi? Tapi kulihat tadi buru-buru keluar? Mungkinkah dia cemburu padaku?" Reymond masih asyik dengan dialog kebathinannya. Sampai-sampai Hana menghampirinya pun ia setia mematung di depan ruangannya.


"Ada yang bisa saya bantu pak?"


Suara Hana menyadarkan Reymond. "Ah..iya apa hari ini ada jadwal rapat?" Tanya Reymond gelagapan.


"Hari ini tidak ada jadwal rapat pak. Senin sekitar jam sepuluh pagi, ada klien penting yang harus bapak hadiri" Hana membacakan agendanya dan setengah berbisik. "Untuk rapat pribadi, temui saya di basemant. Kita akan pergi ke suatu tempat."


Reymond mendadak horor, terasa aura gelap di sekeliling tubuh sekertarisnya itu.


***


Jam 17.00


Andai Hana seorang artis mungkin dia adalah seorang artis profesional yang mampu menyembunyikan sesuatu dibalik senyuman, padahal didalam hati sudah bergemuruh emosi dan ingin menumpahkannya. Namun ia tahan untuk sesaat.


Tok tok tok


"Masuk"


"Pak...sudah waktunya pulang, bapak sudah siap turun?" Tanya Hana.


"Iya"


"Kalau begitu saya permisi."

__ADS_1


"Tunggu dulu..sebenarnya kamu mengajak saya kemana."


"Bapak nanti juga tahu" berbalik dan menutup pintu.


Mereka berdua berjalan beriringan. Baik Hana maupun Reymond sama-sama diam membisu. Sesampainya di area parkir, Hana menaiki motornya.


" Tunggu apa lagi pak cepet naik."


"Apa kamu gila, mau ditaruh dimana muka saya, seorang CEO dibonceng sama perempuan. Sekertarisnya sendiri pula.


(Dikenalpot motor saya pak...😂)


Pada akhirnya Reymond terpaksa duduk dibelakang Hana.


***


Motor Hana berhenti di sebuah gedung olah raga, Reymond dan Hana masuk ke gedung tersebut.



"Kenapa kita kesini?" Tanya Reymond dari ruang ganti setelah berganti pakaian kantornya dengan baju olah raga.


Dimata Hana, tubuh Reymond seolah ada cahaya berkabut putih mengelilingi tubuh kekarnya. Beberapa orang yang wanita yang berlatih tinju pun menatap lapar seakan ingin memangsanya hidup-hidup. Cih!!. Hana tak ingin terpengaruh oleh kharisma yang diciptakan oleh Bosnya itu.


Reymond hendak memasangkan sarung tinjunya berwarna hitam. "Sepertinya bapak tidak perlu menggunakan sarung tinju itu. Saya lihat bapak cukup berkompeten dalam bela diri, bukan?". Senyum sinis terulas dibibir Hana. Biar ku jadikan samsak tinju ku, batinnya.


Reymond hanya mengerutkan dahinya tak mengerti dari mana wanitanya itu tahu. "Dari mana kamu tahu saya bisa bela diri ? Setiap lelaki pasti bisa berkelahi tanpa harus belajar bela diri bukan? tanya Reymond kembali.


"Ya, aku tak sengaja melihat piala dan medali yang terpajang dikamar anda dua tahun lalu. Dan sebaiknya kita masuk ke dalam ring itu." Hana menunjuk arena tinju yang kosong, menerobos sela sela tali pembatas ring dan diikuti Reymond dibelakangnya.


"Oh, jadi kamu berani mengintip kamar lelaki, hem" mulai berlompat ringan ala ala petinju dunia. Dan mengarahkan tinju nya ke arah Hana dengan tangan kosong tanpa sarung tinju tentunya. Dan Hana reflek menghindar ke kiri. "Sepertinya kamu punya potensi dibidang olah raga tinju Hana, aku cukup terkesan dengan cara menghindarmu."

__ADS_1


Hana mulai tersulut emosi. "Terima kasih pujianmu, tapi kali ini biar ku berikan hadiah yang pantas untukmu." Kaki kanan Hana menendang keras ke samping pinggang Reymond tanpa perlawanan.


Bough !!


"Skor 1-0 untuk Hana - Reymond" teriaknya.


Sekali lagi meninju perutnya dan Reymond berhasil menghindar. Tinjuan dikerahkan bertubi-tubi dari pihak Hana, meski tujuan utamanya mengajak Reymond kesini adalah untuk menjadikannya samsak emosi. Tapi lagi-lagi lelaki itu dengan lihainya menghindari tinjuan yang diberikan Hana. Seakan-akan Hana memukul angin. Hana mulai kesal, nafasnya tersengal tak karuan. Bulir-bulir keringat mulai membanjiri pelipisnya.


Sekilas kejadian dikantor tadi pagi berputar bak kaset film porno dikepalanya. Kembali emosi dalam dirinya meluap, sorot mata penuh kemarahan. Reymond yang menyadari perubahan sikap Hana mulai mencoba mengalah tapi tidak dengan Hana yang sekarang bergejolak api didalam dirinya. Sebuah Uppercut mampu membuat Reymond tersungkur jatuh sambil memegang perutnya. Hana naik ke atas perut Reymond, mengarahkan tinjunya bertubi-tubi yang dihujamkannya ke tubuh Reymond.


Reymond mencoba menangkisnya, tapi sayang sekali ibarat pertarungan tanpa wasit yang melerai, Reymond pun ikut emosi mendapat pukulan tak sewajarnya itu. Dia mencekal kedua tangan Hana, memasang wajah seramnya yang merah padam supaya Hana berhenti melawan.


Keduanya berguling didalam ring tinju, sebagian orang yang berlatih ikut menatap ke arah ring itu hanya menggelengkan kepala.


"HANA !! STOP IT ! Teriak Reymond menyadarkan Hana yang masih kuat dengan tinjunya. Hana tak mengindahkan perkataan Reymond. Kali ini dilepasnya sarung tinju yang membalut jemari lentiknya dan melemparnya ke wajah Reymond dengan marahnya.


Didalam diamnya ia marah pada Reymond. Kenapa dia tak mengerti perasaannya? Kenapa memberikan dirinya setitik harapan jika Reymond menikmati cumbuan wanita jalang itu?  Kenapa...kenapa...kenapa !!!


Teriakan dalam hatinya berubah menjadi suara isakan tangis. Tangisan yang mengandung luapan rasa tak terperi. Keduanya terbaring di lantai arena ring itu dengan nafas yang sama-sama tersengalnya.


Lengan kirinya ia tekuk untuk menutupi kedua matanya. Air mata meluncur hangat dikedua pipinya. Setidaknya pelampiasan ini sedikit mengurangi beban dalam hatinya.


"Hana !! Maafkan aku. Aku tau kamu marah denganku dengan kejadian tadi pagi. Tapi kumohon, percayalah padaku. Itu tidak seperti yang kamu li-" penjelasannya terpotong. Tidak ada panggilan formal diantara keduanya.


PLAKKK


Reymond mematung, matanya melotot tak percaya bahwa Hana telah menamparnya.


"CUKUPPPP !!! Teriaknya.


"Anggap itu sebagai jawaban saya Mr. Reymond.

__ADS_1


Hana segera turun dari arena tinju meninggalkan Reymond seorang diri. Ini yang kali kedua ia tersakiti, entah esok apakah masih ada harapan untuknya bahagia.


__ADS_2