Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 39


__ADS_3

"Selamat datang selamat berbelanja" sapa seorang wanita yang berprofesi sebagai kasir minimarket.


"Saya mencari seseorang" tanya seorang pria bertubuh tinggi besar.


"Maaf tuan, kami tidak menjual orang disini" jawab kasir itu.


"Nona, saya tidak sedang bercanda dan kalian geledah area gudang, cepat !"


_________________❤❤________________


Salah seorang pria berjas hitam nampak menggeledah seluruh isi gudang yang ada di minimarket itu dan seorang lagi menuju ke toilet barangkali gadis yang dicarinya bersembunyi disana. Namun tanpa sepengetahuan dua orang pria itu, seorang gadis mengangkat sebuah kardus diapers melewatinya tanpa curiga.


"Bos tak ada siapapun didalam gudang" seru salah seorang pria berjas hitam itu.


"Di toilet juga tidak ada bos, sebaiknya kita cari tempat lain bos" seru pria lainnya.


"Ah...sial !! dasar wanita brengsek" umpat pria yang disapa dengan sebutan bos itu. Hana yang sedang berpura-pura menyusun barang di rak menunduk takut jika saja para pria itu mengenali wajahnya.


"Sstt....nona! bagaimana mereka tak mengenalimu hanya dengan memakai seragam kerja milik temanku? aku pikir mereka rabun atau memang mereka bawahan bodoh sampai tak mengenali mu yang cantik ini" bisik seorang wanita yang berada diarea kasir itu setelah dipastikan para pria berjas hitam itu pergi menjauh.


"Apa kau berharap terjadi kerusuhan ditoko mu? jika aku gegabah maka tempat kerjamu besok hanya tinggal menjadi abu" ucap Hana menakut-nakuti lawan bicaranya.


"Apa seserius itu___" ucapan pegawai kasir terpotong karena adanya konsumen yang datang ke tokonya. "Selamat datang selamat berbelanja" sapanya. Si konsumen tak menjawab sapaannya dan itu tak membuat pegawai kasir luntur untuk memberikan SOP dan pelayanan yang terbaik untuk konsumennya.


Pria yang mengaku konsumen itu mengedarkan pandangannya ke dalam minimarket itu tak lama orang yang dicari muncul dengan mengenakan jaket hitamnya. "Nona...ikutlah dengan ku. Di sini anda tidak aman" ucap pria asing itu.


Hana memperhatikan penampilan seseorang yang dihadapannya. " Nona...kita tidak punya banyak waktu dan mereka akan menemukan kita" ucap pria itu.


"Katakan siapa yang mengutusmu"


"tuan Mitchel nona..."


"Mitchel?" tanya Hana memastikan


"Yes miss..." jawab pria itu. Hana melirik sekilas pria itu mempunyai tatto scorpio ditelapak tangannya. "Mari nona kita harus cepat pergi dari sini" sambungnya.


"Baik tapi aku harus menghubungi__" ponsel Hana tiba-tiba direbut paksa oleh pria bertatto itu. "Hei, kembalikan ponselku, aku ingin menghubungi seseor__mmm" sebelum menyelesaikan ucapannya mulut Hana dibekap oleh seseorang dari belakang dengan sapu tangan yang telah ditetesi obat bius. Seketika tubuhnya luruh dan kedua orang pria asing itu membawanya masuk ke dalam mobil.


Seorang dari pria tersebut membongkar paksa ponsel Hana lalu membuangnya ke jalanan.


**


Ridwan terlihat gelisah, pasalnya putrinya belum kembali sejak sore gadis itu meminta ijin bertemu dengan Intan. Pria paruh baya itu telah menghubungi Intan tapi sahabat putrinya itu tak bersamanya setelah bertemu di cafe.


Ridwan semakin cemas karena Reymond tak bisa di hubungi. Tak lama suara ketukan pintu mengejutkannya. "Mungkinkah itu putriku..." batinnya.


Ridwan segera membukakan pintu, tapi..


"Apa Hana sudah sampai dirumah, pi" tanya Reymond mulai cemas.


"Masuklah dulu. Aku pikir putriku bersamamu hingga jam segini belum pulang"


"Ponselnya tidak aktif, tapi dia mengangkat panggilanku sekitar jam sembilan lewat pi setelah itu tidak aktif..." balas Reymond melangkah masuk.


"Aku akan menghubungi polisi" seru Ridwan merogoh ponselnya tapi dicegah oleh Reymond.


"Tapi ini belum 24 jam papi..."


"Kau benar. Bagaimana kalau kita menyusuri komplek sekitar sini barangkali dia terjadi sesuatu dan semoga saja putriku baik-baik saja" Reymond mengangguk setuju.


Di dalam mobil Reymond menghubungi anak buahnya dan tak lama orang diseberang mengangkatnya, "James apa kau sudah menemukannya? apa minimarket! ahh sial !!!"


"Ada apa nak Reymond..." tanya Ridwan cemas.


"Penculiknya sungguh pintar"


"Penculik? maksudmu___Hana diculik?" Reymond mengangguk mengiyakan.


"Papi apa kau kenal keluarga Gavind?"

__ADS_1


"Sepertinya papi pernah mendengarnya, kalau tidak salah dia pemilik sah Industri Kimia Gavind Corp. di New york dan memiliki perusahaan di bidang properti, resort dan perhotelan terbesar di Amerika "


"Papi tahu semuanya...?" tanya Reymond mengalihkan pembicaraan.


"Itu tidak penting. Sekarang kita harus menemukan putriku"


"James sedang melacaknya pi..."


"Jika kau menganggap ini sepele aku akan membatalkan pernikahanmu dengan putriku!" Ancam calon mertuanya. Reymond tercekat "Papi...jika Hana mendengar ini dia pasti akan membencimu"


"Kau mengancamku bocah tengik! kalau kau ingin restuku cepat cari dia"


"Jadi papi belum merestuiku. Aku tak percaya ini" ucap Reymond kecewa.


"Aku hanya merestui putriku tapi kau belum boy..." Ridwan tergelak melihat ekspresi Reymond.


**


Los Angeles, 08.35 am


Tiing...


Suara notif masuk di ponsel Mitchel. Pria tampan dan mapan itu sudah berada dikantornya. Akhir-akhir dia lebih memilih menyibukkan diri dari pada berlarut-larut akan perasaannya yang tak terbalas atau lebih tepatnya perasaan yang belum sempat pria itu ungkapkan.


Suara notif kedua mengalihkan konsentrasinya lalu tangannya meraih benda pipih itu dan membukanya.



Terpampang jelas sebuah image sepasang tangan terikat kencang dengan tali.



Mitchel membuka image kedua nampak sepasang kaki terikat sama seperti image pertama.


"Siapa orang iseng mengirim teror murahan seperti ini, ck!" Ucap Mitchel meletakkan ponselnya kasar dan kembali melanjutkan aktivitasnya yang tertunda. Tetapi tak lama ponsel sang billionare itu kembali berdering. Mitchel mengerutkan keningnya, "Unknown caller" gumamnya.


"Hallo..."


"Jadi itu kau..."


"Benar sekali Gavind.


"Lalu untuk apa kau menyandra seseorang dan mengirimkan fotonya padaku?"


Seeorang diseberang telp itu tergelak. "Bukankah dia tunanganmu, huh? Apa kau tak melihat cincin cantik itu melingkar dijari manisnya"


"Ck! Rolex...aku tak punya waktu bermain-main denganmu. Brengsek__"


"Sekali kau menutup telp ini wanita itu mati !!" ancam Rolex.


Mitchel tercekat. "Wanita? Mungkinkah Febio gagal melindungi Hana?" kata Mitchel dalam hati.


"Wanita siapa yang kau maksud! Bukankah kau sudah mengenalku sejak lama apakah ada wanita yang berada disisiku selain ibuku yang sudah lama meninggal, huh!" ucap Mitchel mencoba tenang.


Rolex adalah sahabat sekaligus pengkhianat yang selalu berdiri disisi Mitchel dengan setia. Namun lambat laun Mitchel mencurigai Rolex telah menusuknya dari belakang. Pria itu iri dengan semua yang Mitchel miliki sehingga dia berani melakukan segala hal licik untuk mendapatkan kemauannya. Tak peduli jika harus mengorbankan nyawa orang tak bersalah sekalipun.


"Baiklah kalau kau tak mau mengakuinya sepertinya anak buah ku salah membawa umpan yang bernama Rayhana itu. Oke bye Mit__"


"Tunggu...siapa kau bilang" Mitchel bangkit dari kursinya dan menatap tajam Febio yang baru masuk ke ruangan Mitchel. Mitchel tak tahu diseberang sana orang itu menyeringai dan puas bahwa target berada dalam genggaman seorang Rolex.


"Kenapa...bukannya tadi kau sendiri tak mengakuinya. Dan aku sendiri tak peduli itu" ucap Rolex acuh. Lalu terdengar Rolex memerintah anak buahnya. "Zayn...tembak wanita itu"


"ROLEX !!! Apa mau mu, huh"


Tut tut tut


"Shit!! Febio... lacak keberadaan Hana. Jika sampai Rolex berani menyetuhnya sehelai rambutnya saja. Aku akan membunuhmu ditempat !!! Mitchel menggeram marah.


Febio tercekat. Selama tiga puluh tahun bekerja dikeluarga Gavind, baru kali ini tuannya sangat marah padanya. "Tuan...apa kau akan kembali ke duniamu yang gelap itu" tanya Febio ragu.

__ADS_1


"Kalau itu bisa menyelamatkannya, kenapa tidak!"


"Kalau begitu saya akan memanggil Gerald untuk__"


"Tidak perlu! Rolex menginginkanku datang sendiri. Dia hanya mengincar harta dan wilayahku saja. Tapi jika sampai pria brengsek itu berani menyentuh Hana. Aku yakin akan membunuhnya dengan kedua tanganku" kata Mitchel dengan sorot mata yang gelap.


"Baik. Saya akan melacak posisi Rolex berada dan tuan__berjanjilah padaku kau kembali dengan selamat" Mitchel menoleh ke arah Febio yang berkaca-kaca. Pria tua yang sudah dianggap seperti ayah baginya selama ini begitu setia menemaninya apapun kondisi Mitchel.


Mitchel menepuk bahu Febio. "Percayalah aku akan kembali dengan selamat" Mitchel menjeda kalimatnya. "Maafkan aku karena berkata kasar padamu. Kau sudah ku anggap seperti ayah keduaku" Febio mengangguk lalu membungkuk untuk undur diri.


**


Santa Anna, Texas


Sementara itu, diperumahan terpencil tampak seorang wanita berbaring meringkuk dengan tangan dan kaki terikat.


"Bagaimana kondisinya Zayn?" tanya Rolex sambil menghisap cerutunya.


"Dia tetap enggan memakan makananya bos"


"Biarkan saja bahkan mati pun aku tak peduli dengan wanita itu. Toh Mitchel tak menganggap wanita itu spesial untuknya" ucap Rolex.


"Lalu kenapa kau tak melepaskannya saja bos jika itu tak membuat Mitchel datang menyerahkan diri" tanya Zayn lagi.


Rolex terdiam. Kepulan asap di udara menunjukkan bahwa pria itu sedang berpikir untuk mencari jalan lain agar targetnya menemuinya. Tak lama senyumnya mengembang, sepertinya ia baru saja mendapatkan sebuah ide cemerlang.


"Aku hanya menunggu mangsa yang lain. Zayn minta Victoria datang menemuiku dan katakan juga bawa perlengkapannya kesini, cepat!" Perintahnya.


Zayn mengerutkan kedua alisnya sejenak lalu mengangguk. "Baik bos saya permisi" ujarnya.


"Aku yakin kau akan peduli dengannya kali ini" gumam Rolex dengan smirk-nya.


**


Jakarta, 04.10 am


Drrrtt....drrttt


"KALAU KAU TAK MENEMUKAN JEJAK HANA JAMES...AKU AKAN MEMECATMU DETIK INI JUGA!!"


"Wow...calmdown dude!"


"Siapa kau?"


"Jika kau ingin melihat kekasihmu, turuti perintahku"


"Siapa kau sebenarnya, huh? tanya Reymond.


"Tenanglah dia aman bersamaku asal kau mau menurutiku"


"Katakan apa yang kau inginkan dariku asal kau tak berbuat macam-macam dengan tunanganku, dasar brengsek!"


Rolex diseberang telp menjauhkan ponselnya dari telinganya karena suara teriakan Reymond. "Wow... that's good news. Wanitamu sangat pandai menggait bos-bos kaya rupanya. Ck! Aku harus memberikan applause padanya ketika dia sudah bangun" Rolex berdehem tanda pria itu kembali serius.


"Aku menginginkan kekuasaan Mitchel Gavind. Temui dia dan pastikan dia mengalihkan seluruh aset kekayaannya atas nama Rolex Mcklan. Jika tidak kau pasti tahu apa akibatnya Mr. Martin" ucap Rolex lalu memutus sambungan telpnya.


Reymond masih menatap ponselnya sambil berpikir lantas pria itu mengusap kasar rambutnya.


"Paman kau baik-baik saja..." tanya Eric. Setelah sekian lama menghilang begitu saja, ya perusahaan yang di New york mengalami masalah mau tak mau Eric harus turun tangan sendiri.


Reymond menoleh, "Aku perlu bantuanmu. Musuh kita kali ini bukanlah musuh sembarangan dan Hana... dia berada ditangan salah satu diantara mafia terkuat di Amerika. Eric aku akan menyelamatkannya kali ini!" Ujar Reymond terdengar frustasi.


Eric nampak terkejut bahwa Hana menjadi tawanan seorang mafia. "Baiklah paman, kapan kau akan pergi aku akan siap menunggu perintahmu"


"Malam ini aku akan menemui seseorang. Mitchel Gavind. Aku akan menyeretnya jika perlu. Siapkan saja keberangkatan kita Eric"


"Baik paman"


"Aku akan menyelamatkanmu Hana tunggu kedatanganku" bathin Reymond.

__ADS_1


___________________❤❤________________


__ADS_2