Setitik Harapan

Setitik Harapan
Episode 10


__ADS_3

Dua tahun berlalu dengan sangat cepat, setelah kejadian yang memalukan dirumah Hana yang berakhir si anak pemilik rumah harus di operasi akibat pecahan kaca. Mereka berdua memutuskan untuk menjalani kehidupan masing-masing.


Hana pindah ke Sidney, Australia bersama kedua orang tuanya, sekaligus menyembuhkan traumanya masa kecilnya yang selalu menghantuinya.


Sedangkan Reymond, pria muda itu harus kembali memimpin perusahaan sang Ayah. Keduanya tidak ada yang saling bertukar kabar, tapi pepatah mengatakan, kalau jodoh bakal nggak kemana? Buktinya mereka bertemu lagi setelah dua tahun lamanya.


Hari ini Reymond berkendara tanpa sopir pribadinya menuju kantor. Ketika memasuki area parkir, ia melihat motor sport yang pernah ia kendarai bersama Hana, gadis yang pernah mengetuk pintu hatinya, meski ungkapan cinta belum tersampaikan.


Setelah memarkir mobilnya, ia mencoba memastikan secara jelas motor gadis pujaannya atau bukan, tetapi nihil baik motor maupun pengendara sudah melesat jauh dari pandangan. Reymond mencari cari disekitar lobi ternyata tidak ada. Mungkinkah hanya halusinasi Reymond, semenjak keputusan Hana untuk menjauhinya, hari - hari terasa redup. Dan semenjak itu, ia hanya menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Reymond juga tak bisa memaksa keputusan Hana, karena mungkin itu akan menjadi keputusan yang terbaik untuk keduanya.


Reymond segera menuju ruang pengawas. Meminta petugas untuk memutar CCTV ke dua puluh menit yang lalu di area parkir khusus motor. Pandangan Reymond fokus pada layar monitor 25 inch itu, seketika matanya terbelalak melihat seseorang datang mengendarai motor sport hitam dan si pengendara berpakaian serba hitam. Semakin penasaran.


Kamera berikutnya menunjukkan bahwa si pemilik motor sport itu menyerahkan sesuatu ke resepsionis. Tidak jelas ciri ciri fisiknya laki laki atau perempuan karena ketika turun dari motornya, si pemilik motor itu tidak melepaskan helm. Tanpa ba bi bu Reymond menuju ke bagian resepsionis untuk  menanyakan langsung siapa seseorang berpakaian serba hitam itu.


"Selamat pagi Tuan Reymond, ada yang bisa kami bantu?" Sapa seorang petugas resepsionis.

__ADS_1


"Apa yang dilakukan seseorang pria berpakaian hitam datang ke kantor saya dua puluh menit yang lalu?" Tanya Reymond yang menduga bahwa yang dimaksud adalah seorang pria.


Petugas resepsionis itu berpikir sejenak dan langsung mengambil berkas beramplop coklat di meja kerjanya.


"Oh ini tuan, hanya menyerahkan berkas lamaran kerja tuan tapi sepertinya nona itu..."


"Apa..nona? Jadi yang menyerahkan berkas ini seorang wanita dan bukan pria? Tanya Reymond terkejut hingga kedua petugas resepsionis itu mengernyitkan dahi mereka tanda tak mengerti.


"Berikan berkas itu, biar saya sendiri yang cek kualifikasinya."


***


Reymond duduk membelakangi meja kerjanya sambil memijit keningnya yang sedikit pusing. Ada rasa rindu yang menggebu serta kebencian yang tak kalah dalam. Dia sedang dilema mendapati berkas yang ia terima dari resepsionis.


Tok tok tok

__ADS_1


Suara ketukan membuyarkan lamunannya. Sekertarisnya meminta ijin masuk. Setelah mengijinkan masuk tanpa beranjak dari posisinya, sekertarisnya mengingatkan bahwa jam sebelas akan ada rapat bersama klien penting hingga berlanjut makan siang.


Sejenak sekertarisnya terdiam menunggu jawaban dari sang atasan, karena tidak kunjung mendapatkan respon dari atasannya, Thalia sekertaris Reymond mencoba berjalan mendekat ke arah meja atasannya dan berdiri sejajar dengan kursi Reymond, memastikan bahwa bosnya itu baik baik saja. Melihat Reymond memejamkan mata, tatapan Thalia yang menjelajahi wajah dan tubuh Reymond, terbesit dibenaknya untuk menjadikan dirinya sebagai kekasih atasannya, meski itu sebagai simpanannya sekalipun ia takkan menyesalinya.


Ketika tangan Thalia menyentuh kening Reymond, suhu panas menjalar ke ujung jari telunjuk Thalia. Dan dia bergegas ke mejanya, mengambil sebotol obat dari dalam tasnya kemudian kembali masuk ke ruang atasannya.


Thalia memapah Reymond ke ruang pribadinya. Dibalik rak buku yang tersusun rapi, terdapat sebuah kamar khusus jika ia sedang lelah dengan pekerjaanya atau sedang malas untuk pulang, Reymond bisa menggunakan ruangan itu untuk sekedar melepas penat. Didorongnya rak buku itu ke dalam, dibaringkan perlahan tubuh Reymond ke kasur single bed lalu memberikan sebutir obat yang ia bawa.


Reymond yang tidak menyadari obat apa yang diberikan Thalia, langsung memakannya meneguk habis air putih yang disodorkan sekertarisnya itu. Reymond pun meminta sekertarisnya untuk mengingatkan jika sudah mendekati jam meeting untuk membangunkannya.


Senyum penuh kelicikan dari Thalia berhasil menakhlukkan bosnya yang super cuek. Dari awal menjadi sekertaris, Reymond tak pernah menggubrisnya yang sering membuat nalar kebejatan seorang lelaki keluar, atau sekedar pura-pura terjatuh agar Reymond menolongnya.


Tubuh Reymond semakin memanas seiring obat yang ia minum bereaksi didalam tubuhnya. Saking tak tahan rasa panasnya jemari Reymond membuka satu persatu kancing kemeja dan melemparnya serampangan. Melihat reaksi Reymond membuat Thalia tak bisa menahan diri. Dikuncinya pintu ruang Direktur Utama agar tak ada yang masuk ketika ia tengah bercumbu dengan atasannya.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2