
Sabtu pagi nan cerah mengawali perjalanan dua anak muda, sayangnya mereka bukan lagi di mabuk asmara melainkan tujuan mereka menjenguk sahabatnya. Tinggal di blok apartemen yang sama memudahkan keduanya berangkat lebih awal menghindari kemacetan didaerah luar Jakarta. Apalagi kota yang menjadi tempat tujuannya merupakan tempat pariwisata warga lokal maupun turis mancanegara.
Ketika Eric mengatakan akan berkunjung ke Bandung untuk menengok sahabatnya, Intan bersorak gembira membayangkan dirinya untuk menyempatkan diri mengunjungi salah satu tempat yang banyak dijadikan lokasi prewedding, kalian pasti pernah mendengar atau mungkin pernah berkunjung kesana.
Tempat itu adalah Kawah Putih Ciwidey. Terletak di Ciwidey, kurang lebih 50 KM di selatan Bandung, Kawah Putih Ciwidey merupakan sebuah tempat wisata di Bandung yang sangatlah populer. Terutama di kalangan pecinta wisata alam. Kawah Putih Ciwidey, memang sesuai dengan namanya yaitu sebuah kawah vulkanik dengan tanah yang mempunyai warna putih.
Warna putih ini sebab ada kandungan belerang di dalam tanahnya. Keunikan utama dari kawah putih yaitu airnya yang selalu berubah-ubah warnanya. Kawah putih ini merupakan sebuah kawah yang terbentuk dari letusan gunung Patuha sejak ratusan tahun yang lalu.
Selain terkenal, kawah putih juga termasuk salah satu tempat romantis di bandung yang banyak dikunjungi oleh para wisatawan. Tempat ini kerap dijadikan sebagai lokasi prewedding oleh para wisatawan. Selain itu, tempat ini sering dijadikan sebagai lokasi syuting pada saat berbagai sinetron.
Begitulah penjelasan eyang Goggle mengenai kawah putih ciwidey. Dan hanya memerlukan waktu 1 jam 42 menit dari kota Bandung ke lokasi kawah putih Ciwidey, begitu keterangan waktu dari google map yang Intan buka di ponselnya.
Membayangkan saja membuat wajah Intan berseri-seri. Tanpa sadar dia tersenyum sendiri dan kini matanya beralih ke ponsel dan membuka aplikasi chat berwarna hijau. Whatsapp.
Ekor mata Eric melirik wanita yang sedang sibuk ber-chat ria, "Kau sedang apa?" Intan menoleh ke arah seseorang yang sedang fokus mengemudi.
"Hm, aku mau memberitahu Hana kalau kita akan menemuinya di Bandung" kata Intan dan dengan cepat tangan lelaki itu menyambar ponsel Intan dan memasukkannya ke penyimpanan gadget dipintu mobil.
"Eh__ponsel ku"
"Jangan memberitahunya dulu. Kita buat kejutan untuk mereka, ok" Eric kembali fokus dengan kemudinya.
Intan mendengus kesal. "Baiklah, kembalikan ponsel ku" Intan menengadahkan tangannya. Dengan tampang datarnya, Eric tak menggubris permintaan Intan dan tetap fokus ke depan.
__ADS_1
Intan mulai kesal. Akhirnya ia mengeluarkan jurus andalannya. "Eric, kembalikan ponsel ku, please " rengek Intan manja dengan tatapan puppy eyesnya sambil tangannya bergelayut manja di lengan Eric. Eric pun menoleh ke arah Intan. Astaga, Eric menginjak rem secara tiba-tiba. Beruntung mereka berdua mengikatkan sabuk pengaman, kalau tidak, pasti ada yang nyungsep kepalanya di dasbord mobil.
"Maaf, maaf ada tikus nyebrang" kata Eric beralasan lalu menatap Intan sekilas kemudian beralih ke depan.
"Benar-benar, jangan sekali-kali menatap ku seperti itu" Eric mendesis lirih.
"Jadi gara-gara mata ku, bukan tikus? Intan terkekeh karena sukses menggoda Eric.
Eric menggeram kesal. Ia pun mengambil ponsel dan memberikannya pada wanita itu. Keduanya kembali diam menikmati perjalanan yang membosankan selama tiga jam lebih perjalanan Jakarta-Bandung. Dan disinilah mereka sekarang di kota Bandung
Disisi lain, seorang dokter tengah memeriksa kondisi pasiennya. Setelah berbincang sebentar, dokter itu mengangsurkan resep yang harus ditebus. Kemudian dia undur diri dan menghilang dibalik pintu yang tertutup.
"Apa kata dokter__" Hana penasaran. Kedua kakinya turun dan mengenakan sandal berbulu berwarna pink favoritnya.
Reymond mendekat dan memegang kedua bahu Hana lembut, "Minggu depan gips yang dilengan kirimu sudah bisa dibuka. Tapi__"
"Tapi apa..." Hana tak sabar. Was-was bila ada sesuatu yang buruk yang akan menimpa dirinya atau mungkin sesuatu yang bisa menghambat aktivitasnya.
"Dokter memperbolehkan lengan mu beraktivitas seperti biasanya tapi aku tidak yakin kalau kamu akan berhenti mengendarai motor besarmu itu. Tentu resikonya sangat berbahaya apalagi jika terjadi kecelakaan lalu lintas mungkin lenganmu harus diamutasi" Reymond memeluk Hana erat, menenangkan wanitanya yang terlihat syok. Padahal sebenarnya dokter tidak mengatakan seperti yang Reymond ucapkan tapi pria itu sendiri yang tak mengijinkan Hana berkendara lagi setelah kejadian penculikan itu. Perasaan was-was terus menghinggapinya.
"Aku akan berhati-hati" jawaban Hana membuat Reymond mengernyitkan dahi.
"Apa maksud mu" Reymond menggeram mendengar jawaban Hana seolah-olah meragukan semua perlindungan yang Reymond berikan pada wanita itu.
__ADS_1
"Aku_aku akan berhati-hati dengan keselamatan ku terutama lengan ku yang mulai sembuh" dengan gugup Hana mengurai pelukannya.
"Tidak! Tidak akan ku biarkan, kalau perlu aku akan menjual motor kes_"
PLAKKK
"Ahh__" Hana melihat ke arah tangannya yang menampar pipi Reymond. Ya Tuhan tangannya telah ia gunakan untuk menampar seseorang yang begitu menyayanginya, begitu menjaga keselamatannya dan memberikan kenyamanan untuknya. Tapi apa...yang ia berikan pada pria yang telah mengorbankan waktunya demi dirinya malah menamparnya.
BRAKK
Reymond membanting pintu utama. Dia sangat marah. Marah bukan karena tamparan yang dilayangkan oleh Hana melainkan karena sifat keras kepalanya. Langkahnya terhenti ketika ia tidak mendapati kunci mobil beserta kertas yang bertuliskan resep dokter tersebut. Gara-gara emosi ia sampai lupa tujuan utama untuk menebus obat di apotek. Di bukalah pintu yang tadi sempat ia banting karena emosi. Seketika amarahnya menguap tak tersisa dan digantikan rasa iba.
Seorang wanita menangis tersedu-sedu sambil memeluk lututnya meringkuk di sofa ruang tamu. Entah kemana emosi yang menghinggapi Reymond sesaat yang lalu, atau dirinya termasuk lelaki yang mudah rapuh karena wanita?
Tanpa menoleh, langkah Reymond tertuju pada lantai dua kamarnya. Karena seingatnya resep obat dan kunci mobil ia taruh di atas nakas lalu keluar dari kamarnya.
Kali ini langkahnya harus ia hentikan. Dekapan sayang kini mampu menghentikan isak tangis seseorang. Hana mendongak. Kedua ibu jari Reymond menyeka air mata yang berurai di pipi Hana. Baiklah Reymond harus percaya pada sebuah kalimat bahwa pria selalu salah dan wanita selalu benar. Sekalipun wanita yang salah kembali ke kalimat pertama wanita selalu benar dan pria yang salah.
"Maafkan aku, sungguh aku tak bermaksud menamparmu. Aku__aku hanya__"
Reymond mengeratkan pelukannya. "Sstt__aku juga salah. Apa yang ku katakan tadi semua demi keselamatan mu. Aku tidak sungguh-sungguh akan menjual motor kesayangan mu. Aku hanya tidak ingin melihat mu terluka lagi, kumohon dengarkan aku.
"Hiks__hiks maafkan aku, sungguh aku menyesal melakukannya" ucap Hana terisak.
__ADS_1
"Baiklah, sekarang pakai jaket ini dan kita berkeliling di daerah dekat sini. Kamu mau? Bujuknya menyunggingkan senyum.
Hana pun mengangguk. Di ikat rambutnya bentuk cepol dan dengan bantuan Reymond ia memakai jaket yang lengan kirinya ia biarkan tergerai. Setelah mengunci pintu mereka berdua berkeliling desa sekalian menebus resep obat.