
Bandung, Pine Forest
Hamparan luas ditumbuhi oleh pohon pinus ini, biasanya terlihat gelap mencekam kini disulap menjadi sore yang terang benderang dengan kelap kelip lampu hias yang dipasang menggantung diantara pepohonan pinus itu.
Para tamu yang hadir itu tampak fokus mendengarkan kalimat sakral diucapkan sang pengantin lelaki. Dan ketika saksi mengatakan sah para tamu berteriak histeris dan sebagian ada yang bertepuk tangan.
Usai menyematkan cincin, sepasang pengantin baru itu tampak bahagia. Senyum merekah menghiasi wajah mereka berdua.
"Selamat menempuh hidup baru sahabatku..." Hana merentangkan kedua tangannya memeluk Intan. "Aku turut bahagia untuk kalian berdua dan ini untukmu. Spesial" ucap Hana diselingi kerlingan matanya. Membuat Edgar mengerutkan kedua alisnya.
Kini Hana beralih menjabat tangan Edgar. "Jaga sahabatku. Jangan buat dia sedih. Jika itu terjadi, aku yang pertama berdiri menjadi tamengnya!" Edgar tersenyum mendengar ucapan Hana yang sedikit dibuat sangar. "Aku akan menjaganya dengan sekuat tenagaku. Jangan khawatir" Hana mengangguk, pandangannya beralih kearah seseorang yang menyendiri dibalik pohon.
Balutan tuxedo abu-abu tampak pas ditubuh seorang pria yang entah kenapa sedikit tak menikmati acara pernikahan yang ia hadiri. Pria itu tampak menjauh dari keramaian, bersandar disalah satu pohon pinus sambil menikmati minumannya. Sesekali menoleh kearah pasangan pengantin baru itu yang tengah menyambut para tamunya.
"Kau terlihat tampan dengan balutan tuxode ini, tapi...penampilan dan suasana hatimu seperti berlawanan arah" Eric menoleh ke arah seorang wanita yang berjalan mendekat kearahnya. "Ku harap kau menikmati pesta ini" lanjut Hana, wanita itu menatap sahabatnya yang silih berganti menyalami para tamu undangan yang hadir.
Eric menyadari perubahan raut wajah wanita disampingnya itu mulai berubah mendung. Eric mengulurkan tangan memeluk Hana, mengusap punggung wanita itu sambil berkata,
"Aku tahu, kau masih berduka dengan kepergiannya, tentunya dengan rencana pernikahan kalian yang___" Eric menghentikan ucapannya karena ia tahu bakal menaburkan garam pada luka yang belum mengering. Eric merenggangkan pelukannya, menatap Hana yang mengusap air matanya sendiri ketika Eric memberinya sapu tangan.
Hana terdiam, raut wajahnya sama sekali tak berubah cerah malah semakin mendung. "Kumohon jangan menyalahkan dirimu sendiri karena itu sama sekali bukan salahmu atau orang lain, lihatlah...kita sekarang berada ditengah acara yang penuh dengan kebahagiaan, bukan? So, please be happy my sweet dear" ucap Eric meyakinkan Hana.
Wanita itu kembali mendongak, "Kau memintaku bahagia, lalu kau sendiri malah berada disini. Membohongi diri sendiri. Lihatlah!! kau akan selalu kalah selangkah jika kau hanya memendam perasaan" ujar Hana menepuk bahu Eric lalu melangkah pergi, dan Eric menatap kepergian Hana sambil meneguk minumannya sampai tak tersisa.
**
General Hospital, Los Angeles
Selama seminggu Mitchel berada dirumah sakit, kalau bukan karena paksaan Febio mungkin Mitchel langsung keluar setelah operasi esok harinya. Seperti biasanya, Mitchel hanya melamun. Bahkan sapaan dokter pun ia malas menjawabnya.
"Tuan...saya membawa beberapa berkas yang perlu anda tanda tangani. Untuk proyek di Dubai semua berjalan sesuai dengan yang tuan sarankan, hanya saja ada sedikit kendala tuan?" Mitchel tak menyahut ucapan Febio. Febio mengernyitkan alisnya menatap tuannya sambil mencondongkan wajahnya ke depan karena tak mendapat jawaban dari bosnya.
Setelah dua menit Mitchel terdiam, pria itu menoleh, "Kendala?" tanyanya kemudian menerima beberapa berkas yang disodorkan asistennya itu.
__ADS_1
Febio kembali menegakkan tubuhnya, "Ada yang mencoba mengakses data proyek baru yang sedang kita kerjakan di Dubai dan orang kita masih mencari keberadaan mata-mata yang disusupkan diperusahaan kita tuan" papar Febio.
"Pastikan kau menangkap penyusup itu Febio, dan proyek besar ini kita tidak boleh sampai gagal. Jika itu terjadi kita akan mengalami kerugian setengah dari kekayaan yang kumiliki, kau mengerti!"
"Baik tuan, waktunya anda istirahat tuan. Saya permisi" kata Febio meminta ijin lalu melangkah keluar namun pertanyaan bosnya menghentikannya.
"Apa dia baik-baik saja, Febio" tanya Mitchel, Febio paham akan pertanyaan ini, pertanyaan yang selalu terlontar hanya untuk menanyakan keadaan seseorang yang namanya sudah terpatri di hati tuannya. Febio menghela nafas lalu berbalik. "Nona Hana mencoba baik-baik saja tuan Mitchel"
"Apa maksudmu dengan mencoba baik-baik saja" tanya Mitchel.
"Hari ini sahabat nona Hana sedang melangsungkan acara pernikahan. Tentu nona pasti bersedih ketika mengingat tunangannya yang baru saja meninggal. Maka dari itu saya mengatakan nona sedang mencoba baik-baik saja"
Febio menyadari perkataannya malah membuat tuannya merasa bersalah pada dirinya sendiri akan kejadian penembakan di pantai waktu lalu. Sebuah ide melintas dikepala Febio.
"How about vacation abroad sir? maybe that can make it better" lanjut Febio memberi saran.
Mitchel menipiskan bibirnya, "Vacation? Aku akan memikirkannya nanti, kau sudah boleh pergi Febio"
Febio mengangguk lalu meminta ijin keluar. Dia harus kembali ke perusahaan, karena banyak pekerjaan menunggunya. Tugasnya menjadi dua kali lipat semenjak bosnya terbaring di rumah sakit dan itu membuat tubuh tuanya semakin lelah.
**
Lelaki yang dipanggil uncle itu mengangguk lalu gadis kecil itu pun mendudukkan diri disebelahnya.
"Uncle...apa kau sedang mengunjungi seseorang dirumah sakit ini?" tanya gadis kecil itu memulai pembicaraan.
"Tidak, justru uncle lah pasiennya" jawab pria yang dipanggil uncle tadi sambil mengacak pucuk rambut gadis kecil itu, gemas.
"Namaku Nihan, nama uncle siapa?"
"Denis"
Mereka terlihat akrab sekali, dan sesekali perkataan gadis berumur lima tahun itu membuat Denis tertawa karena tingkahnya yang lucu.
Tak lama kemudian datanglah seorang perawat menghampiri mereka berdua. "Oh...Nihan disini kau rupanya. Waktumu minum obat sayang, ayo kita kembali kedalam..." pinta perawat itu.
"Aku masih ingin menemani uncle tampan ini, kenapa kau memanggilku, aku benci minum obat" kata Nihan lalu berlari meninggalkan taman tanpa menoleh ke belakang.
__ADS_1
"Maafkan sikap Nihan yang kurang sopan tuan" kata perawat yang merawat Nihan selama dirumah sakit.
"Tidak masalah, dia anak yang lucu dan periang menurutku. Dan baru kali ini aku melihat anak kecil yang penuh semangat seperti Nihan" ucap Denis pada perawat itu.
"Penyakit leukimia, gadis kecil yang tuan sebut periang itu harus mengidap penyakit mematikan di usinya yang masih terbilang sangat muda" jelas perawat itu kemudian menunduk permisi.
Denis menatap tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dirinya pun baru memulai kehidupan barunya setelah operasi mata yang baru sebulan lalu ia jalani. Kini Denis begitu bersyukur pada yang maha kuasa bisa menatap dunia yang penuh warna. Tidak seperti sebelumnya, sepanjang matanya memandang hanya gelap gulitalah yang mendominasi penglihatannya.
"Brother..kau melamun lagi, huh?"
Suara seorang wanita membuatnya menoleh. "Tidak Zaenab, aku sedang menikmati pemandangan Jakarta dari sini. Aku tak sabar kembali ke Istanbul secepatnya" ucap Denis dan wanita yang dipanggil Zaenab itu duduk disebelahnya.
"Sebentar lagi, tunggulah sebentar. Check up terakhir kalau tidak salah minggu ini, dan sepertinya aku tak bisa menemanimu, kak Denis. Ya...ujian mata kuliahku bertepatan dengan hari dimana kakak harus check up mata kakak. Jadi, apa kau bisa sendiri?"
Denis terdiam menatap adik perempuannya. "Tentu" jawabnya singkat sambil menganggukkan kepala.
Didalam hati, Zaenab rindu akan manik mata abu-abu milik kakaknya. Walau sekarang berbeda namun yang dihadapannya tetaplah kakaknya.
"Zaenab, kakak baru mengetahui kalau kau punya hobi menatap kakak, hum?
Zaenab tergagap, "Ah...aku lupa kalau kakak sudah bisa melihat. Ehm...ya menatap kakak tak pernah bosan menurutku" ucap gadis itu sedikit tertawa.
Akhirnya keduanya meninggalkan taman rumah sakit yang sering mereka singgahi untuk melepas penat didalam ruang perawatan.
___________________❤❤___________________
Happy New Year 2020
to
Mangatoon & Novel toon
dan
semua penghuninya
__ADS_1