Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 13


__ADS_3

Sebelum jam makan siang, interview berjalan dengan sukses tinggal menunggu pemberitahuan selanjutnya dari pihak HRD. Setelah mengganti pakaian, Hana berniat ingin mengisi perutnya yang lapar, walau sekedar interview tapi sudah membuat Hana menguras sebagian energinya. Ditambah pagi tadi lupa sarapan. Klop derita.


Diaduk aduk tas ranselnya, mencari dompet cokelatnya, tapi nihil. Dicarinya di kantong jaket hoodienya tetap tak ketemu. Hana merogoh kantong celana jeansnya, meraih ponsel dan mencoba menghubungi Intan berharap temannya se-apartemen itu dirumah. Lama berdering tapi tak diangkat. Berkali kali Hana mencoba menghubunginya, tetap tak diangkat.


Perutnya mulai terasa melilit, entah berapa kali Hana merutuki kesialannya hari ini kecuali proses interview yang sukses.


Di Lain Sisi


Reymond tengah sibuk didepan laptop mengerjakan berkasnya yang tertunda.


"Kring... kring.."


"Ya ada apa.." tanya Reymond menghentikan aktivitasnya sejenak.


"Sudah jam makan siang pak, apa perlu saya pesankan makan siang pak?" jawab seorang OB diseberang telp.


"Tidak perlu, saya akan turun 10 menit lagi."


"Baik pak"


"Tuut"


Diliriknya jam tangannya, "mungkin dia sudah pulang?" Gumam Reymond.


Reymond bergegas turun ke lobi, ketika pintu lift terbuka pandangannya tertuju pada sosok seorang gadis yang sedang duduk diruang tunggu, sepertinya ia sedang menghubungi seseorang dan mungkin orang yang dia hubungi tidak mengangkat panggilannya.


Reymond merindukan suasana ini, perlahan mendekati gadis pujaannya selama ini. Hana terkejut dan sontak ia pun berdiri, sementara Reymond yang datang tiba tiba memeluk erat tubuh Hana, pelukan penuh kerinduan yang tak terbendung. Reymond rindu akan aroma rose ditubuh Hana. Bersembunyi diceruk leher Hana seolah tak ingin membiarkannya pergi lagi.

__ADS_1


Orang orang berlalu lalang seolah tak peduli dua insan dilobi kantor sedang berciuman mesra, saling melampiaskan kerinduan mereka.


"Ting..."


Suara pintu lift terbuka


"Pak direktur apa anda tidak ingin keluar..?" Tanya salah seorang karyawan kantor yang melihat atasannya melamun semenjak turun dari lift apalagi ditambah dengan raut wajahnya yang dihiasi seyum cerah, padahal diluar awan hitam masih setia dengan hujannya.


"Pak...pak Reymond" tanyanya lagi karena mereka segan jika berpapasan dengan atasannya di lift mau tak mau mereka mempersilakan bosnya duluan.


"Ah..oh..ya ya maaf " ucap Reymond beranjak keluar dari lift dan diikuti beberapa karyawan lain.


Pandangan Reymond tertuju pada seorang gadis, tapi sepertinya ia sedang berbicara dengan lawan bicaranya diseberang telp. Reymond memberanikan diri menyapa masa lalunya, entah diterima atau tidak itu urusan belakang.


Di Sisi Lain


"Telp nggak ya.."


"Telp...nggak...telp...nggak...telp"


Hana seperti orang gila bicara sendiri sambil menghitung jari jemarinya. Dan finally, dia menghubungi Eric. Hana tercengang dengan nama Eric kontak Hana.


"Halo..."


"Iya halo ini siapa?


"Ini aku....ehmm...Rayhan."

__ADS_1


"Wow...manis ini kejutan untukku. Aku tak menyangka kamu menghubungiku lebih dulu. Ada apa, bicaralah?" Ucap Eric.


"Bisakah kau menjemputku di tempat dmn kau mengantarku tadi pagi?


"Ok. Tunggu 15 menit lagi aku sampai"


"Ok. Trims ya Ric"


"Jangan sungkan."


"Tuut"


"Awas aja kubikin bonyok mukanya" gerutu Hana sebal. Andai ada motor, mungkin dirinya sudah dirumah saat ini sekalipun dia lupa membawa dompetnya. Sebuah suara membuatnya mendongakkan kepalanya.


"Apa yang kau lakukan disini" tanya Reymond pura pura tidak tahu, padahal yang mengusulkan interview untuk Hana dia sendiri. Kalau pun Reymond mau bisa saja dia langsung menerima Hana sebagai salah satu karyawan dikantornya, tapi Reymond tidak melakukannya. Sejatinya Hana tidak ingin dituduh lolos tes karyawan karena ada sangkut paut orang dalam.


"Pak....Rey...mon"


Suaranya tersekat ditenggorokan, bibirnya bergetar menahan ribuan kata yang tak mampu ia ucap. Mungkin dari ribuan kata itu terselip kata rindu. Air matanya pecah tatkala sebuah pelukan nyata merengkuh tubuh Hana. Bohong kalau ia tak merindukan Reymond selama mereka jauh. Hati kecil Hana terus meyakinkan dirinya bahwa ia juga merindukan lelaki itu. Hana pun membalas pelukannya.


"Manis.. aku menjemputmu?"


Sapaan Eric membuat mereka melepaskan pelukan.


"Apa yang kalian berdua lakukan?"


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2