
"Pulanglah Hana..."
"Keluargamu membutuhkan mu di Sidney"
Kedua tangan Mitchel menangkup pipi Hana, memandang lekat-lekat wajah gadis yang beberapa bulan terakhir membuatnya merasa hangat kembali.
"Seandainya kau tahu apa yang ada dalam hatiku. Dan apakah bisa ku nyatakan bahwa kaulah hal terindah untuk ku" ungkap Mitchel dalam hati.
Mitchel melangkah ke kamarnya,
"Febio yang akan mengawal mu sampai tujuan, maaf aku sibuk besok jadi tidak bisa menemanimu" ucap Mitchel dingin menutupi kesedihannya tanpa menoleh sedikitpun.
Hana tercenung dengan perkataan Mitchel padanya. Gadis itu memang menginginkan pulang ke negaranya tapi ia tak memiliki keberanian sedikit pun untuk mengatakan di depan Mitchel. Atau mungkin ia tak pantas untuk mengajukan permintaan itu karena pengorbanan Mitchel yang begitu besar setelah menyelamatkan nyawanya. Toh, selama ini Mitchel selalu memperlakukannya dengan baik tidak seperti kisah drakor yang ia sering tonton.
Hana masih terdiam menatap punggung kekar yang lenyap dibalik pintu kamar utama dan bergeming dengan ucapan Mitchel beberapa menit yang lalu. Dia tak tahu harus berkata apa untuk menenangkan pria Billionare itu.
Kini Hana berdiri didepan pintu kamar Mitchel keningnya menyentuh pintu yang tertutup "Dalam sekejap sikap mu kembali dingin, meski begitu aku merasa nyaman di dekatmu. Seberapa berbahayanya sekelilingmu, dengan kekuatanmu kau selalu melindungiku, Mitchel terima kasih dan_______maafkan aku belum bisa membalas kebaikan dan pengorbananmu" ucapnya lirih.
Diseberang pintu, Mitchel mendengar apa yang gadis itu ucapkan tapi ia tak membalasnya. Membukakan pintu pun tidak. Biarlah...diamnya seorang Mitchel akan membuatnya baik-baik saja.
**
Seharian ini Hana tak melihat Mitchel di manssion. Setiap gadis itu bertanya pada Febio, asisten pribadi Mitchel selalu mengatakan pria itu sibuk dengan urusan pekerjaan jadi tidak bisa di ganggu.
Sampai tiba waktunya Hana berangkat tapi Hana juga tidak bisa bertemu walau sekedar berpamitan dan mengucapkan kata terima kasih.
Hana sedih. Mengucapkan kata perpisahan saja membuat lidahnya kelu. Koper milik Hana sudah berada dibagasi mobil dan setengah jam lagi akan menuju bandara menggunakan jet pribadi milik Mitchel.
Manssion ini terasa kembali dingin seperti awal ketika ia membuka matanya. Perlahan Hana menuruni anak tangga sesekali menoleh ke arah kamar Mitchel berharap pria itu memberikan senyum terakhirnya. Sampai ia melewati gerbang pun pria itu tak menampakkan diri untuk mengucapkan selamat tinggal padanya. Hana menoleh kembali ke belakang menatap manssion yang empat bulan ini menjadi rumah keduanya, ia hanya menunduk sedih. Febio yang menyadari itu turut bersedih tapi inilah yang terbaik untuk keduanya.
**
Rembulan malam menjadi saksi perpisahan dua insan beda negara itu. Disinilah pria itu, duduk seorang diri di bangku taman belakang manssionnya. Taman dimana bertabur berbagai macam bunga yang Hana rawat selama gadis itu berada dalam pengawasannya.
Mitchel meneguk wine-nya hingga tandas tak memperdulikan hawa dingin menyelimutinya. Dipenghujung tahun memasuki musim dingin. Itu berarti tak lama lagi serpihan-serpihan salju akan turun menutupi keindahan kebunnya. Oh sungguh disayangkan.
"Dalam sekejap sikap mu kembali dingin, meski begitu aku merasa nyaman di dekatmu. Seberapa berbahayanya sekelilingmu, dengan kekuatanmu kau selalu melindungiku, Mitchel terima kasih dan_______maafkan aku belum bisa membalas kebaikan dan pengorbananmu"
__ADS_1
Perkataan Hana terulang dikepalanya. Netranya berkaca-kaca, ia segera mendongak menatap langit agar air mata tidak menemaninya larut dalam kesendiriannya dan mencoba tegar.
"Semua akan kembali seperti sedia kala" gumamnya
**
Hana menatap kearah jendela, begitu luas hamparan awan putih dan gedung-gedung menjulang mulai terlihat jelas.
"Nona Hana setengah jam lagi kita akan sampai di Sidney, apa perlu saya siapkan sarapan untuk mu nona?"
"Hem...baiklah" jawab Hana pelan.
"Tuan Febio, boleh saya bertanya sesuatu"
"Panggil Febio saja nona"
"Saya panggil paman saja kalau begitu" pinta Hana dan dibalas anggukan oleh pria paruhbaya itu.
"Apa yang terjadi ketika diruang kerja waktu itu? Mitchel tidak biasanya bersedih begitu selama saya disana paman"
"Sebenarnya saya membawa kabar untuk nona. Untuk itu tuan Mitchel meminta saya mengantar nona Hana ke Sidney bukan ke Indonesia"
Sampai sekarang Hana belum tahu kenapa bisa ia sampai ke negara orang, yang Hana tahu hanya Mitchel lah orang yang bertanggung jawab atas kecelakaan yang menimpa dirinya.
"Makan sarapan mu nona, setelah itu akan saya ceritakan" tegas Febio.
"Baiklah paman..." Hana tersenyum manis.
"Andai tuannya melihat senyum nona Hana tadi mungkin hatinya sedikit tenang. Semoga dia tidak berbuat hal yang tidak-tidak" pikir Febio sambil menggelengkan kepala.
"Paman ada apa? Kenapa kau menggelengkan kepala mu" tanya Hana sambil mengunyah omelet yang di buat oleh Febio. Rupanya selain menjadi asisten Febio juga pandai memasak. See ? Omelet buatan pria lima puluh tahun itu sekarang bersarang di perut Hana.
"Tidak ada nona. Anda sudah selesai" tanya Febio.
Hana mengambil tissu dan menyapukan ke bibirnya. "Iya, ceritakan apa pesan yang kau sampaikan pada Mitchel sehingga tuanmu mengijinkan aku pulang paman"
Febio menceritakan mulai dari tuannya meninggalkan prosesi pernikahannya, dan penyebab pembatalan pernikahan itu sendiri. Karena sebuah penghianatan yang dilakukan mantan calon istrinya dulu membuat Mitchel frustasi dan tak berfikir jernih saat berkendara. Sampai membuat seorang gadis kecelakaan. Dan sebuah keputusan dari tuannya untuk membawa gadis itu ke rumah sakit yang lebih canggih peralatan medisnya.
__ADS_1
"Dan kabar buruk yang saya terima dari informan saya adalah kondisi ibu anda nona beliau terkena serangan jantung dan sudah seminggu beliau dirawat tetapi kondisi beliau semakin turun" lanjut Febio mengakhiri ceritanya.
"Paman mengada-ada. Mami selalu sehat dan dia...dia..." Hana tergugu netranya mulai berkaca-kaca tak percaya. "Paman kumohon jangan bercanda...mami selalu rajin olah raga dan serangan jantung...oh apalagi itu. Itu tidak mungkin penyakit itu bersarang di tubuh mami. Dia wanita sekaligus ibu yang penyayang pada keluarganya paman, bagaimana mungkin Tuhan memberikan penyakit itu pada mami ku. Ini tidak adil.... tidak adil..." Hana menangis histeris.
Febio tidak sanggup lagi melihatnya lalu memeluk serta menenangkannya seperti putrinya sendiri "Maafkan saya nona jika kabar yang saya bawa membuat nona begitu sedih. Dan tahu kah kau nona, tuan Mitchel pun sama merasakannya seperti mu sekarang, untuk itu tuan mengijinkan nona pulang. Maafkan saya jika berbohong saat nona mencarinya dan saya mengatakan tuan Mitchel selalu sibuk. Sungguh waktu itu tuan sedang menguatkan diri agar kepergian nona tidak akan membuatnya kembali lemah seperti ketika tuan Mitchel ditinggal kedua orang tuanya. Saya mohon nona kuatkan dirimu dan berhentilah menangis nona".
**
St Vincent Hospital, Sidney
Seorang dokter tengah memeriksa kondisi pasien. Hingga suara pintu bergeser membuat sang dokter menoleh ke arahnya.
"Mam..." Ucap Hana lirih.
"Mammi...." Hana mendekat ke arah bangkar dimana ibunya berbaring. Air matanya tak lagi bisa dibendung. Apa yang dikatakan Febio adalah kenyataan dan sekarang Hana melihatnya didepan mata.
"Mam...maafkan Hana mam...Hana selalu menyulitkan mami dan papi. Mami..." tangisnya semakin pecah.
Dokter yang melihatnya turut berkaca-kaca. Dipapahnya tubuh Hana untuk berdiri.
"Dok...bagaimana kondisi mami saya dokter.." Hana masih menangis disetiap katanya.
"Kondisi beliau masih sama. Saya mohon tenanglah, kuatkan dirimu dan berdoalah agar Tuhan mengembalikan senyum Bundamu. Percayalah. Kalau begitu saya permisi..."
Mendengar seseorang menangis, Ridwan mengerjapkan kelopak matanya berapa kali lalu meraih kacamata di meja. Ridwan mengerutkan alisnya ketika melihat seorang pria tua dan dua orang pria berjas hitam layaknya pengawal. Ya memang, mereka berdua seorang pengawal lalu siapa yang mereka kawal? Apa mungkin pria tua di depannya itu? Fokus matanya beralih ke sosok gadis yang duduk disamping bangkar istrinya.
"Hana..." suara pelan Ridwan menghentikan tangisan putrinya.
"Hana, putri ku..."
"Kau..kembali...kau masih hidup nak"
**
Erick Avari as Uncle FEBIO
__ADS_1