
Reymond duduk dimeja makan, menunggu Hana selesai mandi sambil menikmati secangkir teh hangat. Matanya teralihkan dengan penampilan Hana yang menggunakan kaos berwarna putih yang agak kebesaran milik Reymond dan celana pendek diatas paha warna senada dengan kaosnya.
Reymond buru buru memalingkan wajahnya yang merona.
"Dia terlihat semakin imut dengan kaos milikku?" bathin Reymond memuji.
"Maaf Pak, Baju Saya masih basah, jadi...ehm Saya pinjem punya Bapak."
Reymond mengerutkan kedua alisnya, pria itu kesal tiap kali Hana memanggilnya dengan sebutan Bapak.
"Apa Saya bapak Kamu?" tanya Reymond dengan sorot mata yang tajam.
"Sa-saya hanya menghormati Anda, karena Anda..." Tiba-tiba Reymond menyela.
"Panggil Reymond saja kalau kita sedang berdua."
"Oh, Baiklah Pak..eh, Re-reymond."
"Duduklah, Aku sudah memberitahu ayahmu, Kamu akan menginap malam ini."
"A-apa!"
"Kenapa Kamu terkejut gitu sih?"
"Jadi, Apa ayahku tidak marah? apa dia memberi ijin untukku? Apa dia..."
Reymond membelai kepala Hana, "Ayahmu mengijinkanmu disini, karena dia mempercayakan putrinya padaku."
"Apa!"
Pria itu terkekeh melihat ekspresi Hana.
***
__ADS_1
"Pa, yang mana menurutmu paling cocok untuk calon istri Reymond?" tanya Sarah Martin, Ibu Reymond.
"Coba Papa lihat yang Ini, dia Casandra dua puluh lima tahun, putri tunggal pemilik RS. Ciputra, dan yang ini Isabella, model yang lagi naik daun, lau yang ini...."
"Sudahlah, Ma...Reymond bukan anak kecil lagi, dan dia bisa memilih jodohnya sendiri," kata Norman Martin, Ayah Reymond.
"Pa, Aku nggak mau Reymond salah pilih, pokoknya Mama mau istri Reymond dari kalangan atas."
"Terserah, kamu lah Ma..." kata Norman meletakkan kaca mata dan buku yang dibacanya di nakas.
"Bagaimana kalau besok kita jenguk Reymond, Pa. Sekalian kita kasih lihat foto para gadis ini, siapa tahu ada yang menarik perhatian Reymond, Pa?" tanya Sarah berbinar-binar.
Norman yang sudah menutup mata pun kembali terbangun, "Ya...ampun Mama, terserah Mama lah, Papa mau tidur!"
"Kalau gitu mama telepon dulu Reymond, bilang kita mau kesana...."
***
Reymond tengah diruang kerja, ia melirik jam dinding sudah pukul 11.30 malam karena besok Minggu jadi dia habiskan waktunya diruang kerja sedikit lebih lama.
Dia teringat kalau Hana menginap dirumahnya. Entah sejak kapan rasa penasaran Reymond pada gadis itu mulai membuat hari-harinya penuh warna. Jika semenit saja tak melihatnya, perasaanya mulai gelisah, dan rasa ingin bertemu selalu menggebu-gebu, lalu ia mencoba memastikan apakah Hana sudah tidur atau belum.
"Hana, apa Kau sudah tidur?"
Namun tak ada jawaban dari dalam ruangan. Baru beberapa langkah, samar-samar pria itu mendengar isakan dari kamar Hana.
Reymond memberanikan diri masuk ke ruang pribadi perempuan. Beruntung kamar tidak dikunci, ini pertama kalinya ia mencemaskan sesuatu yang ia sendiri tak tahu sebabnya.
Reymond mendapati gadis itu sedang terisak meski kedua matanya tertutup rapat. Tubuhnya menggigil bukan karena kedinginan melainkan rasa takut akan sesuatu, disertai keringat yang menyembul dikening gadis itu.
Reymond duduk ditepi ranjang, mencoba menyadarkan Hana yang tengah mengigau ketakutan.
"Jangan, jangan pukul. Kumohon?" rancau Hana dalam mimpinya.
__ADS_1
"Hana, bangun hei...buka matamu" kata Reymond mengguncang tubuh Hana.
"Jangan!!!"
Gadis itu ketakutan, mimpi yang sama selalu terulang ketika lelap menghampirinya.
Reymond semakin erat memeluk Hana, mengijinkan gadis itu tenang didalam pelukannya. Mencoba menenangkan sebisa mungkin agar ketakutan yang dideranya sedikit mereda walau kenyataannya, masa lalu yang mencekam itu sulit dihapus dari ingatan Hana.
"Tenanglah, ada Aku disini, ini minumlah supaya sedikit tenang."
Reymond menyodorkan segelas air putih yang tersedia di nakas.
"Apa Kamu sudah mendingan, atau perlu ku temani tidur?" tanya Reymond. Sontak saja permintaan Reymon yang ambigu membuat Hana membelalakkan mata.
"A-apa, temani tidur?"
"Yang benar aja dong!"
"Dasar pria mesum tadi sudah mencuri ciuman pertama ku, sekarang malah mau nemanin tidur terus besok apa?" sambung Hana dalam hati.
Reymond terkekeh, lalu pria itu menaikkan selimut Hana.
"Ini masih malam, sebaiknya kembalilah tidur. Besok kita akan ke suatu tempat," kata Reymond sambil mengusap pucuk rambut Hana dan beranjak keluar dari kamar gadis itu.
"Tunggu...!!"
Reymond menghentikan langkahnya dan menatap Hana.
"Terima kasih."
Reymond membalas dengan senyuman. Walau sebenarnya dia ingin sekali menemaninya tidur, tapi itu tidak benar.
Reymond menutup pintu dengan pelan agar tak mengganggu Hana tidur.
__ADS_1
BERSAMBUNG