
St Thomson, Dallas
Ceklek
Wanita empat puluh tahun itu membuka pintu kamar seorang gadis sedang terbaring lemah dengan selang infus ditangannya.
"Angel bangunlah...apa kau merasa baikkan sayang?" tanya Victoria sambil menaruh nampan berisi bubur lalu membuka korden berwarna hijau tua itu agar sinar mentari masuk ke dalam kamar.
Hana membuka kelopak matanya pelan. "Ergh..kepalaku..." rintih Hana pelan memijit kepalanya yang terasa nyeri ketika bangkit dari tidurnya.
"Berbaringlah...dokter mengatakan kau kekurangan gizi dan cairan, Angel" ucap Victoria. Wanita itu duduk ditepi ranjang sebelah tangannya menepikan rambut Hana yang terutai menutupi mata indahnya.
"Terima kasih nyonya... kau sudah menolongku. Kalau boleh aku tahu kenapa kau terus memanggilku Angel" tanya Hana. Victoria tersenyum, kedua tangannya meraih nampan diatas nakas lalu meletakkan dipangkuannya.
"Entahlah...aku sendiri juga tidak tahu atau naluri seorang ibu yang melakukan itu" ujar Victoria menaikkan kedua bahunya. Tanpa sadar Victoria menyuapi gadis cantik didepannya itu dengan telaten. "Kau seperti mendiang putriku, Angel saat aku melihatmu pertama kali. Siapa namamu sayang" tanya Victoria memegang dagu Hana yang bergerak pelan mengunyah bubur didalam mulutnya.
"Rayhana. Kau bisa memanggilku Hana saja nyonya"
"Victoria...panggil saja begitu. Atau kau boleh memanggilku Mommy...atau apa saja sesukamu.." ucap Victoria melambaikan tangannya.
Hana tersenyum, "Terima kasih...mom" ucap Hana menerima suapan Victoria lalu memeluk wanita itu. "Tiba-tiba aku merindukan ibu..." lanjutnya menitikkan air mata lalu mengusap dengan punggung tanggannya.
"Kau boleh memanggilku ibu sayang mulai sekarang, oh...ya bagaimana kau bisa berada disana...e..maksud mommy berada di tempat Rolex yang mommy tahu pria itu cukup berbahaya. Apalagi dengan seorang pebisnis dengan latarbelakang sebagai bos mafia, tuan Mitchel Gavind. Mommy harap kau tak berurusan dengan mereka. Mereka dan dunia hitamnya sungguh mengerikan. Meski selama ini mommy bekerja sebagai owner nightclub sekaligus MUA tapi mommy mencoba tak ingin terlalu jauh mengikuti aura mereka" ujar Victora lalu memberikan segelas air putih pada Hana. Gadis itu meneguknya hingga tandas.
Victoria tersenyum tangan kanannya mengusap ujung bibir Hana yang basah karena air putih dengan tissue. "Sepertinya aku diculik mom...dan pertama kali aku membuka mata aku sudah berada ditempat asing. Aku takut mom..." terang Hana menunduk. Victoria kembali memeluk Hana menenangkan gadis yang ketakutan itu.
"Mom...kau tadi menyebut nama Mitchel Gavind. Apa kau mengenalnya?!" Victoria terkejut mendengar pertanyaan Hana lalu mengangguk "Apa kau bisa menelponkan untukku. Selain mom aku tak mengenal orang lain lagi selain Mitchel"
"Sepertinya kau mengenal baik orang yang kau maksud itu Hana. Ku harap dia tak menyakitimu atau berlaku buruk padamu jika nanti dia tahu keberadaanmu" ucap Victoria memegang ponselnya.
Hana menggeleng, "Percayalah mom...karena dia pernah merawatku ketika koma" balas Hana memainkan jemari lentiknya.
Victoria mendongak menatap gadis cantik itu, "Bagaimana mungkin? Dia pria dingin dan dengan mata setajam mata elang mau merawatmu? Ah...kecuali___" Victoria menjeda kalimatnya karena seseorang diseberang telah menerima panggilan wanita itu.
"Good morning sir Febio, saya Victoria.
"Mrs. Victoria...." kata Febio mengingat nama Victoria. Seorang wanita terkenal berprofesi dibidang makeup artis sekaligus salah satu owner night club.
"Yes. Apa tuan Mitchel berada di kediamannya?"
"Maaf nyonya beliau sedang ada urusan penting dan tidak berada di kediamannya. Maaf kalau boleh saya tahu ada keperluan apa dengan beliau nanti saya akan sampaikan langsung"
"Rayhana berada di kediaman saya di Dallas. Gadis itu kenal dengan tuan Mitchel jadi dia meminta saya menghubungi anda"
"Nona Hana berada di Dallas dengan anda nyonya. Oh... kabar yang mengejutkan. Baik saya akan langsung mengerahkan pengawal untuk menjemputnya. Dan saya ucapkan terima kasih banyak atas bantuannya meski saya tidak tahu bagaimana anda mengeluarkan gadis baik itu dari sana nyonya Victoria" ujar Febio gembira.
**
__ADS_1
Triing...triingg
Mitchel mengerjapkan matanya, terganggu dengan suara ponsel yang berdering.
"Ish...sudah menonjokku sekarang lihat kelakuanmu. Apa-apan ini memelukku" komplen Mitchel pada Reymond yang entah jam berapa pria itu tidur disebelahnya.
Mitchel meraih ponsel dan mendekatkan ke telinganya, "Iya Febio...." jawab Mitchel sambil menyingkirkan lengan Reymond yang berada di dadanya.
"Tuan, nona Hana berada di Dallas. Saya akan kirim alamatnya via message"
Mitchel menoleh ke arah Reymond yang terlelap lalu tersenyum menyeringai. Sebuah ide bagus tersusun dikepala Mitchel pagi ini.
Setengah jam kemudian, pria tampan penuh pesona itu sudah berada dipusat kota Dallas seperti yang Febio katakan bahwa Hana berada disana dengan seorang wanita.
**
BMW hitam itu berhenti di depan sebuah rumah sederhana berlantai dua. Jalan setapak menuju teras rumah dengan hamparan rumput hijau menyejukkan mata. Beberapa pohon menjulang tinggi dihalaman rumah itu menutupi teriknya matahari yang kian naik.
Seseorang didalam mobil itu tampak memastikan sesuatu. Terlihat jelas dari ekspresi kebingungan diwajahnya.
"Kenapa tidak ada nomor rumahnya dan tidak a___" Mitchel melihat seorang wanita tua keluar dari rumahnya lalu pria itu bergegas keluar dari mobilnya, "Permisi nyonya, maaf menganggu waktu anda. Saya sedang mencari alamat ini. Mungkin anda bisa membantu saya" Mitchel menyerahkan ponselnya pada wanita lansia itu.
Wanita itu lantas menatap lama ponsel Mitchel
Mitchel menghela nafas. "Sabar...sabar. Kalau bukan wanita tua sudah ku tembak kepalanya ini" gerutunya kesal. Namun tak lama ponselnya berdering terdengar nada umpatan dari si penelpon membuat Mitchel menjauhkan ponsel dari telinganya kemudian memutuskannya secara sepihak.
"What's going on here? Tuan...maafkan wanita tua ini. Dia pikun dan tuli jadi...Anda...." ucap Victoria tiba-tiba terkejut melihat Mitchel didepan rumahnya.
Mitchel nampak mengerutkan kedua alisnya, "Anda Victoria...?" Victoria mengangguk mempersilakan Mitchel masuk ke rumahnya.
"Jadi nenek tadi tuli?"
"Iya...faktor usia. Mari masuk aku tahu maksud kedatanganmu kesini. Jadi ku harap kau jangan sungkan padaku. Kau mengerti?"
"Apa aku terlihat sungkan, disaat kau menyimpan milikku yang berharga didalam rumahmu..." balas Mitchel dengan arogannya.
Victoria hanya tersenyum menanggapi. "Baiklah kalau begitu setidaknya mari kita sarapan lebih dulu. Kulihat kau tak menyempatkan diri untuk sarapan pagi. Bagaimana? tawar Victoria.
"Apa kau sengaja mengulur waktuku nyonya Victoria Abraham?" tegas Michel ketika menyebut nama Abraham.
"Tentu tidak sayang. Dan satu hal aku benci ada Abraham dibelakang namaku. Oh...iya apa sebegitu berharganya sesuatu yang berada didalam rumahku itu hingga kau datang dengan terburu-buru seperti ini" tanya Victoria menunjuk kemeja Mitchel yang terbalik.
Mitchel gelagapan langsung menutup wajahnya malu. "Suddenly happend in the morning..."
"Atau karena gadis itu kau jadi bahagia begini, hem?" sela Victoria.
Mitchel menunduk menutupi wajahnya yang memerah. "Baiklah makanlah sarapanmu ini aku akan melihat kondisi Hana. Mungkin dia merasa lebih baik sekarang..." kata Victoria lalu bergegas menuju kamar Hana dilantai dua.
**
__ADS_1
"Mitchel sialaan... beraninya dia meninggalkan aku di apartemennya. Kemana dia pergi. Ahh...ya..ya ponsel. Dimana ku taruh ponselku" kata Reymond pada dirinya. Akhirnya pria itu menemukan apa yang ia cari lalu terlihat dia sedang mengeluarkan sumpah serapahnya pada orang diseberang telp tapi ia semakin terlihat marah ketika sambungannya terputus secara sepihak.
"Hallo Eric...jadi bagaimana apa kau sudah menemukan petunjuk keberadaannya. Mami beberapa hari ini telp dan menanyai soal pernikahanku dengan Hana. Aku jadi tak tega mengatakan yang sebenarnya"
"Belum ada perkembangan paman. Maaf. Anak buah Mitchel yang menahan Rolex bilang pria itu memang menahan Hana sebelumnya tapi wanita itu kabur dan bagaimana bisa ada orang yang menggantikan posisinya sebagai sandra, Rolex sendiri pun tak tahu menahu paman?
Reymond berkacak pinggang sambil menatap gedung tinggi dipusat kota Texas. "Aku akan menghubungimu nanti. Oke" Reymond mematikan ponselnya.
"Dimana dirimu Hana...ck! Aku merindukanmu, sungguh" ucap Reymond.
**
Penutup kepala terbuat dari benang wol berwarna abu-abu menambah aura cantik seorang gadis yang sedang melamun. Raut wajahnya terlihat begitu sedih.
"Apa yang membuat princess ku seperti ini" tanya Victoria perlahan melebarkan pintu lalu melangkah mendekati Hana yang termenung.
Hana mendongak sedetik kemudian terkejut melihat seseorang yang ia kenal berdiri dibelakang ibu angkatnya itu. "Mitchel...." Victoria berbalik menemukan Mitchel tepat berada dibelakang punggungnya.
"Maaf nyonya aku mengikutimu karena aku sangat merindu___" Ucap Mitchel terputus saat tubuhnya tiba-tiba terdorong ke belakang karena Hana menerjangnya dengan pelukan.
"Mitchel...aku tahu kau pasti datang menemukan aku. Terima kasih" ucap Hana lalu mengurai pelukannya. Netra sedikit berkaca-kaca terharu. Begitupun Victoria.
"Kau baik-baik saja" tanya Mitchel memiringkan wajahnya memindai. "Sepertinya kedatanganku tak membuatmu bahagia. Oh...aku merasa sedih" ucap Mitcel penuh ekspresi yang dibuat-buat. Victoria tercengang melihat keakraban seorang master es batu bisa bercanda hanya dengan seorang gadis didepannya.
Hana memukul lengan Mitchel, "Ngomong apa sih. Aku cuma rindu dengan papi, Mitchel" logatnya dengan bahasa Indonesia.
"Daddy baik-baik saja di Indonesia jadi jangan cemas karena aku sudah memberitahu kondisimu padanya"
"Daddy what!" tanya Hana terus menerus memukul tubuh Mitchel.
"Ehem...sebaiknya aku pergi ke dapur. Aku tak ingin menganggu kalian berdua" sela Victoria kemudian wanita itu keluar dari kamar Hana.
"Mitchel...kenapa kau lakukan itu padaku!" tanya Hana setelah Victoria menutup pintu kamarnya.
"Apa yang sudah kulakukan padamu Hana. Aku kesini datang untuk menjemputmu. Apa kau tidak senang itu"
"Kau mengutus anak buahmu untuk menyergapku. Mereka mengatakan kalau kau yang mengutus mereka untuk membawaku pergi ketempat yang aman tapi apa? Aku hampir jadi wanita murahan yang akan dilelang di klub malam" bulir air mata itu menetes begitu saja tanpa bisa dicegah.
Mitchel terkejut mendengar penuturan Hana. "Aku...? mengutus anak buahku untuk menculikmu itu tidak mungkin Hana. Untuk apa aku melakukan itu?"
"Bukankah kau pernah melakukan itu padaku. Apa kau lupa?"
"Itu lain cerita Hana. Waktu itu kau sekarat. Dan hanya bantuan medis yang canggih baru kau bisa berdiri seperti sekarang"
Hana membalikkan tubuhnya menatap manik coklat gelap dihadapannya menelusuri kebohongan tapi yang ada hanya kejujuran yang tersirat didalamnya
"Maafkan aku. Aku tak tahu mereka menggunakan namamu supaya aku membencimu atau apa itu... i dont know" Mitchel segera memeluk Hana erat. Sungguh biarkan walau sejenak ia bisa seperti ini tanpa harus terpisah jarak dan waktu yang begitu jauh.
Hingga suatu saat dia mampu melepaskan atau bahkan mengubur perasaanya dalam-dalam. Dia tahu cintanya tak terbalas walau sekeras apapun usaha yang ia lakukan. Latar belakangnya sebagai mafia pun menjadi salah satu faktor penyebabnya. Mitchel takut wanita yang dicintainya akan menjadi objek sasaran musuh-musuhnya di dunia hitam. Setidaknya saat ini biarlah begini.
___________________❤❤__________________
__ADS_1