
Seminggu kemudian...
Malam meriah yang di tunggu-tunggu pun tiba. Malam perayaan ulang tahun bagi penerus perusahaan Abraham Company. Para tamu undangan sudah banyak yang berdatangan dengan pasangannya.
Perusahaan Gavind pun mendapatkan undangan, dan ini bisa jadi alasan Mitchel membawa Hana ke Turki.
Malam ini gadis itu cukup cantik dengan gaun berwarna soft pink, rambut panjangnya ia gerai menutup tengkuknya yang putih.
Gaun tanpa lengan itu membuatnya leluasa menggerakkan tangannya. Walau berungkali Mitchel memintanya mengenakan gaun yang menutupi area dada, Hana mengancam akan memilih tidur daripada ikut menghadiri pesta yang membosankan. Pada akhirnya Mitchel menyerah dan yah...membiarkan gadisnya itu mengenakan gaun yang dipilihnya.
Semoga tidak ada lelaki hidung belang yang menjadi korban bogem mentah melayang.
Ketika tirai ruang ganti tersikap, raut wajah Mitchel ternganga. Tak percaya. Gadisnya sangat cantik dengan dress pilihannya. Hana tersenyum padanya.
"Ehem...well. You look so beautiful. And i like it" puji Mitchel.
"Thanks"
"Hanya itu...?"
"Hemmm..."
"Kalau begitu mari kita berangkat..." ucap Mitchel sambil menggandeng tangan Hana.
"Hemmm...."
__ADS_1
Mitchel berhenti tiba-tiba, Hana yang tidak fokus menatap ke depan tiba-tiba menabrak punggung Mitchel
"Ouww !!! Kepala ku...? Itu punggung atau tembok cina sih. Sakitnya..."
"Kau sedang mencoba membalasku ya.." tanya Mitchel tak peduli.
"Maksudmu..."
"Hemm....hemmm itu"
"Hemm apa... !! Yang jelas kalau bicara. Aku tidak mengerti apa yang sedang kau tanyakan" sahut Hana sambil menggembungkan kedua pipinya kesal.
Mitchel gemas, tangannya terulur meraih tengkuk Hana, dan sebelah tangan yang lain meraih pinggang gadis itu. Jarak mereka berdua sangat dekat, hingga manager butik memberi perintah pada pegawainya agar meninggalkan ruangan.
**
"Baik tuan Abraham"
Abraham merogoh saku jasnya untuk mengambil ponselnya. Berulangkali menghubungi anak buahnya tapi tak kunjung dijawab. Ia menggeram kesal lalu meninggalkan koridor hotel.
Lima belas menit lagi pesta akan segera dimulai. Abraham kembali ke presiden suit menemui istri dan kedua anaknya.
**
Disisi lain benua...
__ADS_1
Diatap gedung yang menjulang tinggi, seorang anak muda dengan headphone melingkar di lehernya dan jemari yang sibuk mengetikkan kode-kode mematikan guna menerobos, merusak data-data bersifat privat milik suatu perusahaan besar. Seseorang memberinya pekerjaan untuk menggagalkan rencana musuhnya.
Deringan ponsel dibalik saku jaket kulit menghentikannya. Diletakkan ponsel itu ditelinganya.
"Sedang saya kerjakan tuan, saya pastikan tidak akan mengecewakan anda" jawab pemuda bermata sipit asal korea itu.
"Baik-baik. Sebagai hadiahnya saya akan mengirim virus A1 ke komputer mereka" lanjut pemuda itu menyeringai lalu menutup sambungan telponnya dan menyimpan kembali ponselnya ke saku jaket seperti semula.
**
"Kalian sudah siap, kita akan menyambut para tamu?" tanya Abraham ketika membuka pintu dan dilihatnya sang istri sedang mendandani putrinya, Zaenab.
Istri Abraham pun menoleh ke arah pintu, suaminya tampak selalu awet muda.
"Aku selalu mencintaimu, sayang" ucap Yasmin, istri Abraham itu membelai pipi suaminya dengan penuh kasih sayang.
Ekhem...ekhem...
Dehem Denis dan Zaenab serempak. Kedua orang tuanya pun serempak pula menoleh ke arah putra-putrinya.
"Kami pun sangat mencintai kalian berdua, ayah, ibu" sahut Denis dan Zaenab lagi-lagi bersamaan.
Sang ibu memeluk mereka, tak terasa air matanya menetes.
"Sebaiknya kita keluar sekarang, para tamu tentu sudah berdatangan. Mari sambut mereka" ucap Abraham memberikan selembar tissue pada istrinya.
__ADS_1
___________________❤❤___________________