Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 20


__ADS_3

episode 20 yg lumayan panjang hadiah untukmu selama ngaret seminggu. pls klik 🖒, komend dan ❤ sebagai semangatku.


**


"DASAR SEKRETARIS MURAHAN !!! "


PLAKKK !!!


Belum jam makan siang sudah dapat jatah tamparan. Tamparan sekuat tenaga yang dilayangkan Silvia calon tunangan bosnya, membuat pipi Hana membekas merah dan ujung bibirnya mengeluarkan darah.


Sungguh disayangkan ini harus terjadi sebelum cintanya mengakar dengan kuat di dalam sanubarinya. Bagaimana jika cinta yang ia tanam tertancam kuat maka akan sulit mencabutnya meski itu dengan paksaan. Haruskah Hana menyerah dan tak memperjuangkan cintanya?


Dia masih diam mematung sembari memegang pipi kirinya yang perih. "Kenapa kamu masih disini, haa !! Bentak Silvia marah.


"Siapa kamu mengusir karyawanku seenaknya! Suara Reymond meninggi mulai tersulut emosi.


"Sayang aku calon tunanganmu, aku kesini mem-


"Aku tak butuh perhatianmu...!! PRANGG !!


Reymond merampas bekal makan siangnya dari tangan Silvia dan melemparnya kelantai dan sudah pasti berhamburan isinya.


"Pergilah dulu, tenangkan dirimu ! Perintah Reymond yang mendapat tatapan sinis dari Hana.


Hana berjalan menuju toilet wanita, membuang kekesalan dan emosinya. Cemburu? itu pasti ! Bekas tamparan itu masih terasa di pipinya. Hana memandang pantulan dirinya dicermin. Sungguh berantakan. Dia membasuh wajahnya yang penuh airmata dan maskaranya luntur akibat menangis.


Sepertinya wanita itu kurang puas menyakiti dan mempermalukannya di depan bosnya. Sekarang dia masih punya nyali membuntuti Hana sampai ke toilet.


"Hohoho.... lihatlah wanita malang ini. Sungguh kasihan sekali hidupmu. Kamu sungguh tak pantas berada disisi Reymond. Hanya aku lah yang pantas mendampingi hidupnya" Ucap Silvia memprovokasi. Hana yang mendengarnya tak ingin memasukkan perkataan wanita siluman itu ke dalam hati. Ia mengambil tissu didalam box yang menempel di dinding dan mengusapkan ke wajahnya yang basah setelah mencuci mukanya dengan facial foam.

__ADS_1


Hana menatap ke arah Silvia yang menghalanginya keluar lalu dengan sedikit mencondongkan kepalanya, Hana berbisik "Kalau aku tak pantas.....maka siapapun tak kan aku biarkan berada di sisinya. Meski calon tunangannya itu sepertimu ! Tegas Hana menyenggol bahu Silvia yang terpaku melihat keberanian lawan bicaranya.


Memang aku seperti apa? Batin Silvia geram memandangi punggung Hana yang berlalu ke ruangan kerjanya.


**


Janji makan siang bersama Eric pun berlanjut, meski dalam hati kecil wanita itu tak bisa dipungkiri bahwa masih ada sebongkah kegelisahan akan hubungannya dengan Reymond. Mengingat kejadian hari ini membuatnya tak bersemangat.


"Hai ada apa dengan wajah cantikmu?" Tanya Eric yang dibalas dengan gelengan.


"Baiklah kalau tidak mau cerita, aku harap tidak mengganggu kinerjamu sebagai sekretaris pamanku." Ucap Eric menasehati dan lagi-lagi hanya dibalas dengan isyarat anggukan.


Keduanya makan siang dalam keheningan, meski sekelilingnya ramai orang yang datang ke acara pembukaan salah satu restoran China.


**


Derap langkah sepatu mendekat ke arah meja kerja Hana, wanita itu pun mendongak. Menyapa dengan sopan seorang pria yang tak lain adalah calon mantan pacarnya, yaitu


Ya Tuhan, apakah itu artinya mereka sudah memutuskan untuk berpisah?


"Selamat sore pak, apa anda akan pulang?" Sapa Hana sedikit membungkuk setengah badan.


"Kita akan lembur malam ini, koreksi kembali berkas-berkas yang akan dipresentasikan besok pagi jam sembilan. Dan pastikan tidak ada typo, kalau masih ada, saya akan memintamu mengulanginya meski itu sampai sepuluh kali !! Oh...ya buatkan kopi untuk saya sekarang" perintah Reymond kembali ke ruangannya.


"Baik pak " segera Hana menuju pantry membuat dua cangkir kopi, Luwak White Coffee kesukaan Hana apabila ia mendadak ada lembur seperti sekarang ini dan untuk bosnya adalah satu sendok teh kopi hitam dengan dua sendok teh gula pasir, itu takaran pas yang dibuat Hana untuk bosnya. Dan ia bersyukur bosnya itu menyukainya.


Setelah mengantarkan kopi ke ruangan bosnya, Hana kembali duduk ke meja kerja dan bersiap untuk merevisi berkas-berkas untuk rapat besok. Sesekali ia menyesap kopi luwak dengan penuh kenikmatan. Gelagat itu tak lepas dari pantauan Reymond dibalik Ipad-nya. Bagaimana Reymond bisa tahu? Tentu tahu, karena dia yang memasang mini camera disela-sela tanaman hias, disisi meja kerja Hana yang otomatis langsung terhubung ke Ipad Reymond. Sungguh licik bukan?


Jam 10 PM

__ADS_1


Huaaaa


"Tutup mulutmu ketika menguap ntar nyamuk ikutan masuk" ucap Reymond berdiri menyandarkan bahunya ke pintu ruangan sekretarisnya. Mendengar peringatan itu, Hana langsung merapatkan mulutnya. "Sudah malam sebaiknya ku antar kamu pulang dan akan ku jemput besok paginya." Tawar Reymond berharap sebuah kedamaian dalam hubungan mereka.


"Tidak perlu pak. Saya tidak ingin merepotkan bapak. Dan__"


"Bisakah kamu tidak bicara formal ketika kita berdua Hana"


"Maafkan saya pak. Bapak adalah atasan saya. Hubungan kita sekarang hanya sekedar bos dan karyawannya tidak lebih."


Jujur kalau boleh batinnya sesak mengatakan 'tidak lebih' padahal jelas hatinya sendiri dusta kalau masih ada rasa. Nyesek uuyy?


"Jadi kamu menolak tawaranku?" Tanya Reymond dan dibalas dengan anggukan. Dia pun menghela nafas, pasrah akan keras kepala sekretarisnya itu.


Hari yang melelahkan, Reymond melangkah ke ruangannya mengambil kunci mobil dan memakai jasnya. Ketika Reymond keluar menutup pintu ruang kerjanya, ia melihat Hana sudah berada di dalam lift yang mulai menutup pintunya.


"Ah wanita itu selalu mencoba melarikan diri. Sial !! " gumamnya kesal.


**


Semilir angin malam manyapu punggung tangan Hana yang polos tanpa sarung tangan. Sesekali terdengar gemeletuk antara gigi yang saling beradu, menandakan tubuhnya menggigil kedinginan. Jaket hoodie-nya tak mampu menghangatkan tubuhnya yang lelah. Andai ia tak menolak ajakan bosnya mungkin dia tak sampai menggigil seperti sekarang, sungguh wanita itu terlalu tinggi gengsinya. Hufftt


Segerombol pria yang juga bermotor berada tak jauh dari dibelakang Hana. Mereka mencoba saling menyalip di sisi kendaraan yang sama melintasi jalan. Terdengar begitu berisik ditelinga Hana, hingga ia pun menoleh ke belakang. Ada lima motor sport yang masing-masing saling membawa boncengan. "Oh.. God !! Semoga mereka tak menghampiriku, gumam Hana berkomat-kamit ria.


Sayang sekali doanya tidak langsung terkabul, geng motor itu mulai mendekati motor Hana. Wanita itu mencoba fokus ke depan, tapi memang kurang ajar mereka selaju apapun Hana mereka pun mampu mengimbangi.


Kini, dua motor sudah berada didepan Hana untuk menghalau kecepatan laju motornya. Begitu juga dibelakang dua motor mengepungnya serta satu lagi tepat disisi kirinya. Sialnya lagi sisi kanan yang harusnya jadi incaran untuk kabur dari himpitan preman jalanan ini lha kok malah bethon pembatas jalanan. Apes banget nasib mu Hana.


Akhirnya dengan jantung bergemuruh, ia memutuskan berhenti karena salah seorang preman itu menodongkan senjata tajam. "Oh My God apa mereka begal yang lagi pengen viral?"

__ADS_1


"Heeh.. turun loe !! Teriak preman bersenjata itu. Hana pun menurutinya. "Buka helm loe..cepat !!" Dengan polosnya wanita itu membuka helm full facenya, rambutnya yang ia ikat asal itu tergerai bak iklan shampoo, membuat para preman itu menganga mendapatkan mangsa yang....semriwing.


_____________________❤❤__________________


__ADS_2