
"*Jadi bisakah aku pulang sekarang"
"Pulang katamu...setelah semua perasaanku ini kau acuhkan dan mungkin kau sia-sia kan" ucap Reymond mencengkeram rahang Hana.
"Uhh...sa..kit.."
Reymond menjadi sisi yang gelap kejam dan tak berperasaan. Kali ini tangannya mencekik leher Hana. Gadis itu terdorong ke dinding. Reymond mencekiknya hingga tubuh Hana terangkat dan nafas gadis itu terputus-putus.
"Err..Rey...kau..menya..ki..tiku.." ucap Hana terbata*
**
"Apa kau baik-baik saja, nak. Aku khawatir denganmu, apalagi semenjak kau pulang dari kantor kau terlihat murung" ucap Ridwan cemas. Merangkul putrinya agar bersandar dibahu sang ayah.
"Hana baik-baik saja, papi. Jangan cemas. Oke" balas Hana dengan senyum dipaksakan.
Saat ini Hana dan ayahnya berada di dalam pesawat tujuan Sidney, Australia. Gadis itu kembali melamun. Pandangannya menatap awan putih terbalut cahaya senja yang menyilaukan mata. Nampak kacamata hitam menutupi kedua manik coklatnya yang mulai berkaca-kaca.
"*Pergilah...pergilah sejauh yang kau mau. Tapi ingat...aku tetap menunggu jawabanmu. Karena aku mencintaimu...mencintaimu sampai kau tak bisa melupakan aku. Hana...entah apa kesalahanku hingga kau ingin meninggalkan ak__"
"Kau tak bersalah apapun Rey, dan aku tak berniat meninggalkanmu, tapi kau lihat saat ini papi membutukan aku. Dan aku sudah memaafkan perbuatan yang kau lakukan tadi. Aku hanya kecewa padamu..."
"Hana..."
Gadis itu menoleh. "Aku mencintaimu" ucap Reymond pelan*
Bulir air mata jatuh tanpa sengaja. Dengan cepat Hana mengusapnya agar sang ayah tak melihat putrinya bersedih.
"Jika kau mencintainya nak. Maka katakan padanya bahwa kau mencintainya. Jangan membuat seorang pria menunggumu lebih lama. Apa kau ingin melihatnya terpuruk. Ikuti kata hatimu nak..." ucap Ridwan. Pria paruhbaya itu mengamati putrinya yang sedang diam-diam menangis sambil membaca panduan keselamatan yang terselip didepannya.
"Papi..."
"Papi tahu hubunganmu dengan putra keluarga Martin itu. Papi tahu kau juga mencintainya...benarkan?"
Hana mengangguk dan menundukkan kepalanya. "Pergilah...nak. Temui dia dan katakan apa yang ada dalam hatimu"
"Tapi dia menyakitiku pi. Kau lihat leherku memar..."
"Itu karena kau membuatnya menunggu hingga kau mampu menciptakan monster dalam dirinya. Belum ada kata terlambat selama kau mencobanya dan sebaiknya kau meluruskan masalahmu. Setelah itu, apapun keputusannya kau bisa menemui papi di Sidney atau tidak itu bisa kita bicarakan nanti"
Hening
Ridwan mengambil sebuah amplop putih dari dalam Jasnya dan memberikannya pada putrinya.
"Apa ini...pi"
"Hanya sebuah tiket kembali. Tapi jika kau masih ingin menemani papi kau boleh membuang amplop itu. Tentunya kau juga harus membuang perasaanmu pada pria bernama Temon itu"
"Namanya Reymond papi. Oh...astaga nama seindah itu dipanggil Temon" ucap Hana tercengang dengan candaan ayahnya. Hening. Tak lama mereka tertawa bersama.
"See, kau membelanya. Hanya menyebutkan namanya saja kau kembali tertawa putriku" ucap Ridwan merentangkan kedua tangannya. Hana memeluk ayahnya. Ayahnya kini menjadi tempat gadis itu mencurahkan keluh kesahnya setelah sang ibu tiada.
"Thank you so much...papi"
"Everything for you mylove. Lihatlah gadis kecilku sudah menemukan kekasihnya. Apa kau akan meninggalkan papi jika kau menikah nanti___" Hana menatap ayahnya "jangan tatap papimu seperti itu myprincess. Oke...baiklah kita tak membicarakan sesuatu yang belum pasti, tapi jika kau menikah dengannya tentu papi akan sendiri lagi"
Hana memeluk ayahnya lagi "Kalau begitu aku tak perlu menikah dan menemani papi seumur hidup, bagaimana"
Kini giliran Ridwan yang tercengang "Itu keputusan yang buruk sayang dan papi tak setuju dengan pemikiranmu yang konyol itu" ucap Ridwan lalu memakai kacamata hitamnya karena seseorang sepertinya memperhatikanya sedari tadi.
**
"Kau kehilangan jejak tentang kelemahan musuhku. Dasar brengsek!! " ucap pria itu dengan kasar menendang anak buahnya hingga tersungkur.
"Aku tak mau tahu, waktumu dua puluh empat jam dari sekarang cari wanita itu dan bunuh dia...oh tidak-tidak bawa dia hidup-hidup kemari" ucap seorang pria dengan bekas luka goresan di sepanjang pipinya itu menyeringai bak iblis.
"Baik sir. Saya permisi"
"Sial kau Gavind. Aku sangat yakin kau pasti punya kelemahan dan aku akan menunggumu untuk menghancurkanmu dan segala yang kau punya" ucap pria itu.
**
__ADS_1
Los Angeles
Minggu pagi yang cerah tapi suhu tetap dingin dan sepanjang penglihatan nampak putih tertutup salju tebal.
"Apa dia masih mengingatku" tanya Mitchel pada dirinya sendiri. Pria itu dibalkon kamarnya. Segelas red wine berada ditangannya. Sesekali mencium aroma wine dan menyesapnya perlahan.
Febio yang mendengarnya itu pun mendekat, " Mungkin saja tuan. Apa kau ingin menambah wine-nya? Sepertinya tuan masih ingin berada diluar lebih lama?"
Mitchel menatap gelasnya yang sudah tandas lalu meminta Febio menambahkannya.
"Apa kau dapat kabarnya Febio" tanya Mitchel.
Febio menatap tuannya yang menghadap ke balkon menunggu jawaban. "Nona Hana sejauh ini baik-baik saja. Hanya saja akhir-akhir ini informan kita mengatakan ada yang mengincar keberadaan nona Hana. Tapi saya belum tahu pasti siapa dalangnya tuan" ucapan Febio membuat tuannya berbalik menatapnya.
"Sejak kapan orang itu mengincar Hana"
"Dua hari yang lalu"
Kriing...kringg
"Sebentar tuan saya perlu mengangkat panggilan ini" ucap Febio dan Mitchel mengangguk.
"Ada apa..." tanya Febio pada orang diseberang telp. Asistennya itu berdiri menjauh dari Mitchel yang masih berada di balkon.
"Awasi pergerakannya. Jangan menganggap remeh musuh lama kita. Kau mengerti.....oke"
Febio memutus panggilannya sepihak dan berjalan mendekat. "Tuan, ada kabar buruk" Mitchel langsung membalikkan badan "Rolex. Dia kembali tuan dan rupanya Rolex juga yang meminta anak buahnya memata-matai nona Hana saat nona berada di Sidney dan saat pemakaman ibunya di Jakarta" ucap Febio.
Mitchel mendengar itu mengepalkan tangannya "Rolex...Rolex... si pengacau itu" Mitchel menyeringai. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan Febio" lanjut Mitchel.
"Iya tuan. Saya undur diri. Oh ya tuan bunga mawar yang indah..." ucap Febio yang memandang sebuah vas bunga dengan beberapa tangkai mawar merah diatasnya.
Mitchel mengikuti arah Febio memandang. "Oh...mawar itu. Aku hanya sedang merindukannya saja. Pergilah Febio"
"Saya permisi..."
Setelah kepergian Febio, Mitchel pergi ke kamar Hana dan menutup pintunya. Setiap kali pria itu merindukan sosok Hana, ia akan masuk kekamar milik wanita itu dan duduk didepan piano. Mitchel sengaja meletakkan piano itu dikamar Hana agar Mitchel bisa meredakan kerinduannya.
Jemari kekar itu begitu lihai menekan tuts piano seiring sebuah lagu lama dari Elemen band yang Mitchel nyanyikan. Meski ia terlahir sebagai blasteran Asia-Amerika tapi Mitchel fasih berbahasa Indonesia.
Tanpa kusadari yang ada hanya aku dan kenangan
Masih teringat jelas
Senyum terakhir yang kau beri untukku
Tak pernah 'ku mencoba
Dan tak ingin 'ku mengisi hatiku dengan cinta yang lain
Kan kubiarkan ruang hampa di dalam hidupku
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
Namun bila 'ku harus tanpamu
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Hanya dirimu yang pernah
Tenangkanku dalam pelukmu
Saat 'ku menangis
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
Namun bila 'ku harus tanpamu
__ADS_1
Akan tetap kuarungi hidup tanpa cinta
Bila aku harus mencintai
Dan berbagi hati itu hanya denganmu
Namun bila harus tanpamu
Akan tetap kuarungi hidup tanpa bercinta
Tak pernah 'ku mencoba
Dan tak ingin 'ku mengisi hatiku*
Mitchel beranjak keluar dari kamar Hana dan membanting pintu dengan kasar. Selalu seperti itu, hatinya sudah terpatri dengan sebuah nama. Dan Hana lah yang memenuhi seluruh ruang hati Mitchel saat ini.
"I miss u Hana..." ucap Mitchel didepan sebuah bingkai foto seorang wanita yang sedang memetik bunga mawar dengan floppy-hatnya. Foto terakhir yang mitchel ambil secara candid
**
Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta
"Dear passenger. a passenger named Rayhana is invited to the information service center. once again a passenger named Rayhana is requested at the information service center. thank you.
"Penumpang yang terhormat. Penumpang yang bernama Rayhana di mohon ke pusat layanan informasi. sekali lagi penumpang bernama Rayhana di mohon ke pusat layanan informasi. terima kasih" ucap seorang petugas pelayanan informasi di bandara itu.
"Eh...bukannya tadi itu namaku. Tapi apa maksudnya...sebaiknya aku kesana. Barangkali ada sesuatu milikku yang hilang" Hana bergegas ke tempat yang dimaksud suara tadi, padahal mobil jemputannya tak lama lagi datang untuk menjemputnya.
"Permisi...saya Rayhana. Apa anda menemukan suatu barang milik saya yang hilang" tanya Hana pada seorang petugas yang rupanya seorang wanita. Dan petugas itu tersenyum membuat Hana semakin bingung.
"Nona anda tidak kehilangan sesuatu tapi anda meninggalkannya tanpa berharap untuk membawanya pergi bersama mu" ucap petugas wanita itu membuat Hana semakin tak mengerti.
"Maksud anda...?" tanya Hana dan lagi-lagi dibuatnya seperti orang bodoh di depan petugas bandara itu hingga suara yang ia kenal membuatnya gugup.
"Kau meninggalkan aku sayang. Kemarilah..." suara itu milik Reymond. Pria itu terlihat semakin tampan dengan balutan jas formalnya. Reymond merentangkan kedua tangannya.
Hana menutup mulutnya yang menganga. Dia berlari ke arah Reymond. Memeluknya erat dan Reymond membalas pelukannya tak kalah erat karena bahagianya. Entah siapa dan kenapa Reymond harus berada di bandara. Hana tak tahu.
Hana mengurai pelukannya karena banyak pengunjung dan petugas bandara menonton. Ketika pandangannya kembali gadis itu melihat Reymond bertekuk dengan sebelah lututnya dan ditangannya terdapat sebuah kotak beludru berwarna merah dengan cincin indah didalamnya.
"Will you marry me ?"
Hana lagi-lagi menutup mulutnya yang menganga tak percaya.
"Terimalah sayang.." suara itu milik Ridwan, ayahnya.
Hana menoleh ke belakang "Papi...kau"
"Jika kau mencintainya kau takkan membuatnya berlutut dan menjadi tontonan orang banyak bukan? Ucap Ridwan membuat Hana menoleh ke arah sekelilingnya dan benar banyak orang menatap dan bahkan ada yang mengabadikan moment ini diponsel mereka.
"Menikahlah dengan ku Hana..." ucap Reymond penuh harap.
Hana mengangguk "iya...aku mau menikah denganmu" Reymond berdiri dan menyematkan cincin itu ke jari manis Hana kemudian memeluknya.
Sorak sorai terdengar dari para pengunjung bandara termasuk petugas wanita tadi turut tersenyum.
"Selamat datang dikeluarga Martin putriku..." suara asing itu milik Norman, ayah Reymond. Dan disebelahnya berdiri ada Sarah dengan senyum bahagia melihat putranya menemukan pasangan hidupnya.
_______________❤❤_______________
***Extra dialog...
Eric : aku jarang dimunculin sama authornya.
Intan : sama aku juga.
Eric : itu karena author lagi deket sama pria bule itu yang katanya blasteran.
Sherlya: jadi kalian berdua g terima. Oke ntar gue matiin aja peran kalian.
Intan : mampus loe ric...
__ADS_1
Eric : loe juga miss piyama mo dimatiin sama author.
Sherlya : berisikkkkk !!! episode ini mencoba sedikit panjang so, aku mau vote nya juga nambah dong... thanks reader semua***.