
Maaf kalo typo. Smg readers suka. N maaf baru update ya. Because im sibuk. Ok happy reading.
**
Intan telah meninggalkan rumah sakit tiga puluh menit yang lalu. Kini diruang VVIP itu hanya Reymond dan Hana yang masih berbaring enggan membuka mata.
Perlahan Reymond menggenggam jemari Hana erat. Sesekali dikecup punggung tangan wanita lemah itu. Kini kedua matanya mulai berkaca-kaca mengingat kembali pertemuan mereka yang berakhir dirumah sakit akibat penyakit trauma yang Hana derita sedari kecil.
Moment yang kedua, itu terjadi karena ulah isengnya yang menjadi brutal hendak memperkosa wanitanya dan berakhir ke rumah sakit akibat pecahan kaca yang menancam di telapak kaki Hana.
Dan sekarang___ia semakin menundukkan wajah terisak merasa begitu bersalah dan terus menerus menyakiti wanita yang ia cintai.
Bayangan masa lalunya terus berputar bak kaset di kepala Reymond. Dan sebuah keputusan telak dari Hana yang meninggalkan hidupnya begitu juga dengan cinta yang masih menggantung menunggu jawaban.
"Maafkan aku. Tolong maafkan aku yang belum mampu menjaga mu." Isaknya.
"Maafkan aku yang belum bisa menepati janji papimu. Tapi kumohon beri aku kesempatan bahwa aku layak menjaga mu."
"Bangunlah sayang___aku menderita melihat mu begini "
"Aku mencintai mu Rayhana, please bangunlah?" Pinta Reymond ditengah isaknya.
"Apa kamu tidak merindukanku? Tanyanya.
Tiba-tiba
__ADS_1
DUKK
Sebuah kepalan tangan yang tersambung dengan selang infus memukul kepala Reymond yang menunduk terisak tangis di tepi bangkar. Reymond tidak mengaduh karena pukulan itu terasa ringan dikepalanya. Tapi membuat Reymond melotot tak percaya, wanita pujaannya kini telah membuka mata.
"Hana___kau__kau sudah sadar? Tanya Reymond tak percaya.
"Iya, aku sudah sadar sejak kau terus menangis seperti seorang wanita patah hati" kata Hana dengan suara parau.
"Memang aku patah hati, tunggu disini aku akan panggilkan dokter untuk memeriksa kondisimu"
Reymond berlari dengan hati gembira. Terima kasih Tuhan kau telah mengabulkan doa ku, gumamnya tersenyum.
Seorang dokter tengah memeriksa kondisi Hana dan mengatakan untuk bedrest total sampai lengannya yang retak pulih. Tapi bukan Hana kalau ia akan menuruti saran dokter, Hana menolak berlama-lama di rumah sakit dengan alasan bau obat-obatan yang membuat nafsu makannya hilang. Setelah berdebatan yang melelahkan orang yang mengalah kali ini adalah Reymond.
"Apa?"
"Pertama, kita akan pulang besok lusa. Dan kedua, aku sendiri yang akan merawatmu selama pengobatan dirumah."
"Tapi ada In__"
"Tidak ada tapi-tapian. Ikuti perintah ku atau kau tetap menjalani pengobatan dirumah sakit. Dan itu akan membuat mu tersiksa kelaparan" ancam Reymond bersidekap.
"Baiklah" jawab Hana mendengus kesal.
"Kau ingin minum air putih? Tanya Reymond dan dijawab dengan anggukan.
__ADS_1
Reymond menuangkan air minum di gelas lalu menyodorkan ke Hana. Wanita itu meneguknya sampai tandas. Bibirnya yang kering kini terbasuh dengan air. Hana **** bibirnya yang kering. Birahi prianya tergoda hanya karena sapuan lidah Hana dibibirnya yang kering.
Hana membelalakkan mata, tiba-tiba benda kenyal mendarat di bibirnya. Reymond mencium bibir ranum Hana. Ciuman Reymond yang lembut namun menuntut. Hana masih terdiam tanpa membalas ciuman Reymond tapi di detik berikutnya wanita itu membalas ciuman Reymond dan mengimbanginya. Tangannya meraih gelas yang dipegang Hana kemudian menaruhnya dinakas tanpa melepaskan ciumannya. Keduanya memperdalam ciumannya, tanpa sadar diambang pintu ada seseorang yang ikut menikmati pemandangan yang menggairahkan.
"Sebaiknya kalian meneruskannya diranjangmu paman, dan perlu kalian ingat ini rumah sakit" ucap Eric yang berjalan mendekat ke arah Reymond dan Hana tanpa memperdulikan tatapan tidak suka dari Reymond. Di tangannya ada sebuket bunga mawar putih.
Hana tersipu mendengar kata-kata Eric. "Terima kasih atas bunganya dan terima kasih telah menjengukku Eric" Eric memberikan buket bunga mawar itu pada Hana.
"Ti__"
Ucapan Eric terpotong karena Reymond berteriak protes "Jadi sebuket mawar lebih berharga daripada aku yang menjagamu?"
Eric dan Hana menggelengkan kepala melihat sikap Reymond seperti anak SD yang merajuk.
"Aku tahu kalian pasti mengataiku kekanakan? Benarkan?" Eric dan Hana saling berpandangan menahan tawa.
"Kemarilah" pinta Hana agar Reymond mendekat. Hana sedikit mencondongkan wajahnya ke telinga Reymond, "Bukankah ciuman tadi menandakan iya padamu".
Mendengar bisikan Hana, semburat merah nampak dipipi Reymond. Eric memalingkan wajah melihat keromantisan dua orang dihadapannya.
"Baiklah, aku akan kembali ke kantor, cepat sembuh manis ku" ucap Eric mengecup kening Hana tiba-tiba.
Hana menoleh ke arah Eric yang tersenyum melangkah keluar dari kamar rawatnya. Seolah tak peduli caci maki dari pamannya.
Pintu kamar VVIP itu telah Eric tutup. Dirinya belum beranjak pergi, ia hanya menyandarkan bahunya pada dinding rumah sakit. Sebagai seorang pria baru kali ini ia merasa tak nyaman dengan perasaannya pada wanita. Terlebih wanita itu juga kekasih pamannya.
__ADS_1