Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 32


__ADS_3

Kelopak mata terpejam itu bergerak pelan diiringi gerakan jemari yang berkedut. Mitchel menghentikan jarinya yang sedang berkutat didepan laptop lalu menoleh ke arah wanita yang berbaring diranjang.


Sudah tiga bulan lamanya Mitchel menunggu kesadaran wanita asing yang entah kenapa Mitchel menaruh rasa peduli padanya. Sampai-sampai pekerjaan dikantornya ia selesaikan di rumah, hanya untuk memonitor secara langsung kondisi Hana.


Mitchel menggeser kursinya mendekat, memastikan kedua matanya benar dengan apa yang ia lihat. Wanita itu sadar seiring dengan penglihatannya yang buram perlahan mulai jelas.


Hana mengedarkan pandangannya kembali memastikan bahwa ia tidak sedang di rumah sakit. Benar, lebih tepatnya sebuah kamar, yang indah dan berkesan mewah. Pandangannya beralih ke sosok pria yang sedang memegang ponsel ditelinganya. Entah siapa yang dia hubungi.


"Kau sudah sadar? Sebentar lagi dokter akan kemari memeriksamu" Mitchel memasukkan ponselnya kembali ke dalam kantong celananya dan duduk disebelah Hana.


Hana mengangguk pelan. "Ini dimana? tanya Hana lirih tapi Mitchel mampu mendengarnya.


Jawaban Mitchel tertahan dengan adanya suara ketukan dan muncul lah Febio beserta seorang dokter pribadi keluarga Gavind. Dokter tampan dan lebih muda tiga tahun dari Mitchel, dialah Doughlas Lerman. Setelah memperkenalkan diri Doughlas memeriksa kondisi Hana. Mitchel yang berdiri di lain sisi ranjang itu menatap aneh ke arah Doughlas. Mitchel berdecih lalu beranjak keluar kamar ketika Febio berjalan mengikutinya.


"Tuan, informan kita mengatakan putra Tuan Martin telah menemukan keberadaan kita"


"Biarkan saja, kalau perlu sambut mereka dengan baik" jawab Mitchel dingin meneguk wine mahalnya.


"Tapi, tuan...kalau tuan Reymond meminta nona Hana kembali...apa tuan akan membiarkannya pergi?" Tanya Febio hati-hati.


Hening


Perkataan Febio seperti bongkahan batu besar menghantam dada bidangnya. Sesak. Itu yang Mitchel rasakan.


"Itu bukan urusanku..." balas Mitchel memalingkan wajahnya. "Apakah benar itu bukan urusanku. Aku menjaganya selama ini, ah...entahlah" bathinnya.


Jawaban tuannya membuat Febio tersenyum bahwa dugaannya selama tiga bulan ini benar tuannya telah menaruh hatinya pada wanita Asia itu.


"Kondisinya stabil dia juga tidak amnesia seperti dugaanmu sebelumnya, hanya perlu istirahat sampai kondisinya dinyatakan fit baru pasien bisa melakukan aktivitasnya kembali" suara Doughlas memecah keheningan lalu mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu. Begitulah Doughlas telah menganggap Mitchel sebagai teman jadi mereka berdua bebas berbicara santai karena selain dokter pribadi keluarga Gavind Doughlas merupakan sahabat kecil Mitchel.


Mitchel menganggukan kepala. Tak lama ponsel milik Douglas berdering seseorang diseberang sana memintanya segera ke rumah sakit karena ada pasien kritis.


Setelah kepergian Doughlas, Mitchel menghampiri kamar Hana. Perlahan ia membuka pintu agar tak membangunkan sang pasien.


"Hi..." sapa Hana dengan senyuman.


"Aku pikir kau terlelap" Mitchel menggeser kursinya mendekat.


"Mataku terlalu kenyang untuk kembali terpejam" Mitchel terkekeh  dengan candaan Hana.

__ADS_1


"Dan kamar ini sangat disayangkan jika penghuninya hanya menghabiskanya dengan tertidur, kau mengerti maksudku?" Hana menatap  pria dihapadannya dengan ekspresi yang sulit diartikan.


"Maaf jika tidak sesuai dengan keinginanmu, nona__?" Mitchel menjeda kalimatnya.


"Rayhana__" Hana menjabat tangan Mitchel dan Mitchel pun memperkenalkan diri. "Mitchel Gavind" balasnya dengan senyuman.


Sejenak Hana terpesona dengan wajah tampannya, namun wajah seseorang menepis keterpesonaanya. Dia merindukannya?


"Hapus keterpesonaanmu nona dan beristirahatlah" Mitchel melepas tautan jemarinya dan bersidekap.


Pipi Hana memerah ketahuan memperhatikan sang pemilik mession, "Salahkan wajah mu yang tampan Mister" ujarnya mengerucutkan bibirnya.


"Apa kau mulai tertarik dengan orang asing, heh" Mitchel kembali mendekat. Hana mengerjap ketika tubuh Mitchel mendekat ke arahnya, kini wajahnya begitu dekat hingga terasa deru nafasnya.


Hana menahan nafasnya. "I just kidding sir, please don't take it to heart" ucapnya lirih. Mitchel pun memundurkan wajahnya lalu melangkah keluar dengan seulas senyum.


"Terima kasih__" Mitchel membalikkan tubuhnya. "Aku suka kamarnya" Hana tersenyum tulus.


Mitchel turut tersenyum. "Senang jika kau menyukainya" Mitchel menutup pintu perlahan. Tubuh kokoh itu luruh ke lantai. Punggung nya bersandar diluar pintu, kedua tangannya memeluk kedua lutut. Kepalanya menunduk menutupi kesedihannya di masa lalu. Masa dimana dirinya terkhianati oleh cinta. Hati yang yang pernah meleleh itu kembali membeku berselimut kebencian. Mitchel menyesal mengenal cinta membuatnya menjadi sosok lemah.


**


Waktu dini hari, seseorang wanita mengendap-endap menuruni anak tangga. Dia mengambil gelas di kabinet hendak menuang susu dan mengembalikan botol susu itu ke dalam kulkas. Suara bariton menggema di seluruh ruangan itu.


PRAAANG


Hana membalikkan tubuhnya dengan rasa takut yang menjalar. Dia bukan pencuri tetapi perut Hana tidak bisa diajak kompromi dan ia hanya mengandalkan selang infus yang masih menempel di punggung tangan kirinya. Saking takutnya, tak sadar posisi kantong cairan infus itu jatuh ke lantai bersamaan gelas susu yang pecah.


Mitchel berjalan mendekat. "Ma...maafkan aku mister... I'm hungry..." tubuh Hana gemetar ketakutan ditatap oleh mata elang milik sang billioner.


Kedua tangan Mitchel mendorong bahu Hana hingga punggungnya menyentuh pintu Kulkas. Mengunci pergerakan mangsanya. Tanpa permisi, Mitchel meraup bibir ranum Hana. Hana membeku ditempat tapi tak membalas ciuman Mitchel yang perlahan semakin kasar hingga wanita itu bisa merasakan lidah Mitchel mengeksplor setiap inci didalamnya. Tersadar dari keterkejutannya, wanita itu mendorong bahu Mitchel, ada jejak alkhohol di bibir Hana.


"Kau mabuk tuan Mitchel.." tak ada jawaban dari lawan bicaranya. Mitchel menunduk mengambil kantong infus yang tergeletak dilantai dan mengangkatnya tinggi-tinggi karena darah merah perlahan bercampur di selang infus.


"Ayo..." rangkul Mitchel tak bersalah setelah apa yang pria itu lakukan pada Hana. "Pengen gue tampol pake tutup panci tu muka. Sialnya ganteng" logatnya.


"What are u saying just now?"


"Em...nothing" Hana sampai lupa soal lapar.

__ADS_1


"Apa kau percaya jika aku bisa bahasa negaramu" Mitchel tersenyum devil


"Aku tidak yakin" Hana mendongak ke samping, " Apa dia benar-benar mabuk atau pura-pura..." bathinnya.


"Terserah" jawab Mitchel mengunakan bahasa Indonesia.


"Apanya..." Hana menghentikan langkahnya. "Eh...kau bisa bahasa negara ku" tanya Hana girang dan lagi-lagi tak ada jawaban.


Mitchel berjalan sempoyongan ke kamar Hana lalu berbaring diatas ranjang milik Hana setelah menyerahkan kantong infus pada wanita itu.


**


"Ergh..." Hana mengerang merasakan ada sesuatu yang melilit perutnya dengan kencang. Kelopak mata Hana terbuka lebar mendapati tangan berotot seseorang melingkar ditubuhnya. Hana menggeser posisinya. Mitchel terlelap disampingnya masih dalam posisi memeluk bahkan sekarang pelukan itu semakin erat.


Hana berdehem berharap pria yang memeluknya itu melepaskan pelukannya. Tapi tidak. Malah wajah Mitchel semakin disembunyikan diceruk lehernya mencari kenyamanan. Ruangan itu masih gelap meski mentari udah beranjak naik.


Minggu pertama setelah Hana tersadar dari komanya dan nanti sore ia akan bertemu kembali dengan dokter tampan yang namanya susah untuk disebutkan. "Dog...Dogh" eh..itu kan artinya anjing.."


Mitchel terkekeh pelan tanpa suara. Pria itu sudah bangun sebenarnya ketika Hana men-toel pipi Mitchel beberapa menit yang lalu namun tak juga kunjung bangun.


"Ah..iya Doughlas..." pekiknya senang bisa mengingat dokter yang menanganinya minggu lalu.


"Jangan sebut nama pria lain saat kita hanya berdua" ucap Mitchel menangkup wajah Hana memberinya kecupan di pipi.


"Ingatkan aku untuk mengunci pintu ketika malam hari. Aku tak mau ada yang menyelinap masuk ke kamar ku" ucap Hana sarkas.


"Ini manssion ku nona. Siapa yang berani melarang ku" Mitchel menyandarkan punggunya dikepala ranjang.


Hana beringsut menjauh tapi tertahan. "Apa lagi?"


"Bersihkan dirimu kita akan ke suatu tempat" ajak Mitchel seraya tersenyum.


Deg!


"Anggap sebagai permintaan maaf ku karena tidur dikamarmu"


Ucapan Mitchel sama persis dengan Reymond. Dimana Reymond mengalah dan mengajaknya pergi weekend tapi Hana sendiri akhirnya yang membatalkan dan memilih kembali ke Jakarta waktu itu. Bayangan itu kembali datang dalam sosok seorang wanita seusianya. Ya, wanita itu Intan... mengingatnya membuat air mata Hana luruh.


Mitchel segera mendekap tubuh Hana. "Jika masa lalu menyakitkan, tidak perlu kau ingat cukup kau tutup masa lalumu lalu mulai lah lembaran baru mu untuk masa depan" ucap Mitchel menenangkan Hana dan kata-kata itu berlaku untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


Hana mengangguk, mengurai pelukan kemudian berjalan ke kamar mandi. Mitchel beralih ke walk in closet memilih pakaian yang cocok dengan perjalanan hari ini dengan wanitanya.


_____________________❤❤__________________


__ADS_2