Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 28


__ADS_3

"Bener ni mang alamatnya?"


Mang Ujang yang ditanya pun mengangguk pasti.


Intan yang mendengar percakapan dua orang di depannya hanya menatap bingung. Bingung dengan ucapan Eric yang sok-sok'an bikin kejutan, lalu ini apa? Alamat aja dia harus bertanya dengan seorang warga. Setelah berterima kasih keduanya pun masuk ke dalam mobil dan menjalankan mobilnya ke arah jalanan beraspal yang menanjak tinggi dan berakhir ke sebuah villa pribadi milik pamannya.


"Kenapa sedari tadi kau menatap ku Tan" tanya Eric penasaran.


"Tan?" Batin Intan.


"Tidak ada. Mungkin perasaanmu saja" Intan mengalihkan pandangannya ke samping yang semua pemandangan berwarna hijau.


Meski lelah selama perjalanan tak mengurangi niatnya menjenguk sahabatnya. Dia sangat merindukannya.


Mobil terparkir rapi. Villa yang sungguh indah serta nyaman. Sudah lima menit Eric maupun Intan mengetuk pintu tapi tak seorang pun yang membukanya.


"Tidak ada siapa pun. Apa mereka berdua pergi? Apa tidak ada bibi yang menjaga rumah atau tukang kebun yang tinggal disini?"


"Entahlah, aku juga pertama kali menginjak kota Bandung semenjak ke pulangan ku dari Singapore" jawab Eric sambil mengangkat kedua bahunya.


"Cih. Cobalah menghubunginya" Intan tak sabar ingin bertemu dengan Hana. Memastikan keadaannya baik-baik saja.


"Kalau menghubunginya, bukan suprise namanya, Tan?


Keduanya terus ber-argumen seperti anak kecil yang merebutkan mainan. Tak lama kemudian, sebuah mobil  berhenti di sisi mobil milik Eric.


"Apa yang mereka lakukan di sini? Tanya Reymond memicingkan mata di dalam mobil sembari melepas seatbelt-nya.


"Siapa ?" Bukannya menjawab Hana malah balik bertanya. Reymond menunjuk dengan dagunya sambil melepas seatbelt yang melingkar di tubuh Hana, wanita itu mengikuti arah dagu Reymond. Senyum lebar tercetak diwajah Hana.


Wajah mendungnya berubah cerah. Setengah berlari Hana menyambut  Intan sahabatnya yang sangat ia rindukan.


"Intan____"


"Hana____"


"Aku merindukan mu, sangat" ujar Hana dalam pelukannya.


"Aku pun sangat kesepian di apartemen tanpa dirimu, berterima kasihlah padanya yang mengantar ku kesini" Intan menoleh ke arah Eric.

__ADS_1


Pelukannya kini beralih ke Eric yang tersenyum melihat dua orang sahabat yang saling melepas rindu.


"Terima kasih, kamu telah membawakan obat ku"


"Obat ?" Eric menautkan kedua alisnya tak mengerti.


Hana mengurai pelukannya. "Iya, obat rindu ku adalah dia" tangan Hana mengenggam jemari sahabatnya. Kemudian sekali lagi memeluk Intan rindu.


"Lihatlah kalian bertiga seperti Teletubbies" Reymond melangkah masuk ke dalam sambil menenteng dua kantong plastik berisi buah yang dibelinya ketika perjalanan pulang ke villanya.


"Dan kau Tingky Wingky-nya paman" Jawaban Eric menghentikan langkah Reymond dan semua tergelak kecuali Reymond yang mendengus kesal mendengarnya.


Reymond berbalik, "Dasar keponakan kurang ajar" ujarnya.


Beruntung villa besar itu memiliki banyak kamar jadi masing-masing bisa istirahat dikamar tamu.


"Bagaimana kondisimu? Tanya Intan yang sedang menuangkan air panas ke cangkir teh.


"Berangsur membaik, minggu depan gipsnya bisa akan dilepas. Aku tak mampu berpikir apa jadinya jika bosku tidak menolongku waktu itu. Mungkin aku sudah mati. Dan pasti mami sama papi sangat sedih. Intan, aku merindukan mereka dan aku belum sempat menjenguknya di Sidney"


Intan memeluk sahabatnya. Turut bersedih dengan apa yang dialami oleh Hana.


"Tenanglah, om dan tante baik-baik saja aku pastikan itu" ujar Intan mengurai pelukannya.


Setengah jam kemudian, masakan Intan dan Hana selesai. Walau dilarang sekeras apapun Hana tetap bersikeras membantu Intan di dapur dan jadilah Chicken curry, masakan kesukaan Hana. Keduanya memang pandai memasak itu yang membuat mereka selalu kompak dalam hal memasak.


"Ini biar aku yang siapin di meja. Kamu bersihkan dirimu sana" mengibaskan jemarinya tanda mengusir.


"Cih. Iya. Aku ke kamar dulu" Hana pergi ke kamarnya di lantai dua.


Sedangkan Intan masih sibuk menyusun makan malam di atas meja. Dirasa sudah siap dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Ketika melewati ruang tamu, ia melihat seseorang yang terlelap di sofa yang masih lengkap dengan jaket kulitnya. Intan hanya menggelengkan kepala lalu berjalan ke arah kamarnya.


**


Usai makan malam dengan Reymond yang mendapat jatah giliran cuci piring, sebenarnya Reymond melakukannya karena mereka berempat adu suit. Dan yang kalah harus cuci piring. Rupanya Hana sangat payah dalam permainan hingga mengharuskannya melakukan tugas itu. Beruntung Reymond menggantikan tugasnya mencuci piring secara lengannya masih di balut gips.


Kini mereka berempat duduk bersantai di ruang tengah sambil menonton film action.


"Besok jadi kan ? Hana menyenggol lengan Reymond yang sedang serius menonton film barat itu.

__ADS_1


Reymond menoleh. "Hem__Jadi apa? Hana mendengus kesal. "Ditanya malah bali tanya? Setengah berbisik, "Bukannya kamu bilang weekend kita jalan? Gimana sih?"


"Emang kamu mau pergi kemana? Tanya Reymond.


"Sepertinya selama seminggu kalian berdua betah banget tinggal di villa yang sepi" sela Eric sambil menyesap teh yang mulai dingin.


"Sebenarnya sih, aku takut juga kalo suasananya terlalu sepi" Hana merapatkan duduknya ke Intan.


Hening


"Mendadak horror..." kata Intan.


"Ish...jangan nakutin dong" Hana memukul lengan sahabatnya. Intan hanya menyengir.


"Besok kita mau kemana enaknya" Ucapan Reymond akhirnya mengusir keheningan. Film yang mereka tonton telah selesai sejam yang lalu.


"Ah, gimana kalau kita ke kawah putih" sorak Intan membuat ketiganya terlonjak kaget.


"Ouh...pantas tadi pagi, ada yang sibuk searching rupanya...oh rupanya" sindir Eric pada seseorang.


"Biarin, daripada situ sok-sok'an bikin suprise eh ujung-ujungnya nanya alamat juga" Intan menjulurkan lidahnya persis anak kecil tidak mau mengalah.


"Kau__"


"Apa__emang nyatanya begitu" sergah Intan.


"Sudahlah jangan berdebat" Hana melerai. "Gimana, apa kamu setuju kita kesana?" Hana menatap Reymond yang tengah asyik bermain game. Karena tak dijawab, Hana merebut ponsel Reymond dan mematikan powernya.


"Aduh, mati hero ku"


"Pfftt__lagian dari tadi di tanya nggak langsung di jawab sih"


"Beraninya.. awas kamu ya, nih balasannya" Reymond menggelitik perut Hana. Keduanya tergelak sedangkan Intan hanya tersenyum bahagia melihat sahabatnya tertawa.


Eric dan Intan hanya jadi penonton drama didepan mereka. Intan melihat sekilas ke arah Eric yang sama memperhatikan tingkah konyol paman dan sekretarisnya itu. Intan menatap Eric dan beralih ke sahabatnya. Tatapan apa itu?


"DING"


Sebuah pesan chat masuk di ponsel Intan. Terlihat jelas di layar ponselnya tertulis.

__ADS_1


"KAMU SUDAH MEMBERITAHUNYA"


Seketika raut wajah Intan berubah cemas.


__ADS_2