
St Vincent Hospital, Sidney
Mesin Elektrokardiograf terus memantau detak jantung sang pasien yang sedang terbaring lemah. Seluruh hidupnya menggantungkan alat medis itu dan tiap orang yang menjenguknya pasti trenyuh melihat kondisi si pasien.
Wajah yang mulai menua itu duduk menggenggam telapak tangan sang istri. Berharap kebahagiaan lah yang menggantikan wajah lelah di usia senjanya. Walau terlihat tegar diluar pria paruhbaya itu cukup memilukan menjalani hari-harinya menemani sang istri terbaring dan sampai detik ini ia selalu berdoa bahwa putri semata wayangnya masih hidup sebagai penyembuh bagi bundanya. Sang ayah begitu frustasi tanpa keduanya, istri dan putrinya. Merekalah penyemangat selama ini, tapi sepertinya ujian Tuhan kali ini begitu berat ia jalani seorang diri.
Ridwan membenarkan selimut sang istri yang sedikit merosot. Ya, Mona dirawat sepulang dari Jakarta setelah tiga bulan lalu menunggu kabar baik Hana. Nihil. Baik dari pihak kepolisian maupun keluarga Hana tak menemukan kepastian. Reymond pun turut membantu, mengerahkan orang-orangnya dalam bidang IT.
Meski sudah menemukan titik temu tapi Reymond sendiri belum bisa memastikan bahwa kekasihnya itu dalam kondisi baik-baik saja atau tidak. Sistem keamanan yang super ketat menjadi salah satu penyebabnya bahkan James tangan kanan Reymond yang handal dalam bidangnya pun susah menembus sistem itu.
**
Masih dengan jas kantornya seorang pria tersenyum memandang gadis dengan floppy hat-nya. Bercengkrama dengan berbagai bunga di taman belakang manssion merupakan hobi Hana yang baru setelah mendapat izin dari pemiliknya. Saking asyiknya dia tak menyadari seseorang menghampirinya.
"Mereka tumbuh dengan indah karena sentuhan tanganmu, dear"
Mitchel mengambil alih keranjang bunga dari tangan Hana, gadis itu memetik beberapa tangkai bunga mawar di taman belakang. Dengan senyum merekah Hana menoleh ke arah suara yang beberapa minggu ia rindukan. Setidaknya begitu..
"Terima kasih atas pujiannya" Hana menyerahkan tiga tangkai mawar kepada Mitchel.
Ouwh
"Kau kena durinya Mitchel"
Keduanya begitu akrab hanya memanggil namanya saja seperti sekarang. Jari telunjuk Mitchel terkena duri. Reflek Hana menarik telunjuk mitchel, tetapi Mitchel menahannya.
"Apa yang kau lakukan" Mitchel menarik tangannya.
"Kemarikan..."
Desiran aneh yang Mitchel rasakan ketika Hana menghisap jari Mitchel untuk mengeluarkan darahnya agar luka tersebut cepat pulih. Setidaknya itulah pengobatan tradisional yang ia tahu dari maminya.
__ADS_1
Selama Hana melakukan 'itu' mata Mitchel tak lepas dari wajah Hana tepatnya bibir ranumnya. Oh ingin sekali Mitchel menciumnya, melumatnya tak tersisa dan tak akan membiarkan siapapun merasakan bibir itu. "Damn... I want it !" Pikirnya.
"Done.." Hana mengusap jari telunjuk Mitchel dengan sapu tangannya. Hana tahu Mitchel gila kebersihan.
"Kenapa kau membersihkannya dengan sapu tanganmu..." Mitchel agak kecewa sisa bibir itu tergantikan dengan sapu tangan.
"Lalu kenapa...apa kau akan..." Hana memperagakan yang tadi ia lakukan.
"Apa boleh....." pinta Mitchel mengerucutkan bibirnya didepan Hana.
"In your dream..." jawab Hana acuh.
Mitchel memeluk pinggang Hana posesive. "Mitchel...lepas. Kau akan membuat mawar ku layu jika tak segera dipindahkan ke vas bunga"
Mitchel melepas pelukannya. Mereka berjalan beriringan memasuki manssion yang luas itu seraya tertawa bersama.
Manssion peninggalan orang tua Mitchel dan manssion itu pula sebagai saksi bisu dimana ia pernah merasakan kehangatan sebuah keluarga. Hingga usianya lima tahun harus merelakan sosok seorang ibu yang begitu ia cintai. Ibunya wanita yang hangat dan ramah tanpa membedakan status sosial orang lain. Penyakit mematikan telah merenggut nyawa ibunya disaat ia masih ingin dekapan seorang ibu yang menenangkan dikala Mitchel kecil menangis.
John Gavind mendiang sang ayah, mau tidak mau ia merangkap perannya seorang ayah sekaligus seorang ibu demi Mitchel saat itu. Tak mudah bagi John membesarkan putranya seorang diri apalagi pekerjaannya sebagai CEO saat itu membuatnya bolak balik ke luar negeri. Kesabaran adalah sebuah kunci sukses seseorang.
"Maaf mengganggu waktu tuan, tapi ada yang perlu saya bicarakan dengan anda" ucap Febio. Pria itu mengangguk.
"Nikmati waktu mu Hana" Mitchel mengusap pucuk kepala Hana.
"Boleh kah bunga cantik ini berada di meja kerjamu" Hana menatap penuh harap semoga Mitchel tidak menolak permintaan Hana.
Mitchel menerima bunga mawar itu lalu melangkah ke ruang kerjanya diikuti Febio asisten pribadinya. Hana menatap pintu berwarna coklat itu menutup rapat dan fokusnya kembali merangkai bunga.
Disisi lain..
"Katakan..."
"Ini mengenai nona Hana tepatnya ibunya. Beliau sudah dirawat selama satu minggu karena serangan jantung. Menurut dokter yang menangani waktu beliau tidak lama"
__ADS_1
Hening
Febio menatap ragu tuannya mulai gelisah akan sesuatu.
"Saya akan undur diri bila tidak ada perintah lain tuan" ucap Febio pelan.
Hening
Febio meninggalkan tuannya seorang diri. Cepat atau lambat ini pasti akan terjadi. Kematian adalah takdir Tuhan Yang Maha Kuasa, yang tak seorang pun bisa menghindar bahkan menundanya. Mitchel pun pernah mengalami apa itu arti kehilangan. Setelah ibunya lebih dulu meninggalkannya diusia lima tahun kemudian disusul sang ayah menemui ibunya tepatnya setahun lalu.
Apalah harta melimpah bila hidup yang Mitchel rasa hanya kekosongan tanpa orang tuanya. Pandangan Mitchel tertuju pada sebuah bingkai dimana ayah dan ibunya serta Mithel kecil terpapang di atas meja. Di usapnya wajah sang ayah dikala rambutnya masih hitam legam. Ibu jarinya beralih mengusap foto sang ibu yang memeluknya erat. Tak terasa bulir air mata mengalir. Hatinya tersayat, perih mengingat lukanya kembali.
Diluar pintu, Febio prihatin dengan tuannya. Dia sigap jika terjadi sesuatu pada majikannya.
"Apa terjadi sesuatu, maaf jika saya lancang tuan Febio tapi sejak lima jam yang lalu tuan mu belum juga keluar dari ruang kerjanya"
"Tidak perlu cemas miss. Semua akan baik-baik saja, saya permisi" Febio meninggalkan Hana di depan pintu ruang kerja Mitchel.
Hana gelisah. "Masuk tidak ya..." gumamnya mondar-mandir didepan pintu. Ketika tangannya akan memegang knop, pintu itu terbuka memperlihatkan sosok lelaki yang tidak seperti biasanya yang rapi. Hana mengintip ke dalam ruangan dibalik tubuh kekar Mitchel, berharap tidak ada barang pecah maupun hancur karena amukan monster. Aman. Semua masih rapi pada tempatnya. Mitchel memperhatikan tingkah gadis didepannya dengan tampang datarnya. Andai dia tidak sedang berduka mungkin ia akan tertawa terbahak-bahak.
Kedua kembali bersitatap. Mitchel teringat pesan duka dari asistennya. Hana mengernyitkan dahi membaca ekspresi Mitchel yang mulai sedih.
Greb
Mitchel memeluk Hana erat. Dia tak sanggup membagi kabar itu secara langsung. Disatu sisi Mitchel belum bisa jauh dari Hana. Entah kenapa hatinya menginginkan gadis itu, lebih. Tapi disisi lain itu adalah hak Hana mengetahui kabar duka yang menimpa ibunya akibat ulahnya yang melarikan putri orang lain. Mitchel belum bisa berpisah dengan Hana.
Ya Tuhan...inilah kelemahannya jika terlalu menyayangi sesuatu melebihi kadarnya. Ia pasti takut akan kehilangan. Pelukannya semakin erat, menyalurkan rasa, membaginya meski tanpa kata. Hana membalas tak kalah erat, gadis itu pun mengkhawatirkan keadaan Mitchel yang terpuruk.
"Apa dia memikirkan mendiang ayahnya lagi..." bathin Hana.
Mitchel mengurai pelukannya. Memantapkan pilihannya yang terbaik walaupun hatinya tidak ikhlas tapi harus ia jalani.
__ADS_1
"Pulanglah Hana...."
_____________________❤❤__________________