Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 24


__ADS_3

"Kabari aku jika Hana sudah sadar, ada yang perlu ku urus" pesan Reymond via whatsapp di layar ponsel milik Eric. Tanpa membalasnya Eric sudah paham dengan pamannya. Dan kini pandangannya beralih ke sosok wanita yang sedari tadi menggosok-gosok tangannya kedinginan. Eric pun tersenyum tanpa sebab.


**


Di ruang tamu, Sarah dan Norman tengah menarap layar televisi, tiba-tiba derap langkah kaki mendekat ke arah mereka disertai luapan emosi.


BRAK


Beberapa berkas dilempar ke atas meja. "Wanita semacam ini mama sama papa pilih untuk ku? Sorot mata kecewa terpancar dimata Reymond. Reymond tahu dirinya saat ini sedang emosi tapi hatinya tak akan sampai melukai perasaan kedua orang tuanya.


Norman mengambil berkas yang dilemparkan oleh putranya, wajahnya menyiratkan keterkejutan. Sarah mencoba menenangkan putranya, ia tahu berita tentang Silvia calon tunangannya telah tercium oleh para wartawan dan berita itu dengan cepat terekspos keluar, tentunya akan menjadi dampak bagi perusahaan.


"Maafkan mama sama papa sayang. Mama sungguh dibutakan dengan sifat lembut Silvia ke Mama" bujuk Sarah.


"Jangan meminta maaf pada ku ma" suara Reymond merendah tapi menuntut. "Meminta maaflah dengan seseorang yang sekarang terbaring di rumah sakit, Ma__

__ADS_1


"Apa maksudmu Reymond ! Kini suara Norman menginterupsi. "Pa___seorang wanita tengah menjadi korban kekerasan akibat ulah wanita pilihan mama dan papa" jawab Reymond sengit.


"Wanita yang mana maksud mu yang menjadi korban? Tanya Norman tak mengerti arah pembicaraan putranya.


"Pa__ papa sama mama jangan menutup mata dan pura-pura tidak tahu apa yang terjadi. Atau__ini semua telah kalian rencanakan supaya kalian untuk memisahkan aku dengan wanita yang ku cintai !


Baik Sarah maupun Norman saling memandang, seolah pandangan mereka mengatakan bahwa putra semata wayangnya adalah pria normal yang menyukai wanita. Itu berarti pemikiran mereka berdua selama ini telah salah mengira putra kesayangannya itu penyuka sesama jenis. Karena Sarah selalu meminta Reymond untuk pergi kencan buta dengan pilihannya selalu ia tolak mentah-mentah. Oh God!


"Sayang jelaskan wanita mana yang mencuri hatimu? Tanya Sarah dengan mata berbinar seolah nama Silvia telah lenyap dari pikirannya.


Reymond berjalan gontai keluar rumah orang tuanya. Baru didepan ia berbalik menatap kedua orang tuanya yang juga masih menatap Reymond penuh tanya. "Satu hal aku minta sama mama dan papa, jangan campuri urusan pribadiku apalagi sampai menjodohkanku dengan orang yang aku sendiri tak suka.


"Sayang tapi mau kan kamu maafin mama kan? Tanya Sarah. Reymond yang berjalan keluar dari rumah Sarah dan Norman. Sebuah anggukan kepala menjadi jawaban untuk Sarah bahwa putranya telah memaafkannya.


Meminta sebuah kesempurnaan itu terlalu berlebihan tanpa adanya kecacatan dalam kesempurnaan itu sendiri. Dan terkadang yang sempurna di depan hanyalah topeng keburukan yang disembunyikan.

__ADS_1


**


Sinar mentari pagi menembus jendela kaca dimana seorang wanita masih enggan membuka mata dipembaringannya. Terlihat seorang suster yang telah berganti shift-nya berjaga, mengganti kantong infus Hana.


Reymond membawa sekantong plastik sarapan buat Intan, mungkin wanita itu belum sempat sarapan atau mungkin sekedar pulang untuk membersihkan diri. Reymond membuka pintu kamar dan benar saja wanita yang setia menjaga sahabatnya itu mulai mengerjap-ngerjapkan matanya ketika Reymond menaruh kantong plastik di nakas. Pandangannya kini pada gadis yang masih belum sadarkan diri itu lalu beralih ke jaket yang Intan kenakan yang sepertinya milik Eric.


"Hei....kau disini? Tanya Intan sambil menutup mulutnya yang menguap habis bangun tidur.


"Iya, Bagaimana kondisinya? Apa ada perubahan? Reymond menggeser kursi ke samping tempat tidur Hana.


"Masih sama seperti yang dokter bilang terakhir kali. Oh ya kalau kau tak keberatan gantikan aku menjaganya" pinta Intan menatap Hana yang terbaring. "


"Oh tentu. Aku membelikan mu sarapan barangkali kau tak sempat ke kantin rumah sakit hanya karena menjaganya" jawab Reymond yang kini pandangannya teralihkan pada Hana. Raut wajahnya mulai muram.


Intan menepuk bahu Reymond. "Percayalah, sahabatku ini adalah wanita yang kuat. Pasti dia bisa melewati masa kritisnya. Ucap Intan memberi semangat dan Reymond mengamininya. Intan menenteng kantong plastik berisi makanan dan berjalan ke arah kantin, dan akan pulang ke apartemennya. Karena dia harus kembali bekerja.

__ADS_1


__ADS_2