Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 26


__ADS_3

"Hana berhenti mengayunkan lengan kirimu seperti itu, aku takut terjadi apa-apa pada mu" pinta Reymond cemas. Hana mengacuhkan peringatan Reymond dan memilih pergi ke kamarnya.


Wanita itu merasa bosan selama seminggu pasca keluar dari rumah sakit, Reymond tidak mengijinkannya keluar rumah untuk mengusir kejenuhannya.


Ditambah lagi ini bukan tempat tinggalnya, melainkan villa milik Reymond. Meski pemandangannya menyegarkan mata tetap saja Hana jenuh karena menikmati pemandangan perkebunan teh itu sendirian. Andai saja Intan menemaninya, mungkin akan lain situasinya. Apalagi Reymond selalu meninggalkannya sendiri di villa ketika ada pertemuan dengan kepala pengurus perkebunan.


Reymond memang sengaja menempatkan Hana di salah satu villa yang berada di Bandung, karena dia juga ada urusan di kantor cabang di daerah perkebunan teh itu. Meskipun Hana sekretarisnya, tapi Reymond bersikeras melarang Hana bekerja.


"Aku benci padamu" Hana menaiki anak tangga itu dua langkah sekaligus.


Walaupun ucapan Hana terdengar samar Reymond masih bisa mendengarnya. Dia pun mengikuti Hana ke kamar.


"Tolong jangan memben___"


BLAMM


Pintu tertutup tepat didepan wajah Reymond.


Reymond menghela nafas mengalah. "Baiklah aku kalah, weekend kita ke suatu tempat bagaimana? Tanya Reymond menempelkan kening di pintu kamarnya.


Tak lama kemudian terdengar suara kunci yang diputar.


Ceklek


Kepala Hana menyembul keluar bersamaan dengan senyum yang melengkung diwajah cantiknya.


"Benarkah? Tanyanya gembira.


"He'em__ apa kamu senang sekarang?"


Senyum Hana perlahan pudar. "Iya, tapi kau mau apa masuk kesini? Reymond menyerobot masuk.


"Ini juga kamarku nona kalau kau lupa" timpal Reymond kemudian membaringkan tubuhnya ke atas ranjang.


"I know that, sir" jawab Hana singkat.


"Kemarilah" pinta Reymond menepuk-nepuk kasur disebelahnya.


"Tidak, sofa lebih nyaman untuk ku"


"Ck, bisakah kamu menuruti ucapan ku sayang" tutur Reymond mengangkat tubuh Hana.

__ADS_1


"Dasar pemaksa"


"Yes, i am"


Reymond menurunkan tubuh Hana perlahan. Tanpa sengaja keduanya bertatap mata. Perlahan wajah mereka mendekat sampai-sampai terasa hembusan nafas keduanya.


"Adakah kesempatan kedua untuk ku? Aku janji akan selalu membahagiakan mu, selalu menjaga mu disisa umur ku"


Hening.


Tak lama Hana menatap pria di depannya secara intens. "Beri aku waktu untuk berpikir, apalagi setelah semua yang terjadi".


Reymond menatap lekat kedua mata Hana lalu menghela nafas "Baiklah kalau begitu. Sekarang istirahatlah, ini sudah larut" Reymond mengecup singkat bibir ranum Hana lalu membaringkan tubuhnya di samping Hana.


Serangan tiba-tiba membuat darahnya berdesir, Hana meraba bibir yang dikecup oleh Reymond. Kini matanya menatap Reymond yang tidur memunggunginya. Akhirnya ia merebahkan dirinya dan mencoba tidur.


Satu jam berlalu tapi kedua mata coklat milik Hana enggan untuk terlelap malah terang benderang. Hana menoleh ke samping, teman tidurnya sudah jauh bertamsya di alam mimpi.


"Hei pak dosen__apa kau sudah tidur? Tanya Hana dengan memutar-mutar telunjuknya ke punggung Reymond, iseng.


Tak ada respon. Telunjuk Hana terus bergerak di punggung Reymond, membuat pria itu mengerjapkan mata. Tapi dia tidak merubah posisi tidurnya.


Telunjuknya bergerak membentuk huruf ' I ' di punggung Reymond.


Tidak ada respon dari pemilik penggung itu, dan hanya mendengar cerita si pemilik jari sambil mengulas senyum.


"Rey__aku tidak bisa tidur" ungkap Hana merajuk.


Telunjuknya kini bergerak membentuk ❤. Reymond sedari tadi menahan geli di punggungnya.


"Rey__aku takut__orang tua mu tak mau menerima ku seperti dua tahun lalu"


Tiba-tiba Reymond berbalik menghadap Hana. "Jadi hanya itu yang membuatmu ragu memberi keputusan atas hubungan kita, hem?


"Rey__kau belum ti- "


"Sstt__mendekatlah" perintah Reymond. Tangan kiri Reymond memeluk pinggang Hana dan tangan kanannya ia jadikan bantal untuk Hana. Tangan kirinya memeluk secara hati-hati agar tak menyentuh lengan Hana yang masih cidera.


Reymond mengecup pucuk rambut Hana. "Tidurlah ini sudah larut" kata Reymond kembali tidur.


Keduanya hening. Pelukan hangat dibalik selimut yang sama ini membuat degub jantung Hana Berdetak lebih kencang. Mungkin Reymond bisa merasakannya. Tak bisa dibayangkan pipinya yang merah merona. Deru napas yang teratur di pucuk rambutnya menandakan pria-nya telah kembali terlelap. Ya ampun pria-nya. Membayangkan saja membuat Hatinya berbunga-bunga.

__ADS_1


Hana bukannya mengelak mengakui cintanya pada Reymond, tapi perlakuan pria itu terkadang seperti bunglon. Menyebalkan. Akhirnya Hana pun ikut terlelap dalam dekapan hangat di dada bidang Reymond.


**


Di sebuah caffe seorang wanita berambut sebahu tengah duduk seorang diri. Di meja sudah tersaji secangkir teh dan sepotong cheese cake menjadi menu pilihannya sembari menunggu seseorang. Wanita itu sahabat dekat Hana, Intan.


"Hai__maaf menunggu lama" sapa seorang pria dengan belahan dagu yang membuatnya semakin terlihat tampan, iya pria tampan itu Eric.


Setelah pertemuannya di rumah sakit keduanya terlihat akrab.


"Hai Ric, tidak lama baru lima belas menit" sapa Intan kembali. "Mau pesan apa ? Tanya Intan memanggil pelayan caffe.


"Secangkir kopi kalau boleh"


Eric menaruh ponsel dan kuncil mobilnya di atas meja, dia juga menyampirkan jas kerjanya di kursi kosong disebelahnya.


Pelayan caffe itu mendekat ke meja Intan dan Eric, " Mas secangkir kopi satu ya" kata Intan dengan senyumnya yang khas.


Eric sekilas memperhatikan interaksi Intan dengan pelayan caffe itu, apalagi lesung pipi Intan membuat wanita itu semakin cantik.


"Ah__mikir apa sih kepala ku ini" kata Eric dalam hati.


"Oh ya Ric, ini aku mau kembalikan jaket mu yang ku pinjam, terima kasih" kata Intan menyerahkan paper bag warna putih berisi jaket milik Eric.


Eric menerimanya. "Oh tidak masalah" Eric menerima paper bag itu dan meletakkannya di samping kursinya yang kosong.


Mereka sibuk dengan obrolannya hingga pelayan datang dengan pesanan Eric.


"Sepertinya kamu mencemaskan sesuatu" Eric menatap sekilas wajah Intan lalu beralih ke cangkir kopi kemudian menyesapnya dengan nikmat.


"Apa terlihat begitu jelas? Aku hanya sedang merindukan sahabatku. Apalagi setelah kepulangannya dari rumah sakit, aku mendapati dia tak ada di apartemen. Dan baru ku tahu setelah Reymond menghubungiku kalau dia berada di Bandung untuk pemulihan. Itupun karena usul dokter, apalagi Hana pernah mengalami trauma kekerasan fisik di masa kecilnya" Intan mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Menetralisir kesedihannya.


"Aku mengerti" Eric kembali menyesap kopinya hingga tandas. "Sebaiknya kita menjenguk mereka" kata Eric menyelesaikan ucapannya yang menggantung.


"Maksudmu__kita ke bandung"


Eric mengangguk. "Menjenguk mereka " tanya Intan tak percaya. Eric kembali menganggukkan kepalanya meyakinkan lawan bicaranya.


Jika secuil kebaikan mampu membuat orang lain tersenyum maka aku akan melakukannya dengan senang hati.


Tapi Eric tak menampik bahwa hatinya telah terisi dengan nama wanita lain. Haruskah dia mencoba mengungkapkan pada wanita yang ia suka? Meski kini ia mencoba menutupi rasa sukanya terhadap wanita itu secara rapat.

__ADS_1


__ADS_2