Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 40


__ADS_3

Santa Anna, Texas



"Bos, Victoria menunggumu" ujar Zayn.


"Biarkan dia menunggu sedikit lebih lama" Zayn mengangguk lalu menutup pintu, meninggalkan bossnya yang sedang bercinta dengan tiga orang wanita. Desahan nikmat tak membuat seorang Zayn tergoda oleh adegan panas dibalik pintu kamar bossnya. Andai saja Zayn seorang pria normal mungkin banyak wanita yang terjerat akan pesonanya. Sayangnya dia seorang gay dan karenanya pria itu dibenci oleh Mitchel.


**


Los Angeles


"Kenapa kau keras kepala sekali Gavind!!" teriak Reymond. Mitchel menatap love rival-nya dengan santai.


"Jaga sikap anda tuan Martin" sela Febio.


"Musuhmu mengancamku" Reymond memberikan ponselnya berisi pesan dari Rolex.


"Pastikan Mitchel sudah menandatangani apa yang kuminta. Jika tidak, ku pastikan wanitamu sudah berada diranjang pria hidung belang. Karena aku akan melelangnya. Waktumu hanya sampai nanti jam 10 pm. Spire Nightclub...remember that!!"


Mitchel membaca sekilas pesan diponsel Reymond. "Apa keuntunganku jika aku menyelamatkan tunanganmu itu?" pertanyaan yang terlontar begitu saja dari mulut Mitchel mengejutkan Febio dan juga Reymond. Mitchel menggeser ponsel ke arah Reymond.


"Apa yang tuan muda katakan? apa selama ini dia mengatakan rindu pada nona Hana itu hanya sebuah kebohongan? atau...pertanyaan itu sebuah pengalihan untuk menepis kenyataan bahwa nona Hana telah bertunangan dengan orang lain? jika sudah begitu aku tidak yakin tuan muda akan menyelamatkan nona kali ini" kata Febio dalam hati.


"Mitchel benar, apa yang bisa ku berikan padanya sebagai jaminan agar dia bisa menyelamatkan Hana?" kata Reymond dalam hati.


"Apa yang kau inginkan? kalau perlu aku akan memberikanmu sepuluh persen dari saham perusahaanku, bagaimana?" tawar Reymond.


"Aku tidak menginginkan itu semua karena aku sendiri memilikinya, kau lihat" balas Mitchel menggerakkan tangannya ke udara dengan santainya.


"Well, what you want from this deal"


"I want your fiance, Hana" ucap Mitchel menaikkan sebelah alisnya.


"Suit of jerk!!!" umpat Reymond mencengkram suit Mitchel. Reflek Febio melerai. "Calmdown sir Martin or I'll call bodyguars to drag you out of this office?"


Mitchel memberi isyarat agar Febio tidak ikut campur. "Kau pikir perusahaan dan seluruh aset milikku bisa ditukar dengan nyawa seorang wanita, bahkan aku sendiri____ck" Mitchel tersenyum miring. "Aku tak mengenal tunanganmu dan sungguh konyol musuhku jika menggunakan tunangan mu itu sebagai umpan, agar Rolex mendapatkan seluruh aset milikku" Mitchel tergelak lalu menatap gedung-gedung menjulang tinggi.


"Jika kau tak mengenalnya lalu untuk apa kau menginginkannya, huh" ucap Reymond geram.


Skakmat


"Jika kau tak mengenalnya untuk apa kau memajang foto tunanganku dimejamu tuan Gavind!" Reymond memandang foto Hana sedang tersenyum manis sambil menggigit sebuah apel merah.


Skakmat


Mitchel meraih bingkai foto itu dari tangan Reymond. "Itu bukan urusanmu!!"


"This drives me crazy!" Ucap Reymond. Pria itu menghela nafas, "Alright...I will solve it myself without your help though. Terima kasih telah menolak permohonanku" lanjut Reymond beranjak keluar.


"Tuan...."


"Kerahkan orang kepercayaanku ke Spire Nightclub. Tunggu aba-aba dariku untuk menyerang" ucap Mitchel meninggalkan ruangan.


**


"Hei...bangunlah angel" ucap Victoria menepuk-nepukkan tangannya ke pipi Hana. Wanita itu terlihat pucat dan tak bertenaga. Ini hari ketiga dia menolak untuk makan setiap Zayn membawakan makanan untuknya.


Setengah mengerjap wanita itu beringsut menyandarkan diri di dinding. Jangan kau kira Hana dikurung dikamar mewah seperti cerita novel roman yang sering dibaca para bucin. Kalian salah! Wanita itu berada di ruangan gelap hanya cahaya rembulan dibalik fentilasi yang sempit. Mirisnya tangan dan kakinya terikat.

__ADS_1


"Anda siapa?" tanya Hana nyaris tak terdengar. Victoria tersenyum miris menatap Hana yang tak berdaya.


"Cepat ganti bajumu dengan dress ini. Waktumu tidak banyak karena aku akan mengeluarkanmu dari sini. Cepat!!" kata Victoria berbisik.


"Kenapa kau lakukan itu. E..maksudku...kenapa kau ingin menyelamatkan aku?"


"Wanita bodoh!! Jadi kau ingin mereka melelangmu seperti barang murahan!! Oke...kalau kau tak ingin__"


"Tidak...tidak...aku akan mengganti bajuku" jawab Hana sedikit bersemangat. Victoria memberikan pakaian layak untuk Hana dan beberapa aksesoris. Victoria mulai memoles wajah Hana agar tak terlihat pucat.


"Pakai wig ini dan kacamata ini. Setelah ini kau ikut aku jangan lupa bawa semua tas-tas make up ini. Mereka mahal dan jika sampai ada yang tertinggal maka aku yang akan melelangmu" tegas Victoria.


Hana tercekat, "Aku akan teliti..."


"Bagus. Ayo ikut aku..." ucap Victoria. Hana mengikutinya dari belakang dengan sangat gugup karena banyak penjaga yang berdiri standby di luar kamar.


Victoria berbisik "Jangan gugup dan bersikap biasa seperti asisten ku. Kau mengerti. Ingat berjalanlah seperti biasa kalau tidak mereka akan menyadarinya" Hana mengangguk paham.


**


"Aku memang tak sekaya dirimu Mitchel, andai dengan kekayaanku bisa menyelamatkan Hana maka akan ku lakukan. Tapi musuhmu tak menginginkan aku dan apa yang aku miliki tak sebanding denganmu" bathin Reymond. Pria itu berdiri di balkon hotel sesekali menatap arlojinya.


"Paman...are you oke?" Eric bertanya pada Reymond karena sudah dua jam pamannya itu berdiri dengan pandangan kosong kearah luar.


Reymond membalikkan badan, "Bagaimana bisa aku baik-baik saja sedangkan Hana tidak, Eric" ucap Reymond sedikit memberi tekanan disetiap kalimatnya. "Kita harus bertindak dengan atau tanpa Mitchel sekalipun" sambung Reymond mengetatkan rahangnya. Jemarinya mencekram kuat besi balkon itu.


**


Di ruang bersenjata itu nampak seorang pria menyelipkan beberapa senjata di badannya. "Kau telah mengibarkan bendera peperangan Rolex. Kau sudah mulai berani menumpahkan darah di wilayahku" ucap Mitchel geram menatap sebuah senjata ciptaan mendiang kakeknya.



Pistol ini berjenis revolver yang punya daya hancur hampir sama seperti Desert Eagle ciptaan ayah Mitchel. Namun pistol satu ini punya kelebihan lain, apalagi kalau bukan akurasinya yang sangat mematikan. Tak hanya punya daya rusak besar, 500 Magnum juga punya akurasi yang luar biasa. Hal tersebut dikarenakan moncongnya yang lebih panjang dari revolver biasa. Sehingga menawarkan akurasi yang hebat. Kemampuan ini juga didukung oleh kecepatan pelurunya yang bisa menembus angka 2.075 kaki per detiknya.


Mitchel menyelipkan pistol dibelakang pinggangnya lalu keluar dari ruang rahasia itu.


**


Disisi lain Victoria dan Hana melewati beberapa penjaga keluar dari kediaman Rolex.


"Victoria...." sapa Zayn yang melihat Victoria terburu-buru masuk ke dalam mobil.


"Tugasku sudah selesai dan___" Victoria menoleh ke arah Hana yang mulai gelisah. "Aku terburu-buru karena...salah satu club milikku terbakar jadi aku harus segera bergegas kesana. Katakan pada Rolex aku tak bisa hadir ke pelelangan malam ini. Akan ada asistenku yang menggantikan aku ke Spire Nightclub, oke Zayn" ucap Victoria melambaikan tangannya ke arah Zayn.


"Bukannya dia juga asistentmu" tanya Zayn sambil menatap kearah wanita disebelah Victoria.


Victoria tergagap tapi dia mencoba setenang mungkin agar Zayn tidak menaruh curiga. "Ough...itu tidak mungkin karena dia masih masih baru dan tak begitu mengerti tentang dunia pelelangan. Oke aku harus pergi Zayn". Zayn terdiam lalu mengangguk paham.


**


Spire Night Club, Texas



Acara pelelangan kali ini berjalan dengan baik tapi puncak acaranya akan segera dimulai.


"Zayn bawa wanita itu ke atas panggung, sekalipun dia tidak muncul setidaknya wanita itu menghasilkan uang untukku" kata Rolex.


"Oke bos" balas Zayn.

__ADS_1


Tak lama terdengar keributan dan suara tembakan. Anak buah Mitchel telah mengepung dan menghabisi para penjaga serta anak buah Rolex. Sebagian pengunjung club itu berlari berhamburan menyelamatkan diri.


"Wah...wah...wah sambutan yang meriah dari tamu spesialku rupanya" sambut Rolex dengan tepukan tangan.


"Aku tak punya banyak waktu mengikuti permainanmu" ucap Mitchel. Dibalik kacamata Mitchel menajamkan penglihatannya. "Seperti ada yang aneh" pikir Mitchel.


"Kalau begitu serahkan apa yang kuminta maka aku akan melepaskan wanita itu" tawar Rolex.


"Gerald....serahkan dokumennya" ucap Mitchel dan disambut senyum kemenangan dari Rolex. "Tapi___aku ingin memastikan dia baik-baik saja" lanjut Mitchel.


"Tidak masalah. Zayn perlihatkan wanita itu padanya"


Zayn membuka penutup kepala seorang wanita yang menjadi tawanannya. Mitchel terkejut bahwa wanita dihadapannya itu bukan Hana melainkan orang lain dengan makeup artis sekalipun tak bisa menutupi tahi lalat diatas bibir wanita itu. Entah maksud Rolex apa membawa Hana palsu untuk mengelabuinya.


"Apa kau mencoba mempermainkan aku, huh!" bentak Mitchel lantang.


Rolex mengernyitkan kedua alisnya tak mengerti. "Apa maksudmu? Cepat serahkan dokumen itu padaku! atau____" Rolex mengarahkan pistolnya ke kepala wanita yang menjadi tawanannya.


"Kalau begitu aku yang lebih dulu membunuhnya!!!" Ucap Mitchel mengarahkan pistolnya dan menembak wanita itu.


DORRR


"TIDAAAAKKKK...." teriak seorang pria ketika masuk kedalam club itu. Dan disusul suara tembakan lain yang saling beradu di club malam itu.


"Gerald tangkap hidup-hidup ******** itu!!" Perintah Mitchel ketika melihat Rolex melarikan diri. Sedangkan Zayn sudah tergeletak tak bernyawa dihabisi oleh anak buah Mitchel.


Reymond bergerak cepat melihat tubuh seorang wanita tergeletak bersimbah darah. "Hana....bertahanlah. Hana...aku mohon buka matamu" Reymond menangis sesenggukan.


"Cih...apa kau yakin menangisi wanita itu, huh"


"Brengsek kau sudah menembaknya lalu masih berkata konyol padaku"


Mitchel mensejajarkan dirinya dihadapan Reymond yang memeluk tubuh Hana Kw itu. "Selama ini wanitaku tak pernah ada tahi lalat di atas bibirnya, apa kau yakin kalau dia tunanganmu" ucap Mitchel menaikkan kedua bahunya acuh. Reymond menatap lekat wajah seorang wanita yang berada dalam pangkuannya.


Brugh !


Reymond mendorong secara kasar wanita itu. "Dia bukan Hana ku lalu dimana dia sekarang" tanyanya pada diri sendiri lalu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tak ada siapapun kecuali Mitchel dan anak buahnya masih sibuk menghajar si bandit Texas itu.


"Kau masih menginginkan aset kekayaanku, ini...!" Mitchel menarik map folder dari tangan Gerald lalu melemparkan kertas-kertas kosong itu ke wajah Rolex. Rolex menatap nanar lembaran kertas kosong itu. "Kau sungguh licik Mitchel, harus ku akui itu" ucap Rolex


Mitchel tersenyum angkuh "Bawa dia ke markas"


"Baik tuan" jawab Gerald.


**


"Brengsek disaat seperti ini kau masih bisa bersantai menghisap rokok" ucap Reymond sambil melihat ke atap mobil yang perlahan terbuka. Terpaan angin malam disertai serpihan salju membuat pria tropis itu mengetatkan rahangnya kedinginan.


Mitchel tergelak "Kau terlalu lama menghisap polusi Jakarta, bro. Bersantailah sedikit. Oke!" Canda Mitchel. Reymond menoleh ke arah Mitchel sejenak lalu tiba-tiba memukul telak dirahangnya.


Bough !!


Arah kemudinya berpindah haluan karena reflek tangan Mitchel membelok ke kiri "Apa yang kau lakukan!! Kenapa memukulku hanya karena candaan konyol, astaga !! Kalau kau ingin mati, mati saja sendiri sana jangan bawa-bawa orang" cerocos Mitchel kesal.


"Itu karena kau sudah menciumnya, ******** tengik" ucap Reymond geram.


Mitchel mengelus rahangnya, "Hana maksudmu..." tebak Mitchel tersenyum mengingat tingkahnya yang setengah mabuk dahulu.


"Brengsek...kenapa kau senyum-senyum begitu, huh. Berapa kali kau menciumnya!!" Mitchel menanggapi dengan senyuman.

__ADS_1


_________________❤❤_______________


__ADS_2