
Los Angeles
Febio tampak serius memantau anak buahnya dan beberapa hacker didepan komputer mereka. Kali ini situasi diluar kendali. Seseorang penyusup telah meretas data dan mencoba mengambil keuntungan dibaliknya.
"Lakukan pekerjaan kalian dengan baik. Dapatkan identitas penyusup itu sesegera mungkin dan laporkan padaku.
"Siap !!! " teriak anak buah Febio serempak. Mereka pun kembali fokus.
"Awasi mereka Gerald, aku akan menghubungi tuan Mitchel tentang masalah ini. Jika ada kemajuan segera laporkan padaku"
Gerald mengangguk patuh. Pemuda dengan goresan bekas luka di pipi itu tampak semakin tampan dengan jas hitamnya. Walaupun tampan tapi jangan sampai kalian tergoda dengannya. Karena dia seorang psychopath berdarah dingin. Berbagai macam senjata terselip ditubuhnya. Dan pemuda satu ini semasa hidupnya tak pernah sekalipun tersenyum pada orang lain.
**
Mitchel menatap seorang gadis cantik yang sedang tidur meringkuk mencari kenyaman didalam pelukannya.
Senyumnya mengembang kembali tatkala sepasang kelopak mata terbuka perlahan. Hana tersenyum pada Mitchel.
Ah...tampannya...
Hening
Mitchel masih menatapnya sambil tersenyum. Hana tersadar bahwa sekarang dia tidak sedang bermimpi.
Apa itu?
"Kenapa tanganku lancang sekali memeluknya" pikirnya sambil menarik tangan lalu bangun dari tempat tidur.
"Selamat pagi" sapa Mitchel tapi Hana terlalu gugup dia pun hanya tersenyum sekilas tanpa membalas sapaan Mitchel.
"Ehm...aku akan ke dapur menyiapkan sarapan. Sebaiknya kau bergegas ke kamar mandi. Aku akan memanggilmu jika sudah siap" ucap Mitchel beranjak dari tempat tidur.
"Aku akan sarapan diluar. Jadi tak perlu repot menyiapkan sarapan untukku" tegas Hana membuat Mitchel urung membuka pintu kamarnya lalu berbalik.
"Kau akan sarapan denganku nona manis. Suka atau tidak suka. Karena aku memaksa"
"Aku tetap bilang tidak. Jadi jangan memaksaku karena pada dasarnya aku benci dipaksa" ucap Hana menyilangkan kedua tangannya didepan dada.
Mitchel menyeringai. "Bersihkan dirimu nona manis, kalau tidak maka aku akan membuatmu tak bisa berjalan selama tiga hari tiga malam"
Hana bergerak mundur sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. "Kau !!! Teriak Hana menunjuk Mitchel.
Hana berlari ke kamar mandi, membanting pintu kamar mandi dengan keras lalu menguncinya dari dalam. Sedangkan Mitchel terkekeh geli.
Dua puluh menit berlalu...
Mitchel menyusun pancake buatannya di atas piring, tangan kekarnya meraih setoples kecil berisi madu dan beberapa buah yang sudah dipotong pun sudah tersaji diatas meja makan. Dua gelas orange jus sudah dituangkannya.
"Aku pergi...." suara Hana membuat Mitchel langsung menoleh ke arahnya.
Mitchel mengangguk, "Ok...setelah kau memakan sarapanmu, Hana" Mitchel menatap tak suka.
"Aku harus pergi ke suatu tempat, jadi...itu...ehm..." Hana mulai gugup karena Mitchel mendekatinya dengan geraman yang menakutkan.
"Kau...mau apa kau...jangan mendekat..." ucap Hana tergagap tangannya dengan cepat meraih vas bunga dan diacungkannya dihadapan Mitchel sebagai senjata.
Mitchel mengernyitkan kedua alisnya, "Aku hanya ingin mengambil tissu dibelakangmu" ucap Mitchel santai memperlihatkan sekotak tissu yang diambilnya dibelakang tubuh Hana.
__ADS_1
Hana menghela nafas lega tetapi kenyataan yang diucapkan Mitchel membuatnya syok, "Apa kau tidak lapar...apalagi semalam kau mabuk dan bertingkah konyol didepanku" tanya Mitchel pada Hana sambil menggeser kursi dan mendaratkan bokongnya. Pria itu mulai menyantap sarapannya.
"Aku...mabuk !" tanya Hana menaruh kembali vas bunga pada tempatnya lalu mengeser kursi di samping Mitchel.
"Hemm..." jawab Mitchel singkat.
"Semalam..."
"Hemmm..."
"Bertingkah konyol...?"
"Hemmm..."
Hana menggeleng mencoba mengingat-ingat kejadian semalam, "Tidak mungkin...tidak mungkin, lagian kenapa jawabanmu sedari tadi hanya hemmm.....hemmmm...doang sih" tangan Hana melayang siap menimpuk bahu Mitchel tapi tertahan karena sorot mata Mitchel mengurungkan niatnya.
"Apa kau tak melihat aku sedang mengunyah makanan, huh"
Hana menyesap orange jus, matanya melirik ke arah Mitchel seolah memberitahukan bahwa dirinya tak mungkin melakukan hal-hal konyol apalagi mabuk didepan pria itu.
Hana menggeleng, ketika kilas balik kejadian semalam terulang.
Tiba-tiba ponsel Mitchel berdering, Mitchel pun mengangkatnya.
"Ada berita apa..." suara beratnya terdengar sangat serius. Hana memperhatikan rahang Mitchel yang dipenuhi bulu lembut itu mengetat. Tangannya merasa gatal untuk tidak merabanya.
Tanpa sadar pikirannya telah melanglang buana.
Oh ya Tuhan...sadarkan gadis itu bahwa memang di hatinya telah terpancar percikan api cinta... tapi dia selalu menyangkalnya...
**
"Kenapa kita kesini..." tanya Hana ketika pintu mobil terbuka dan tampak lapangan yang sangat luas untuk lepas landas pesawat terbang.
Mitchel tak menjawab. Pria itu meraih ponselnya dibalik jasnya.
Mitchel menjauh ketika percakapannya dengan Febio tak ingin ada yang mendengarnya.
"Bagaimana hasilnya Febio, kau sudah menemukan tikus got itu"
"Tentu tuan. Perusahaan Abraham lah dibalik kekacauan ini tuan Mitchel. Dan anak buah kita sedang melacak keberadaan mereka"
"Satu hal lagi sebuah informasi penting yang harus tuan ketahui..."
"Katakan..."
"Dua bulan yang lalu kelurga Abraham melakukan kerja sama dengan keluarga Norman"
"Keluarga Norman?" tanya Mitchel pada Febio diseberang telp. Bola matanya melirik ke arah Hana yang tampak kesal dengan hidangan yang disajikan pramugari padanya.
"Iya tuan. Sebelum meninggalnya penerus keluarga Norman, perusahaan miliknya mulai mengalami penurunan saham dan beberapa inverstor yang menanamkan modal, satu persatu mencabut investasinya diperusahaan itu. Lalu, perusahaan Abraham menawarkan saham yang cukup tinggi pada keluarga Norman tapi dengan syarat..."
"Syarat ? Syarat apa Febio " sela Mitchel.
"Keluarga Abraham meminta sepasang mata milik putra keluarga Norman, karena sebuah kecelakaan yang menimpa putra keluarga Abraham hingga terjadi kebutaan. Dan hasil tes menunjukkan kecocokkan diantara keduanya. Bahwa tuan Reymond positif menjadi pendonor mata untuk keluarga Abraham. Itulah sebabnya kedua keluarga tersebut membuat kesepakatan, tentu tanpa sepengetahuan tuan Reymond"
"Dan lagi yang harus tuan ketahui bahwa Rolex termasuk kaki tangan Abraham"
__ADS_1
Mitchel mengepalkan tangannya marah lalu memutus sambungan telp itu sepihak.
"Kau baik-baik saja..." tanya Hana ketika melihat raut wajah Mitchel penuh dengan emosi.
Mitchel dengan cepat menghapus air matanya, memutar tubuhnya menatap Hana yang mengkhawatirkannya.
Khawatir ? Kalian berlebihan....
"Aku baik-baik saja Hana. Apa yang salah denganmu tadi? Ku perhatikan kau menolak menu yang disajikan pramugari disini"
"Ehm...aku sedang diet" jawabnya asal sambil menggigit ibu jarinya.
Mitchel mencubit pipi Hana gemas lalu menarik tubuh Hana ke dalam pelukannya. Menghirup aroma tubuh gadis itu dan membelai rambut hitam bergelombang.
"Maafkan aku...andai aku tahu dari awal mungkin aku bisa menyelamatkan hubungan kalian berdua. Dan sekarang aku terlambat mengetahui kebenarannya, Hana..." ucapnya dalam hati.
"Maafkan aku..." bisik Mitchel pelan tapi masih bisa Hana dengar. Hana meregangkan pelukannya yang canggung.
"Kenapa kau tiba-tiba meminta maaf?"
Mitchel menarik tangan Hana menuju kursi penumpang, "Sudahlah, aku akan menemanimu makan, kalau perlu menyuapimu layaknya bayi berumur enam bulan" canda Mitchel, wajahnya kembali cerah ketika dia berada di sisi gadisnya.
"Sembarang....!! Kau menyamakan aku dengan bayi enam bulan...awas kau Mitchel" Hana melompat ke punggung Mitchel, memukul-mukul bahu pria itu tentu saja Mitchel merasa seperti dicubit.
Tidak akan sakit karena dicubit sayang...
Tiga orang pramugari itu tersenyum pada mereka berdua. Siapa pun yang melihat kedekatan mereka pasti akan iri dibuatnya.
**
Istanbul, Turki
Dua ribu lembar undangan telah disebar ke seluruh rekan bisnis keluarga Abraham yang berada diwilayah Istanbul dan beberapa negara pun turut diundangnya via online. Seminggu lagi putra sulung keluarga Abraham akan mengadakan pesta ulang tahunnya dan juga penyambutannya sebagai penerus CEO ABRAHAM Company.
"Zaenab...kenapa kau terlihat murung, adikku" tanya Denis diambang pintu.
"Oh...kakak masuklah. Aku hanya tidak tahu kado apa yang cocok untukmu, hufft" ucap Zaenab menggembungkan kedua pipinya.
"Cukup doakan kakak mu yang tampan, mendapat jodoh tahun ini, hem..." kata Denis sambil duduk disebelah adik perempuannya.
Zaenab memukul pundak Denis. Denis pun mengaduh.
"Amiin... kak Denis kau bahagia dengan kondisimu sekarang?" tanya Zaenab tiba-tiba.
Denis terdiam kepalanya menatap ke lantai yang dipijaknya.
Denis mendongak menatap Zaenab. "Zaenab, jika penglihatan ini tak membuatku menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain maka aku akan memilih kegelapan. Sebaliknya, jika aku buta dan membuat sedih orang lain terutama ayah dan ibu aku lebih memilih bisa melihat seperti sekarang, agar aku bisa melihat mu dan juga orang tua kita tersenyum bahagia"
"Semoga pemilik sepasang mata ini bisa ikhlas memberikannya padaku" sambung Denis.
"InshaAllah kak Denis..."
Denis dan Zaenab berpelukan saling menyemangati. Dibalik pintu sang ibu mendengar pembicaraan kedua anaknya hanya bisa menutup mulutnya, diam.
Sang ibu lah yang memohon agar putranya kembali melihat...
____________________❤❤____________________
__ADS_1