
Halaman kediaman Martin kini dipenuhi oleh karangan bunga duka, sebagian para kolega mengirimkannya sebagai bentuk rasa empati dimana almarhum pernah menjadi rekan sesama bisnisnya.
Seorang wanita paruh baya terlihat bermata sembab begitu juga dengan suaminya berupaya untuk mencoba tegar merelakan putranya yang selama ini selalu menjadi kebanggaannya.
Tak jauh beda dengan seseorang yang sedang menangis, raungan tak terima masih terdengar dibalik kamar putra keluarga Martin itu.
"Hana...kumohon berhentilah menangis demi lelaki yang kau cintai. Jadi kumohon beribu kali berhentilah menangis" pinta Eric sambil menggenggam telapak tangan Hana.
Hana menatap Eric dengan pandangan kosong berurai air mata. Sebuah bingkai foto dipeluknya erat seakan gadis itu memeluk kekasihnya, calon suaminya.
"Seandainya kemarin aku menolak ajakan Mitchel ke pantai dan memilih untuk menjemputmu, mungkin saat ini kau...kau..." ucap Hana bergetar, entah berapa kali kalimat penyesalan itu ia ungkapkan. Hana kembali memejamkan mata, membiarkannya menetes membasahi pipinya. Kepalanya terasa sakit, karena sebuah kenyataan yang tak mampu ia tepis. Eric semakin dirundung sedih melihat Hana seperti ini.
Hana kembali menangis saat sebuah suara menghambur dihadapanya, "Hana...aku turut berduka, aku terlalu terkejut mendengar berita ini. Kemarilah...." kata Intan lalu memeluk Hana, sahabatnya itu langsung datang ketika Eric mengiriminya pesan. Tentunya Edgar selalu mengekor kemana pun Intan pergi. Eric memutar matanya jengah melihat Edgar menempel kemana pun Intan pergi, seolah anak ayam takut ditinggal induknya.
"Tolong gantikan aku menjaganya, sebentar lagi almarhum akan dimakamkan" bisik Eric pada Intan sedangkan Edgar mengerutkan kedua alisnya penasaran apa yang mereka berdua bisikan. Kemudian Eric menepuk bahu Edgar ketika melewatinya seolah mengatakan 'bukan hal penting'.
**
Baru kali ini, seisi mansion yang biasanya bersih dan tertata rapi, seolah menjadi kebalikannya. Semua perabot hancur berkeping-keping. Gelap gulita tanpa penerangan didalamnya.
Febio menatap ke lantai atas. Sayup-sayup terdengar erangan kesakitan didalamnya. Dengan sangat hati-hati dia melangkah menaiki anak tangga. Pertanyaan demi pertanyaan muncul di kepala asisten Mitchel itu. Selama perjalanan pulang dari Dubai, Febio pun membaca berita mengenai pengusaha muda yang baru-baru ini meninggal dan dia pun tahu kalau orang tersebut adalah love rival bosnya. Tapi penyebab meninggalnya dia belum tahu pasti.
Di lain sisi
Tampak botol-botol miras berserakan dan sebagian pecah berhamburan dilantai kamarnya yang temaram. Mitchel duduk bersandar berdindingkan kaca balkon. Kedua tangannya memegang kepalanya yang berdenyut, pandangannya menerawang dimana tragedi yang dia sendiri tak pernah menduganya.
"Mitchel...katakan padaku ini hanya mimpi, mimpi yang menakutkan. Kalau begitu biarkan aku kembali menutup mata dan semua ini akan sirna tak pernah ada" teriak Hana histeris di depan ruang ICU.
Mitchel mengguncang tubuh. "Hana!! Stop it! Its does not work! Dia sudah pergi Hana...!! Look at me Hana___" Hana menepis kedua tangan Mitchel.
"Kau, ya...kaulah penyebabnya!!" Hana menunjuk dengan jarinya pada Mitchel dan berteriak lantang. Beberapa perawat yang berlalu lalang menatap mereka berdua.
Mitchel tercengang menatap Hana seperti orang asing. "Ini semua karena kau, musuhmu menargetkan kami agar mereka bisa memancingmu keluar, bukan? Ah...atau kau sengaja membawaku ke pantai, agar kau bisa meminjam tangan orang lain untuk membunuh tunanganku, HAH!!
Mendengar kata 'membunuh' membuat orang-orang yang sedang melihat pertengaran mereka mulai berbisik-bisik. Mitchel melihat ke sekeliling, pria itu menghela nafas kasar lalu menarik tangan Hana menuju ke sebuah taman rumah sakit, "Dengar Hana, kumohon tenanglah, Hana...musuhku memang mengincarku waktu itu...tapi___" ucapan Mitchel terpotong karena Hana menyela kalimatnya "Aku tak ingin mengungkit diriku yang menjadi sandraan musuhmu, mulai saat ini dan seterusnya, aku membenci orang yang bernama Mitchel Gavind selamanya. Selamanya!!!" Tegas Hana diakhir kalimatnya.
__ADS_1
Pintu kamar Mitchel sedikit terbuka, Febio memberanikan diri mengintip ke dalam, lalu dia segera merogoh saku celananya meraih ponsel dan menghubungi dokter pribadinya.
"Tuan...apa kau baik-baik saja?!" Panggil Febio. Mitchel menoleh ke arah asistennya itu, ia mencoba berdiri dengan memegang kursi yang ada disebelahnya, karena posisi tubuhnya tak seimbang, Mitchel pun jatuh terjerembab. Pecahan botol kaca itu mengenai sebagian tubuhnya, tak ada lagi erangan kesakitan seperti beberapa jam yang lalu. Seolah tubuhnya mati rasa, Febio dengan sigap berlari menyelamatkan tuannya.
Febio memapah Mitchel masuk ke kamar, membaringkannya perlahan dan tak lama Doughlas sebagai dokter pribadi keluarga Gavind pun datang memeriksa kondisi Mitchel.
"Kita harus membawanya ke rumah sakit!" Pinta Doughlas penuh tekanan.
"Apa ada yang serius dengan kondisinya?" tanya Febio.
"Ada pecahan kaca yang menancap cukup dalam jadi harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkannya" ucap Doughlas meyakinkan.
"Baik" Jawaban singkat Febio membuat Doughlas langsung mengambil tindakan dengan membawa Mitchel ke rumah sakit.
**
Setelah prosesi pemakaman selesai, semua kerabat beserta keluarga kembali ke kediaman mereka masing-masing, kecuali Hana. Gadis itu tampak kusut menatap ombak berkejar-kejaran tanpa lelah menerjang pantai. Tak peduli butiran pasir menempel di bajunya.
"Sayang kau melamunkan aku?" Reymond menatap Hana dengan senyuman. Hana pun menyambutnya dengan senyuman.
"Sayang...pegang tanganku. Aku merindukanmu. Ikutlah denganku Hana..." kembali suara itu mengalun merdu ditelinganya bahkan bayangan tipis kekasihnya nampak begitu jelas dimata gadis itu.
"Kau mau kemana putriku!!!" Sebuah suara yang dikenalnya menginterupsi langkahnya. Ridwan mencekal lengan putrinya yang mulai kehilangan akal sehatnya.
Hana menoleh ke belakang. Ayahnya dengan rahang mengeras, sekeras cekalan dilengannya. "Papi...kau disini?"
"Mari kita pulang, putriku" pinta Ridwan penuh kelembutan. Cukup istrinya yang pergi lebih dulu setidaknya melihat putrinya bahagia adalah tujuan yang paling utama.
Hana menatap bingung, rupanya bayangan tadi hanyalah ilusi kerinduannya. Hana memeluk ayahnya. "Aku merindukannya. Sangat merindukannya, papi?!" Ucap Hana mulai terisak. Ridwan mengusap punggung putrinya, "Dia juga pasti merindukanmu, sangat merindukanmu sayang. Mari kita pulang, aku tak ingin kau sakit, ayo..."
"Yang waktu itu papi hanya bercanda putraku. Jauh hari aku melihatmu membawa putriku ke rumah sakit, aku sudah mempercayakannya padamu. Saat aku mengatakan aku belum merestuimu, kau salah putraku. Aku mengatakan itu hanya ingin melihat seberapa jauh kau memperjuangkan kebahagiaan putri ku, Reymond"
Mobil Ridwan melaju meninggalkan pantai yang menyisakan luka.
**
__ADS_1
......"Tunggu aku Hana"......
Hana membuka matanya, nafasnya masih memburu. Diliriknya jam digital di atas nakas 01.30 Am. Gadis itu beringsut mendudukkan diri, kedua telapak tangan mengusap wajahnya yang dibanjiri oleh peluhnya sendiri. Mimpi yang ia alami beberapa saat lalu seperti nyata. "Suara itu....ya suara itu milik Reymond. Tapi...ah lupakan mungkin sekedar mimpi" pikirnya. Hana meneguk air putih yang tersimpan dimeja kamarnya lalu kembali tidur.
**
"Selamat pagi, mam. Bagaimana kabarmu?" sapa Hana dilajut dengan mencium pipi wanita itu ketika berkunjung ke rumah Sarah.
"Mama baik sayang, tapi mama jadi tak memiliki teman ngobrol kalau jam segini. Biasanya papamu selalu menemaniku, karena dia harus menggantikan pekerjaan putranya jadi___" ucap Sarah, wanita yang sudah Hana anggap sebagai ibunya itu mengusap air matanya. Hana pun memeluknya, sama-sama merasa kehilangan orang yang dicintainya.
"Maafkan mama, mama masih belum bisa melepasnya pergi. Berat sekali rasanya. Apalagi semenjak dia memutuskan untuk tinggal dirumahnya sendiri..." Sarah kembali terisak. Sebagai seorang ibu kehilangan seorang anak adalah hal yang menyakitkan dalam hidupnya.
"Mama, bagaimana kalau kita membuat makan siang untuk papa. Apa mama setuju?!" Ucap Hana mengalihkan topic pembicaraan.
Mata Sarah tiba-tiba berbinar dan senyum cerahnya mulai terbit. "Itu ide yang bagus sekali sayang. Ayo...kau tahu, ini yang pertama kali dalam hidup mama. Sayangnya mama hanya punya Reymond dan saat akan memilikimu, Tuhan malah mengambil putra mama?"
"Ma....nggak baik ngomong begitu. Anggap aja aku putrimu sendiri. Jika kau tak keberatan" ucap Hana mulai memakai apron dan mengikat tali di belakangnya.
"Tentu tidak sayang, kenapa mama harus keberatan memiliki putri sepertimu. Tentu mama sangat senang tapi jika kau setiap hari disini bagaimana dengan papimu. Dia pasti kesepian..."
"Papi punya hobi baru mam, yeah...papi dan toko bunganya yang baru" ucap Hana tersenyum menaikkan kedua bahunya.
Sarah mengerutkan dahinya, "Dijakarta?" tanyanya.
"Di Sidney, mam. Mungkin papi sekarang dalam perjalanan kesana. Sebenarnya aku ingin sekali menemaninya. Hanya saja, aku masih begitu berat meninggalkan Jakarta. Reymond tentunya mam" raut wajah Hana mulai berubah sendu. Sarah melihat itu, tangannya terulur mengusap lengan Hana. "Reymond pasti selalu merindukanmu di sana. Cintanya padamu takkan pernah surut sayang, percayalah pada mama" ucap Sarah meyakinkan.
_____________❤❤_____________
Feelnya kurang guys mohon dimaklumi...
Vote mu buatq semangat💪💪💪❤.
dia begitu sedih ditinggal Reymond
__ADS_1