
Salah satu pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta itu tengah duduk di kursi kebesarannya terletak dilantai tujuh belas. Setelah menghubungi asisten pribadinya, ia kembali larut dalam lamunannya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunannya.
"Masuk"
"Tuan...ada apa memanggil saya? Apa ini tentang pernikahan tuan?" tanya pria paruh baya tak lain adalah asisten pribadinya.
Pria itu menoleh ke sumber suara. "Urus pembatalan pernikahanku dengan putri Abraham dan putuskan kontrak kerja sama ku dengan mereka. Aku menyesal menjadikan putri mereka sebagai calon istriku."
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi" ucap asisten yang bernama Febio itu undur diri.
"Tunggu...aku ingin dia dipindahkan ke Los Angeles" ucap pria itu.
"Maksud tuan...wanita yang tuan tabrak tadi?" Pria itu mengangguk.
"Ini bukan seperti pribadi tuan yang biasanya" bathin Febio.
"Tuan wanita itu salah satu karyawan di perusahaan CBS properti milik Tuan Reymond Martin. Lebih tepatnya sekretarisnya" papar Febio. Pria yang sebagai tuannya itu mengerutkan dahi mengingat sesuatu.
"Apa kita pernah mengadakan pertemuan dengan pemilik CBS itu Febio?"
"Sebulan yang lalu tuan, tetapi saya lah yang mewakili pertemuan tersebut"
Pria itu mengangguk paham. "Siap kan jet pribadi ku, setelah urusan pembatalan pernikahan itu selesai kita langsung kembali ke Los Angeles"
"Baik tuan Mitchel" Febio menunduk hormat lalu keluar dari ruangan.
__ADS_1
Pria misterius yang mengenakan setelan tuxedo itu Mitchel Gavind. Salah satu Billionare tampan blasteran Indonesia - Amerika yang sukses di usia mudanya menggantikan John Gavind ayah kandungnya yang setahun lalu telah meninggal. Sementara ibu kandung Mitchel telah lebih dulu meninggal ketika usianya lima tahun. Mitchel lah yang mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh hingga tanpa disadari dirinya telah menabrak seseorang.
Saat itu pikirannya kacau, pria itu meninggalkan acara penikahannya sebelum pengucapan sakral dimulai lantaran ia memergoki calon istrinya bercumbu dengan mantan kekasihnya disalah satu kamar hotel mewah, dan ditempat itu pula yang akan dijadikan acara pernikahannya berlangsung.
Dia berencana akan kembali ke LA malam itu juga tapi ia malah mendapat musibah diluar kemauannya. Entah kenapa bayangan seorang wanita yang ia tabrak terus berputar dikepalanya.
**
Mitchel menundukkan kepalanya dilipatan tangannya diatas bangkar. Sudah beberapa malam ia tidak tidur dengan nyenyak hanya menunggu kabar baik dari seorang wanita yang masih terpejam kedua matanya.
Saat ini ia telah berada di General Hospital tepatnya di LA. Dengan koneksinya, ia dengan mudah memindahkan seorang pasien untuk mendapatkan perawatan yang lebih intensif dan memfasilitasi dokter serta perawat selama perjalanannya ke LA, bahkan ia tak peduli dengan siapapun yang menghalangi niatnya itu. Sekalipun itu kedua orang tua Hana.
**
"Bagaimana dokter bisa memindahkan seseorang pasiennya tanpa pemberitahuan serta ijin terlebih dahulu dari pihak keluarganya" teriak Intan marah. Dibelakangnya berdiri Mona dan Ridwan kedua orang tua Hana yang baru saja tiba dari Sidney syok mendengarnya, mereka belum sempat melihat kondisi putrinya ternyata sudah tidak ada siapa pun di bangkarnya.
Semalam Intan ke bandara untuk menjemput kedua orang tua Hana sehingga ia berpesan kepada pria yang membawa Hana ke rumah sakit itu untuk menjaganya sejenak. Tapi Intan tidak tahu bahwa pria tersebut ternyata pemilik dari rumah sakit itu sendiri jadi wajar pria itu bisa membawa seorang pasien sampai ke LA.
Akhirnya mengalirlah cerita dari sang dokter hingga dia mengijinkan perawatannya dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik. Karena kondisi Hana sangat parah dan jalan satu-satunya adalah membawanya ke rumah sakit yang lebih canggih.
**
Selama seminggu di Bangkok, Reymond belum sempat memberi kabar pada Hana bahkan ia tidak sabar untuk menagih sebuah janji pada gadisnya. Urusan bisnis selalu membuatnya sibuk, untuk berkunjung ke rumah orang tuannya pun bisa di hitung jari. Itupun harus ada paksaan dari Sarah, mamanya.
"Ada apa, serius sekali" tanya Reymond menatap sekilas keponakannya. Reymond ke Bangkok bersama Eric, urusan bisnis kali ini sangat menguntungkan bagi keduanya jadi sayang jika tender yang bisa menghasilkan banyak uang itu terlewatkan begitu saja.
__ADS_1
Eric yang duduk di sofa pun menegakkan punggungnya sambil membalas chat dari seseorang.
"Eric...ada apa.."
"Kecelakaan.." ucapnya lirih.
Reymond mengerutkan alisnya. "Siapa kau maksud.." Reymond menyesap kopinya dan menghampiri Eric.
Belum sempat Reymond mendaratkan bokongnya di sofa jawaban Eric membuatnya membeku.
"Ha...na, Hana kecelakaan"
"Jangan buat lelucon yang konyol. Dia baik-baik saja bersama Intan di apartemennya"
"Paman...aku tidak sedang bercanda. Aku serius. Intan yang memberitahuku dan kedua orang tua Hana pun sudah tiba di Jakarta kemarin malam".
Raut wajah Reymond menegang. "Kita balik ke Jakarta sekarang" Reymond beranjak mengambil koper dan mengemas semua pakaiannya.
"Percuma" ucapan Eric menghentikan Reymond yang mengemasi pakaiannya. Dia menoleh menatap Eric penuh tanya. "Apa maksudmu"
"Intan memberitahu ku bahwa Hana tidak ada di Indonesia" Eric masih menatap ponselnya, membaca berulang kali pesan yang dikirim oleh Intan.
Reymond merampas ponsel Eric, ia menscroll chat berulang-ulang. Reymond menggelengkan kepala tak percaya. Dia meraih ponselnya di nakas lalu menghubungi nomor ponsel Hana. Berdering....tentu saja, karena Hana tidak membawa ponselnya ketika kecelakaan itu terjadi dan tentunya saat ini apartement Intan tidak ada siapapun karena baik Intan maupun kedua orang tua Hana sibuk melacak keberadaan putri mereka yang di bawa orang asing dalam kondisi kritis.
_____________________❤❤__________________
__ADS_1