
"Aaaaarrrrggghhhh...."
".....mmmmm......"
Reymond membekap mulut Hana agar tak berteriak. "Diamlah...ini masih malam, aku ngantuk." Tapi bukannya diam Hana malah menggerak-gerakkan tubuhnya tak nyaman dalam dekapan Reymond. Reymond berusaha agar gairahnya tak meledak.
"Jika kamu tak bisa diam, maka jangan salahkan aku yang memakanmu" bisiknya lirih namun penuh penekanan. "Sebaiknya cepat tidur, bukankah kamu mulai bekerja besok" imbuhnya kembali memejamkan mata.
Perkataan Reymond malah membuatnya tak bisa tidur, ia pun mendongak menatap wajah lelah nan damai Reymond. Dijulurkan telunjuknya ke pucuk hidung Reymond mencoba membangunkannya, tapi tetap tak bergeming. Diberanikan tangannya mengguncang bahu Reymond pelan, tetap juga tak mau bangun. Hana sudah gerah dengan gaun malamnya. Setidaknya dengan meminjam baju santai, dirinya bisa kembali terlelap.
Kali ini sengaja menggoda Reymond dengan memanyunkan bibirnya, mendorong maju wajahnya tepat didepan wajah Reymond yang terpejam, bahkan deru nafasnya terasa di wajah Hana. Reymond tetap tak merespon, hanya saja ia sedang berpura-pura tidur. Tiba-tiba bibir Reymond mendarat cepat dibibir Hana tanpa sempat ia mengelak.
"Kan sudah ku bilang jangan bangunkan singa tidur, ini akibat yang harus kamu terima". Kembali Reymond mendaratkan bibirnya penuh kelembutan, ciumannya turun ke leher, Hana melenguh nikmat cumbuan demi cumbuan yang Reymond berikan.
Tangan kiri Reymond membuka gaun Hana, namun ditahan oleh gadisnya. "Maafkan aku, aku hanya ingin membangunkan mu dan...ehm aku..aku ingin meminjam piyama mu." Reymond menatap Hana yang menunduk takut. "Aku tidak bisa tidur dengan gaun ini, membuatku sesak." Imbuhnya sembari duduk dipinggir ranjang.
"Kau bisa mencarinya di lemariku." Jawabnya cepat lalu kembali terpejam.
"Baik.."
Setelah itu, Hana melangkah ke kamar mandi. "Apa kau akan mandi tengah malam?" Tanya Reymond dengan mata tertutup.
"Iya..." jawabnya singkat.
"Boleh aku ikut?" Kali ini Reymond berangsur duduk ditepi ranjang.
__ADS_1
"Nggak..." jawabnya sinis. Lagian, bukannya kamu sudah mandi, hem?" Imbuhnya sambil berjalan ke kamar mandi.
"Mandi lagi.." ucap Reymond beranjak. Benar saja wajah Hana langsung bersemu mendengar ucapan yang berbau vulgar.
Blum...
Pintu kamar mandi sukses tertutup rapat. Dia bersandar ke pintu, mengatur detak jantungnya yang tak menentu. Karena Hana kurang hati-hati kakinya tergelincir, menginjak cairan licin yang sepertinya tumpah. Sempat ia berpegangan untuk berdiri tapi nahas, rak kayu itu malah menimpa kaki kirinya.
Gubbraakk....
aaawww.....
Mendengar kegaduhan dari kamar mandi, Reymond segera bangkit dan berlari ke kamar mandi. Entah apa yang dilakukan gadisnya itu di kamar mandi hingga membuatnya berantakan. Botol shampo dan sabun cair, dan beberapa benda lain berjatuhan dilantai. Suara rintihan memaksakan indra penglihatannya tertuju pada sosok yang sedang beringsut ingin berdiri tapi kakinya tertimpa rak kayu berisikan handuk mandi.
"Ma..maafkan aku, sungguh aku tak sengaja membuat kamar mandimu berantakan.." Reymond segera memindahkan rak kayu yang menimpa kaki Hana. "Dasar gadis bodoh,
bukan itu maksudku."
Reymond berjongkok, melihat seberapa parah luka di kaki kiri Hana. Beberapa lebam di betis dan pergelangan kaki. Segera ia membopong Hana kembali ke tempat tidur, lalu mengambil kotak P3K. Dengan hati hati Reymond mengoleskan salep di kaki Hana.
"Sebenarnya hubungan kita ini apa?" tanya Hana tiba-tiba.
"Menurutmu, masih adakah celah dihati mu yang masih bisa untuk ku singgahi?" Rasa-rasanya pertanyaan Reymond kok semacam lirik lagunya sheila on 7. Tapi memang iya itu lirik lagu.
"Entahlah... issshh...bisakah lebih lembut sedikit. Itu sakit sekali.." Hana meringis kesakitan saat Reymond mengoleskan dan sedikit memijitnya.
__ADS_1
"Jadi memang sudah tidak ada lagi aku dihatimu?" Tanya Reymond kecewa
Perlahan Hana menunduk, mencoba melarikan diri dari pertanyaan Reymond yang ia sendiri tak tahu harus menjawab apa. Dia juga tak bisa membohongi perasaanya sendiri bahwa ia masih menyukai lelaki yang sekarang di hadapannya itu.
Sekelumit rasa yang membingungkan, ada rasa takut yang mendera untuk menjalin hubungan dengan Mr. Perfect seperti Reymond. Hambatannya sangatlah besar, selain para wanita dikantor yang mengaguminya, tentunya kedua orang tua Reymond yang menentang hubungannya dengan anak semata wayangnya. Derajat mereka sungguh berbeda. Itulah penyebabnya dua tahun lalu adalah Hana memilih mundur. Tapi justru keputusan Hana membuat seorang Reymond tak bersemangat menjalani hidupnya.
"Aku mencintaimu Hana"
Hana mendongakkan kepalanya, tatapan matanya seolah meminta Reymond mengulang kata-katanya lagi.
"Aku mencintai mu Hana, sungguh mencintai mu."
"Tapi..."
"Aku tahu kamu juga mencintai ku, kumohon terimalah aku" kali ini ucapan Reymond sungguh membuat hati Hana luluh tapi ia harus memantapkan hatinya.
"Berikan aku waktu untuk berpikir."
"Baiklah waktu mu hanya seminggu tidak lebih"
"Hem...baiklah. Sebaiknya kita lekas tidur.
Akhirnya mereka beranjak tidur. Meski masih perih dirasa tetapi Hana mencoba menahannya dan kini ia terlelap.
BERSAMBUNG
__ADS_1