Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 23


__ADS_3

**Love you always ya readers. klik 👍, klik ❤ favorite bgi yg belum. jgn lupa kritik & koment . happy reading.


****


Cahaya remang-remang di dalam ruangan yang pengap tak mencegah seorang CEO Central Blue Sky yang selalu sukses menarik begitu banyak perhatian, terutama bagi kaum hawa, untuk segera mendekap dan melepaskan pengikat yang melilit tubuh Hana.


Kondisi wanita itu begitu memprihatinkan. Penuh luka memar dan beberapa bagian yang mulai membengkak diwajahnya akibat pukulan yang dilayangkan oleh Silvia. Reymond menggeram marah pada dirinya sendiri karena lalai menjaga Hana. Selalu seperti ini dan berakhir di rumah sakit. Kemudian dengan hati-hati ia membawa Hana segera ke rumah sakit. Begitupun Eric dan James mengekor dibelakangnya. Tak lupa para pengawal bayangan itu meninggalkan bangunan tua milik keluarga Wilson.


Mendengar sirine mobil polisi di pemukiman warga sontak membuat para warga memenuhi lokasi kejadian tiga puluh menit yang lalu, walau tempat yang kini pasti sudah disegel dengan garis polisi masih banyak orang yang bergerombol melihat penangkapan para perusuh dikampungnya.


Masih tak percaya kalau dikampungnya menjadi tempat penculikan dan penganiayaan, bisik beberapa ibu-ibu yang berjalan ke arah rumahnya.

__ADS_1


**


Seorang wanita berlari menuju ruang ICU dini hari, bahkan karena panik ia lupa kalau sekarang wanita itu hanya memakai piyama bermotif bibir 💋 dengan setelan celana pendeknya. "Bagaimana kondisinya?" Tanya wanita itu yang tak lain adalah Intan.


Reymond berdiri disamping pintu menoleh ke sumber suara. "Ku harap dia baik-baik saja, dokter belum keluar sejak satu jam yang lalu" jawab Reymond berjalan ke tempat duduk yang tersedia.


"Hei nona piyama apa kamu kemari tidak mengganti pakaianmu, hem? Tanya Eric memajukan dagunya seolah menunjuk.


Reymond pun menengahi keributan dua manusia disampingnya. "Bisakah kalian berdua diam, barang sejenak" tegur Reymond sambil memijit pangkal hidungnya. Eric dan Intan langsung terdiam mendengar suara geraman Reymond.


Ceklek

__ADS_1


Seorang dokter keluar dari ruangan ICU. "Bagaimana keadaannya dok? tanya Reymond cemas. "Syukurlah pasien melewati masa kritisnya, pasien akan dipindahkan diruang perawatan. Harap keluarga pasien mengurus pendaftaran pasien. Saya permisi" jelas dokter diiringi beberapa perawat dibelakangnya.


"Paman sebaiknya kau pulang mengganti pakaianmu yang ternoda darah, aku tidak ingin si manis semakin terluka akibat virus ditubuhmu" ucap Eric menutup hidung kemudian terkekeh geli melihat tingkah pamannya yang mengangkat sikunya keatas, menghirup 'parfum' dibalik ketiaknya.


"Jaga mulut mu! aku akan pulang berganti pakaian" baru beberapa langkah ia menghentikan langkahnya. Kenapa Reymond seolah dibodohi keponakannya? Eric menyuruhnya pulang supaya keponakannya itu bisa leluasa menjaga wanitanya. Oh shit !


Reymond merogoh ponselnya dari saku celana. Meminta salah satu orangnya untuk membawakan pakaian gantinya. Biarlah kali ini dirinya harus mandi di rumah sakit dari pada melihat Eric mencoba mencari perhatian Hana. Ya ampun, Reymond cemburu dengan keponakannya sendiri.


Ketika Reymond menatap ruang perawatan VVIP, ada suatu hal yang membuatnya mengerutkan kedua alisnya. Pandangannya mengarah pada Eric yang menatap intens seorang wanita yang begitu terpukul dengan kondisi sahabatnya. Ya kalian pasti paham, Eric tengah memperhatikan Intan secara diam-diam. Dan itu membuat Reymond merasa lega tidak ada yang mengincar miliknya. Dia pun terkekeh lalu pergi untuk mengganti pakaian yang telah dibawakan oleh sopir pribadinya.


**

__ADS_1


"Kabari aku jika Hana sudah sadar, ada yang perlu ku urus" pesan Reymond via whatsapp di layar ponsel milik Eric. Tanpa membalasnya Eric sudah paham dengan pamannya. Dan kini pandangannya beralih ke sosok wanita yang sedari tadi menggosok-gosok tangannya. Eric pun tersenyum tanpa sebab.


__ADS_2