
Malam ini langit tanpa sang rembulan dan keseluruhan dipenuhi awan yang menghitam, terdengar suara petir menggelegar saling bersahut-sahutan. Hembusan angin yang kencang itu menerbangkan kain korden kesana kemari.
"Kenapa pintu balkon tidak Kau tutup, Kau ingin menyakiti dirimu sendiri, huh?" suara berat milik Mitchel terdengar kesal saat masuk ke kamar Hana.
Apalagi kamar dibiarkan gelap gulita, terkesan sang pemilik sedang risau akan sesuatu dan hingga tak menyadari bahwa sekarang sudah malam.
Hana tidak menjawab. Entah kenapa dia masih merasa hatinya gundah semenjak duduk dipinggir pantai tadi sore. Gadis itu bangkit dan duduk memeluk lutut, menyandarkan punggungnya di kepala ranjang. Tangannya terulur menyalakan skalar lampu tidur di atas nakas.
"Apa yang Kau pikirkan selama Aku pergi?" tanya Mitchel sambil menutup pintu balkon dan merapatkan kain korden.
Pria itu duduk disamping Hana. Menatap penuh kelembutan dan kasih sayang.
"Ehm, tidak ada" jawab Hana pelan.
"Jangan menutupi sesuatu dariku Hana, karena aku bisa mencari tahu apa yang ada dikepalamu itu!"
Hana tak manjawab malah menatap wajah Mitchel dengan serius seolah berkata, "Jika bisa mencari tahu kenapa kau repot-repot bertanya, dasar pria bodoh, sok tahu, menyebalkan..."
"Buang sumpah serapahmu itu jauh-jauh ke tong sampah."
Hana tak menduga bahwa Mitchel bisa menebak kalau dirinya sedang menyumpahinya.
"Besok malam temani Aku makan malam," ujar Mitchel bangkit dan melangkah keluar dari kamar Hana.
"Tapi?"
__ADS_1
"Jangan membantah!" bentak Mitchel sambil membanting pintu.
"Tak bisakah kau bicara yang lembut pada seorang wanita, huh. Dasar pria menyebalkan, Aku benci padamu, sumpah!" teriak Hana kesal lalu menarik selimut memilih tidur.
Krrucukk...
"Aih, Aku ingin tidur, kenapa Kau malah membunyikan sinyal kelaparan?"
"Aku tidak akan makan, apalagi satu meja dengannya? Tapi, Aku lapar?" gumam Hana pada dirinya sendiri.
Terlihat lucu saat gadis itu mondar-mandir dengan piyama bermotif beruang dan sandal berbulunya.
CEKLEK!
"Apa kau tidak pusing?"
"Ayo, duduklah Aku akan menyuapimu."
"Kau tidak sedang membujukku untuk pergi denganmu besok, bukan?" tanya Hana mengekor dibelakang Mitchel.
"Kan sudah kubilang buang jauh-jauh perasaan negatif mu padaku. Aku hanya mengkhawatirkamu karena Merlin bilang, Kau belum turun untuk makan malam. Aku tidak mengerti kenapa kau melihatku buruk dimatamu?"
Gadis itu terisak pelan, Mitchel pun menyadari itu.
"Sudahlah, Aku minta maaf jika ucapanku tadi menyakitimu. Aku hanya ingin...."
__ADS_1
"Tidak, Aku yang terlalu baperan, maafkan Aku ya, Mitchel?" balas Hana dengan wajah polosnya.
Tiba-tiba Mitchel mencium bibir ranum Hana, sangat lembut. Bahkan Hana terkejut dengan sikap Mitchel yang tiba-tiba itu.
Pria itu tak bisa menahan diri jika berdekatan dengan gadis itu. Mitchel membasahi bibirnya dan tersenyum puas.
"Dasar mesum!"
"Kau terlalu mempesona, Hana."
Mitchel merogoh sesuatu dibalik jas hitamnya. Sebuah kotak beludru berwarna silver lalu pria itu berlutut dengan satu kaki.
"Hana, maukah Kau menikah denganku?"
Hana menjatuhkan sendok makan yang akan masuk ke dalam mulutnya.
"Mitchel, A-aku..."
Mitchel tersenyum lalu berdiri, dia tahu bahwa di hati gadis itu masih terukir jelas sebuah nama, meski sekarang pemilik nama itu sudah tenang disisiNya.
"Aku mengerti, Ini simpanlah. Aku berharap bisa melihatmu memakainya suatu hari nanti."
Mitchel pun berlalu meninggalkan Hana seorang diri.
"Maafkan Aku, Mitchel. Aku takut Kau akan terus tersakiti oleh ku, jika Aku menerima lamaranmu?!" gumam Hana pelan menatap sebuah cincin bermata biru.
__ADS_1
BERSAMBUNG