
Langit pagi itu begitu gelap mengiringi prosesi pemakaman seorang wanita paruhbaya. Mereka turut berduka akan kepergian wanita itu kembali ke sisi sang pencipta. Walau masih tidak percaya akan kepergiannya yang tiba-tiba, tapi itulah kenyataanya. Kenyataan bahwa semua makhluk hidup yang bernyawa pasti akan merasakan mati. Itu benar adanya.
Seorang gadis menangis memeluk makam sang ibu. Ia masih tak percaya bahwa ibunya meninggalkannya pergi. Rasanya seperti kemaren gadis itu merengek minta digendong oleh sang ibu. Minta dipeluk ketika ia mendengar suara petir menggelegar, memakai pakaian ibunya secara diam-diam pada akhirnya sang ibu menghukumnya atau hanya sekedar minta dibangunkan lebih pagi jika pergi kekampus. Oh...sungguh memilukan.. jika mengingat itu semua.
Dan sampai gadis itu menghilang selama tiga bulan lamanya karena koma, setelah sadar pun ia tak memberitahu kondisinya agar sang ibu tak menderita depresi berat. Gadis itu begitu merasa bersalah dan menyesal yang teramat sangat. Dia hanya menyalahkan dirinya sendiri atas kepergian sang ibu.
"Mami...kenapa cepat sekali pergi? Mami...kenapa tinggalin aku mih...aku ingin ikut mami. Mami lupa janji mami sama Hana? Mami yang dandanin aku jika aku menikah nanti tapi kenapa mami pergi ... mam..."
"Sayang...kumohon berhentilah menangis...jika kau seperti ini mami akan bersedih disana, apa itu yang kau inginkan?" Ridwan mencoba melepas pelukan putrinya dari makam ibunya tapi Hana menepis tangan ayahnya.
"Lepaskan aku...pih. Hana mau mami pih...kenapa dia perginya jauh sekali pih...Hana harus bagaimana pih.."
Semua orang yang hadir dipemakaman turut meneteskan air mata. Setelah prosesi pemakaman selesai, satu persatu kerabat dan sahabat terdekat meninggalkan tempat peristirahatan terakhir itu. Hanya tersisa Hana dan ayahnya.
Tidak! Masih ada satu orang lagi yang sedang berada tidak jauh dari sana. Dengan sebuket white rose di genggamannya. Pria itu menatap ke arah makam yang masih baru itu dengan kaca mata hitam yang bertengger pas di hidung mancungnya.
"Ayo kita pulang sayang" pinta Ridwan pada putrinya yang masih menangis.
"Ijinkan aku sebentar menemani mami lebih lama, kumohon" Ridwan tidak tega meninggalkan putrinya seperti itu.
"Baiklah. Ini ponsel mu. Telpon papi jika kau ingin pulang nanti akan papi jemput" Hana mengangguk.
"Atau papi akan menunggu di mobil sayang"
"Tidak perlu pi. Papi langsung pulang saja. Hana tahu papi lelah dan perlu istirahat. Kumohon turuti permintaan ku pih...Hana tidak ingin papi sakit. Cukup mami yang pergi, papi jangan..." Hana kembali menangis dipelukan sang ayah. Ridwan membalas pelukan putrinya. Sedih. Pilu. Merasa kehilangan. Itu yang mereka berdua rasakan.
"Mona...semoga kau bahagia disana jika itu memang pilihan mu meninggalkan kami secepat ini. Bantu aku menjaga putri kita, istriku..."
"Sebentar lagi hujan sayang. Sebelum itu segeralah pulang. Papi juga tidak ingin melihat putri papi sakit. Kau mengerti" Ridwan mengecup kening putrinya lalu pergi meninggalkan pusara istrinya.
Setelah kepergian Ridwan, Hana kembali menatap nisan sang ibu hingga suara bariton memecah lamunannya.
__ADS_1
"Aku turut berduka cita untuk ibu mu" ucap seseorang yang sedari tadi mengawasi dari jarak jauh lalu meletakkan sebuket mawar putih disana.
"Mit...Mitchel...kau kah itu" tanya Hana dan Mitchel membuka kaca mata hitamnya. Mitchel mengitari makam itu dan berjongkok disebelah Hana.
"Bolehkah aku memanggilnya Mommy... aku juga sedang merindukan mommy ku" netra Mitchel mulai berkaca-kaca. Hana menatap sedih raut wajah Mitchel berubah sendu, ia pun memeluknya. Mencoba saling menenangkan satu sama lain. Apa yang dialami Mitchel kini terjadi pada Hana.
"Iya, kau boleh memanggilnya mommy" ucap Hana.
"Mom...maafkan aku..." permintaan maaf Mitchel membuat Hana menatap Mitchel yang sedang mengusap nisan Mona. "Maaf karena membawa pergi putri mu saat kondisinya kritis tanpa seijinmu, mom. Sungguh aku menyesal dengan keegoisanku waktu itu sehingga membuatmu___"
"Ini bukan salahmu Mitchel__mami pasti berterima kasih padamu karena kau telah menyelamatkan putrinya" Mitchel menoleh melihat senyum Hana yang dipaksakan dibalik dukanya. Mitchel mengecup pucuk kepala Hana, " maafkan aku___" ucap Mitchel menyesal. Hana mengangguk.
Tes
Tes
"Sebaiknya kita pulang, kalau kau masih ingin disini, itu bukan ide yang bagus. Karena aku tak ada payung di mobilku. Jadi ayo kita pulang" ucap Mitchel merengkuh tubuh Hana untuk berdiri.
Style agar cepat sampai ke mobilnya, sesekali Hana menoleh ke arah pusara ibunya.
"Mami, semoga kau tenang disana. Semoga Tuhan memberi tempat yang indah disisiNya. Mami doaku selalu menyertaimu. Mami aku menyayangimu..."
**
"Ada apa dengannya Eric. Tak biasanya dia mabuk seperti itu" tanya Sarah yang terkejut melihat putranya pulang dalam keadaan mabuk.
"Justru itu oma, saya juga tidak tahu. Paman menghubungiku untuk menjemputnya di club. Apa dia sedang banyak pikiran oma?" terang Eric membaringkan tubuh pamannya diatas kasur king sizenya.
"Dia...tak peduli...lagi...padaku... huk" rancau Reymond tak sadar.
"Papa sudah menasehatinya berungkali ketika ada masalah jangan mendekati minuman itu. Lihatlah sekarang?" Suara itu milik Norman, papa Reymond.
"Sudahlah papa kita bicarakan dengan Reymond ketika dia sudah sadar, ini sudah larut malam sebaiknya kita tidur. Eric sebaiknya kau bermalam tidak baik mengemudi jam segini" ucap Sarah.
__ADS_1
"Baik oma"
**
"Masuklah Mitchel, ini rumah masa kecil ku sebelum mami dan papi pindah ke Sidney.
Mitchel mengamati setiap ruangan yang temaram penerangannya itu.
"Mungkin papi sudah tidur. Duduklah kau ingin minum apa?"
"Tak perlu repot Hana.." jawab Mitchel sambil meletakkan jas hitamnya di sofa lalu menggulung lengan kemejanya sampai ke siku. "Toilet sebelah mana?" Tanya Mitchel pada Hana yang saat itu sedang merebus air panas.
Karena tak ada respon dari gadis itu, Mitchel pun mengulangi pertanyaannya. "Oh sebelah kirimu" setelah menjawab itu Hana kembali berkutat dengan cangkir tehnya.
**
Dikamar dengan pencahayaan yang minim, seseorang tengah memeluk album keluarga. Tubuhnya berayun seirama dengan kursi goyang yang pria itu duduki.
Pandangannya menatap luar balkon yang ia sengaja buka secara lebar. Dinginnya terpaan angin malam tak ia pedulikan.
"Aku merindukanmu Mona..., kau ingat foto ini, waktu itu aku sangat bahagia menjadi seorang ayah untuk putri kita. Dan aku ingat sekali setelah aku mengatakan itu, kau menangis bahagia dipelukanku, Mona"
Ridwan membuka lembar berikutnya.
"Kebahagiaanmu adalah nyawa ku Mona. Lihatlah kau bahagia ketika putri kesayanganmu berhasil membujuk mu agar kau tak marah"
Ridwan mengusap air matanya. "Aku sangat merindukanmu sayang" ucap Ridwan memeluk album kenangan dengan mata terpejam. "I love you my wife"
_____________________❤❤__________________
__ADS_1