Setitik Harapan

Setitik Harapan
episode 53


__ADS_3

Dua tahun kemudian....


"Papi, cobalah teh ini. Aku baru belajar menyeduh teh dengan benar dan kata pemilik toko ini adalah teh dengan rasa terbaik," sahut Hana sambil menuangkan secangkir teh untuk ayahnya.


"Terima kasih, putriku."


"Aku senang bisa menemani papi setiap hari, Hana sayang papi." Hana menghambur kepelukan ayahnya.


"Putri kecilku sudah dewasa sekarang, apa Kau tidak berencana untuk menikah dan memberikanku cucu?" Ridwan menyeruput teh yang disajikan putrinya.


"Aku ingin sekali tapi bagaimana dengan Papi. Setelah menikah Aku pasti ikut dengan suami lalu Papi pasti sendirian, kan?"


"Apa Kau sudah menetapkan pilihan? Apa Kau sudah bisa melupakan orang itu?" Pertanyaan sang ayah membuat Hana tersentak.


"Jika sudah maka segeralah membuka lembaran baru, tapi jika Kau belum bisa melupakan dia, maka selesaikanlah masalahmu bukan melarikan diri seperti sekarang!" Lagi-lagi perkataan sang ayah membuatnya terdiam.


Saat itu, setelah menolak lamaran Mitchel, Hana pergi ke Sidney, tentu saja Mitchel dengan berat hati melepaskan Hana. Tapi cinta tak bisa dipaksakan begitu saja. Hari-hari sepulang dari kantor melihat wajah sang kekasih selalu murung membuatnya pria itu terluka semakin dalam. Dan saat Hana mengutarakan keinginannya untuk menemui sang ayah, dia tahu bahwa itu hanya alasan agar bisa menjaga jarak dengan dirinya. Dia pun menyetujui keinginan Hana walau terpaksa.

__ADS_1


"Papi ... Aku masih membencinya!"


Ridwan menoleh ke putrinya. "Kau pun tahu bukan Mitchel yang membunuh Reymond, kenapa Kau masih menyalahkannya?"


"Aku hanya benci saja, tidak ada alasan lain. Maaf Papi, Aku sudah kenyang."


...***...


Suara langkah high heel milik seorang wanita berhenti tepat di depan pintu ruangan direktur. Setelah mengetuk pintu dan si direktur mengijinkan masuk, wanita berambut blonde dengan sebuah map ditangannya pun masuk. Bajunya sengaja diberi kesan seksi agar setiap pria yang menatapnya terpukau dengan penampilannya. Tapi tidak berguna untuk direktur dingin yang satu ini.


"Tolong bapak tanda tangani berkas ini!" sambil menyodorkan berkas, Sofia melangkah lebih dekat ke kursi bosnya.


"Ehm, Apa bapak butuh secangkir kopi?" tanya Sofia basa basi.


"Tidak perlu, ini berkasnya. Kamu boleh keluar!" jawab Mitchel datar. Sofia mengambil berkas dan sengaja menyentuh tangan Mitchel tapi sebelum itu terjadi, Mitchel beranjak berdiri dari kursinya.


Sambil menatap keluar jendela, pria itu kembali berkata pada sekertarisnya, "Apa Kau tak bisa berpakaian layaknya sekertaris, Sofia?"

__ADS_1


Sofia sudah memegang knop pintu pun berbalik menatap bosnya.


"Saya bisa melakukan apapun sesuai keinginan pak direktur. Bahkan pekerjaan diluar sekertaris pun bisa saya lakukan."


Sofia berjalan mendekat, tangan lembut wanita itu menyentuh punggung Mitchel. Terdengar desahan pelan keluar dari mulut Mitchel. Sofia tersenyum senang.


"Anda sudah lama menyendiri, Saya tahu itu. Ijinkan Saya mengisi kekosongan itu Pak direktur," pinta Sofia sambil berbisik ke telinga Mitchel.


Mitchel mengepalkan tangannya. Dia tak ingin goyah hanya karena hasrat kelakiannya yang selama ini dia tahan demi seseorang.


"Keluar!"


Sofia terperanjat lalu segera keluar dari ruangan Mitchel. Dia ingin sekali memecat Sofia karena kelakuannya terkadang tidak senonoh padanya tapi mencari kualifikasi yang bagus seperti Sofia tidaklah mudah.


"Siapkan tiket ke Sidney, Merlin!" perintah Mitchel melalui sambungan ponsel.


Sudah dua tahun berlalu tapi rindu ini terus-menerus mengganggu Mitchel. Ingin sekali membawanya seperti dulu tapi Mitchel sadar itu malah akan menyakiti perasaan wanita yang dicintainya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2