Setitik Harapan

Setitik Harapan
Episode 02


__ADS_3

"Aha! itu dia orangnya, dia yang mengambilnya!" tunjuk Hana pada seorang pria berkaca mata di meja paling pojok. Mendengar seorang berteriak tentu pria yang dimaksud pun menoleh ke arah Hana dan Intan.


"Jangan sembarang dong? nggak enak nih dilihat banyak orang?" ujar Intan mengingatkan sahabatnya.


"Memang benar dia kok orang yang ku maksud."


"Ada apa, Neng?" tanya Ibu kantin saat mengambil mangkok kotor di atas meja.


"Saya kehilangan kunci motor tadi pagi dan orang itu pasti yang mengambilnya."


"Neng yakin? Kenapa tidak tanya langsung, toh Bapak itu paham seluk-beluk kampus ini walau dia menjabat baru dua hari yang lalu."


"Maksud Ibu?" kini giliran Intan penasaran.


"Bapak itu pengganti Pak Norman mulai sekarang. Sebaiknya Neng bersikap sedikit sopan pada Beliau."


"Apa...!" teriak Intan dan Hana kompak.


**


Reymond Martin adalah seorang yang dipercaya oleh ayahnya untuk memegang kendali di Universitas Majapahit. Usianya 28 tahun. Di usianya yang terbilang muda tapi prestasi patut diacungi jempol.


Reymond juga termasuk pewaris tunggal di keluarga Martin sang pemilik Perusahaan Central Blue Sky. Perusahaan Utama saat ini masih dipegang ayahnya.


Siapa sangka pria berprawakan atletis itu malah bertemu gadis urakan. Bagaimana tidak urakan setelah meminta maaf langsung main kabur.


**


Pak Samsul tukang kebun dikampus sedang mengantar Hana ke ruangan pimpinan. Disinilah gadis itu sekarang berdiri di depan pintu bertuliskan Direksi Room.


"Pak Samsul yakin dia bukan dosen baru dikampus ini?" tanya Hana pada Pak Samsul.


"Betul Neng, Beliau bukan dosen melainkan pengurus yang baru di Kampus. Ini ruangan beliau. Saya permisi ya, Neng" ujar Pak Samsul.


"Baiklah, terima kasih ya Pak."


"Sama-sama, Neng."


Mendadak raut wajah Hana berubah cemas, tapi dia harus berani masuk ke dalam dan menanyakan kunci motornya pada pria berkaca mata itu, yang sialnya Dia seorang putra pemilik Universitas Majapahit. Hana menghembuskan nafas dalam-dalam agar mendapat keberanian untuk masuk ke dalam.


Tok

__ADS_1


Tok


Tok


"Silakan masuk."


Hana memberanikan diri masuk kedalam. Ruangan yang nyaman untuk bekerja. Siapapun pasti betah duduk berlama-lama didalam ruangan dengan fasilitas mewah.


"Ada urusan apa kemari?" pertanyaan Reymond menyadarkan lamunan Hana. Pria itu masih sibuk didepan layar laptopnya.


"Sa-saya kemari ingin? ehm...?"


"Silakan duduk."


"Tidak perlu, saya hanya menanyakan apakah Anda tadi pagi menemukan kunci motor saya?"


Reymond memandang Hana sejenak lalu beralih ke laptopnya.


"Saya tidak menemukannya. Silakan keluar jika tidak ada hal lain lagi karena saya sibuk."


"Ta-tapi....?"


"Saya mohon Pak? Coba periksa kembali barang yang Bapak bawa tadi pagi siapa tahu kunci motor saya berada disana?"


"Kau berani memerintahku?!"


Reymond menutup laptopnya. Pikirannya tidak fokus karena ada yang mengusik pekerjaannya.


"Maaf Pak, saya tidak berani. Tunjukkan saja dimana kotak barang yang Bapak bawa tadi, biar saya sendiri yang mencarinya. Saya tidak bisa pulang kalau tidak menemukan kunci itu, Pak?"


"Benar-benar keras kepala sekali." Reymond bangkit dan mengambil box berwarna cokelat dibawah meja kerjanya.


"Periksa sendiri barang yang ingin kau cari karena aku tidak sudi dituduh sebagai pencuri."


Hawa dingin terpancar dari raut wajah Reymond, tetapi Hana memberanikan diri membuka kotak berwarna cokelat itu, namun sekejap kemudian menutupnya kembali.


"Eh, kenapa tidak ada disini?" bathin Hana bertanya.


"Aku memberimu kesempatan kenapa kau tidak mencarinya, bongkar kalau perlu!" ujar Reymond kesal. Pekerjaan hari ini tidak ada yang lancar seperti sebelumnya.


Gadis itu menggeleng lemah. "Maafkan saya, Pak. Saya pikir Bapak menemukan kunci motor saya. Kalau begitu saya permisi, Pak."

__ADS_1


"Siapa yang mengijinkanmu pergi begitu saja?"


Reymond menarik pergelangan tangan Hana membuat gadis itu kembali duduk.


"Karena kunci itu tidak ada sama Bapak jadi saya permisi. Saya akan mencari ditempat lain."


"Tidak bisa. Sudah mengacau pekerjaanku mau pergi begitu saja sebagai hukumannya sekarang kau susun semua buku yang di kotak ini ke rak buku sebelah sana. Susun yang rapi sesuai judul dan tahun penerbitannya.


"Ta-tapi, Pak? Saya masih ada kelas sepuluh menit lagi."


"Jangan membantah! Lakukan segera apa yang aku katakan."


Reymond bangkit dan berjalan menuju meja kerjanya. Sesekali mencuri pandang ke arah Hana yang tampak kesal.


**


"Hei, Aku mencarimu disudut kampus ternyata Kau disini, Han. Kau dari mana saja?"


Gadis itu mendongak saat sahabat karibnya menepuk bahunya.


"Oh, Aku baru saja keluar dari ruangan pak Reymond."


"Bagaimana sudah ketemu?" tanya Intan mendudukkan diri disebelah Hana. Dan gadis itu menjawab dengan gelengan kepala tanda tidak menemukan barang yang maksud. Keduanya menghela nafas bersamaan.


**


Reymond menutup laptopnya, ketika semua pekerjaannya telah ia selesaikan. Masih dalam posisi duduk di kursi kerjanya, Ia meregangkan tubuhnya yang pegal karena terlalu lama duduk.


Tiba-tiba arah pandangannya tertuju pada laci meja. Reymond meraih gagang laci dan mengambil barang yang dia temukan tadi pagi.


"Panda?! Hem, menarik."


Sudut bibirnya terangkat. Pria itu tersenyum tanpa alasan lalu memasukkan boneka hewan sebagai gantungan kunci ke dalam saku celananya. Saat beberapa langkah dari pintu ruangannya, pria itu berhenti.


"Ah! Ini terlalu besar untuk...., sungguh memalukan."


Reymond kembali mengeluarkan benda kecil itu dan memasukkannya ke dalam tas kerjanya.


"Bagaimana bisa dia menjadikan boneka sebesar telapak tanganku ini menjadi gantungan kunci?" gumamnya pelan sambil meninggalkan ruangannya.


TBC

__ADS_1


__ADS_2