Setitik Harapan

Setitik Harapan
Episode 12


__ADS_3

Seorang pria bertopi biru mengembalikan tas Hana. Dia sangat tampan. Apalagi ketika tersenyum belahan dagunya terlihat sempurna ditambah dengan postur tubuh yang tinggi, mata belok, dan beralis tebal.


Pria bertopi itu mendekat perlahan sambil mengatur nafasnya yang ngos ngosan seperti habis maraton, betul sih lari maratonnya juga buat ngejar perampok di area apartemen Hana.


"Ini tas kamu, lain kali berhati-hatilah dan jangan ceroboh."


Hana terdiam sesaat mendengar pesan pria tampan bermata hitam pekat, mengingatkan pertemuannya dengan masa lalunya.


"Hai, bukankah seharusnya kau berterima kasih padaku?" melambai-lambaikan tangannya dihadapan Hana.


"Hem?" Hana mengerutkan dahinya.


"Kok cuma hem, kenalan kek, traktir kek atau apa kek" ucapan pria bertopi itu semakin menjadi jadi.


"Oh, ini bersihkan darah diujung bibir mu itu." Memberikan sapu tangan berwarna pink purple dengan sulaman bermotif daun maple diujungnya.


"Jika aku harus berterima kasih, bukankah seharusnya dengan orang-orang yang menghajar perampok itu?" sambung Hana percaya diri mengangkat kedua alisnya.


"Baiklah, berikan ponselmu padaku. Aku akan mencatat nomerku ini dikontakmu. Jika ada waktu kamu harus mentraktirku, manis," kata pria bertopi sembari mengedipkan sebelah matanya.


Hana merogoh saku celananya, dan memberikan ponselnya. Setelah mengetikkan nomor ponselnya, pria bertopi pun mengembalikan pada Hana.


"Kau mau kemana manis" tanya pria bertopi sok akrab.


"Itu bukan urusanmu dan aku bukan manismu," sahut Hana melenggang pergi, meninggalkan pria aneh yang baru ia temui.


Terdengar gelak tawa dari pria itu, tapi Hana tak menghiraukannya. Gadis itu menuju baseman B1 area khusus parkir motor.


Di slempangkan tasnya ke samping kanan lalu Hana memakai helm, menstarter si Lucy kesayangannya. Motornya melesat menuju Mall besar. Memilih beberapa kemeja dan keperluan untuk interview besok.


***


Langit begitu gelap meski jam dinding menunjukkan pukul 06.30 pagi. Mentari berselimutkan awan hitam, suara petir bersaut-sautan. Tak lama berselang langit perlahan menumpahkan bebannya.


Hana sedang bersiap-siap, matanya melihat ke jendela yang basah oleh percikan air hujan yang masuk ke celah jendela yang terbuka.


Hana menutup jendela di ruang tamu. Terpaksa Hana membuka kembali kemeja yang ia kenakan. Melipatnya rapi dan dimasukkan kedalam gantungan anti air. Begitu juga dengan high heels nya dan menggantinya dengan sepatu snakers sementara. Padahal mau interview tapi barang yang ia bawa seolah dia mau pergi piknik.


Setelah mengunci pintu apartement, Hana menuju lift, siapa sangka akan bertemu dengan pria narsis itu lagi.


"Hei, kita ketemu lagi manis?"


"Kamu penguntit ya" ucap Hana memicingkan mata curiga.

__ADS_1


"Apa matamu buta, setampan ini mengataiku penguntit. Sepertinya kamu perlu kacamata."


"Eric.." sambung pria bertopi memperkenalkan diri.


"Rayhan..." kata Hana cuek tak memperdulikan uluran tangan Eric.


TING!


Pintu lift terbuka. Mereka berdua pun masuk kedalam.


"Kamu mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Eric melihat pantulan lawan bicaranya didinding elivator itu.


"Ke CBS" jawab Hana singkat.


Keduanya terdiam dengan pikirannya masing masing. Tak habis pikir Eric akan tinggal satu lantai dengan Hana. Bisa bisa setiap hari akan berpapasan di jalan.


"Huufftt.." 


"Kamu kenapa lagi?" Tanya Eric.


"Diamlah, Aku tak ingin bicara denganmu. Kita tak sebegitu dekat, hingga aku harus menjawab pertanyaanmu."


Eric pun hanya menggelengkan kepala tak mengerti, bagian dirinya yang mana yang membuat gadis disampingnya ini terlihat menyebalkan.


TING!


Dililitkan sebelah tangan Eric ke pinggang Hana dan sebelah lagi ditengkuk leher mulus Hana.


"Biarkan aku mengantarmu manis...."


Seolah tersihir wajah Eric, pipi Hana tiba tiba merah padam. Bibir Eric mendaratkan kecupan seksinya ke bibir Hana tanpa ijin.


Melihat tak ada perlawanan, Eric pun ******* bibir Hana atas dan bawah tak tersisa. Hana tersadar dan mendorong tubuh Eric pelan.


"Apa Kau gila. Ini Lift. Dan lihat, ada CCTV".


"Aku tak peduli, Rayhan." Kata Eric dengan posisinya yang mengunci tubuh Hana disudut Lift." Jawab Eric tak peduli.


TING!


Suara pintu Lift menyelamatkan Hana sesaat. Hana menghempaskan tangan Eric, tapi lagi lagi tangannya ditarik untuk mengikutinya ke arah mobilnya terparkir. Eric membukakan pintu mobil untuk Hana.


"Ayolah, biarkan Aku mengantarmu kali ini. Apa kamu tidak takut terlambat?" tanya Eric.

__ADS_1


Maksud hati ingin hujan hujanan dengan Lucy, motor sportnya eh malah ketemu srigala berbulu domba.


" Baiklah...."


Hana masuk ke mobil Eric tanpa bicara, mungkin dia merasa nyaman akan perlakuan Eric yang baru ia temui kemaren sore.


Hujan masih betah mengguyur bumi. Mobil Eric pun sudah berada dijalanan. Sekilas Hana melirik wajah Eric dari samping. Ada kedamaian tersirat dimatanya. Hana yakin perempuan manapun akan luluh dengan perhatian Eric yang manis bak gula merah. Eric yang merasa dipandangi akhirnya bersuara tanpa menoleh ke arah Hana.


"Matamu bisa copot kalau terus-menerus memandangi ketampananku," sahut Eric penuh percaya diri.


"Huek, jangan PD deh," sangkal Hana menahan rona merah dipipinya. Terciduk sedang menatap Eric secara intens.


"Sudahlah kamu benar lalu kenapa, Aku punya mata apa tak boleh menatapmu yang sok kegantengan itu?"


Perkataan Hana sontak membuat Eric mengerem mobilnya mendadak. Hingga membuat kepala Hana membentur dashbord didepannya.


"Apa Kau tidak bisa menyetir dengan hati-hati?"


"Maafkan aku. Kamu tidak apa apa?"


Hana tak ingin menanggapi dan memilih diam. Tak lama kemudian mobil Eric tiba dipelataran CBS. Tempat Hana melamar kerja.


"Manis, Kau sungguh tidak apa apa?"


"Iya, Aku tidak apa-apa. Kalau begitu Aku keluar, terima kasih untuk tumpangannya."


"Manis, mau kah Kau menjadi manisku?"


"Apa ini sebuah pernyataan cinta!!" tanya sambil Hana membuka pintu mobil, karena tidak fokus tiba tiba kepala Hana terhantuk bibir pintu yang membuatnya duduk kembali. gadis itu menekan kepalanya kuat sambil meringis kesakitan.


Eric yang melihat itu mendekat ke wajah Hana. Sontak saja pipi Hana merona dan tanpa aba-aba matanya terpejam. Eric pun tersenyum melihat tingkah Hana.


"Klik!" suara seatbelt terlepas.


"Apa kamu mengharapkan aku mencium bibirmu lagi, hem," sahut Eric tanpa tahu malu.


"Ah, ti-tidak! Aku pergi." Hana sungguh malu.


Eric tertawa terbahak-bahak melihat tingkah Hana yang malu-malu, sungguh wanita yang menarik. Baru kali ini Eric bertemu seorang gadis seperti Hana. Senyum masih mengembang diwajah tampan Eric, menatap punggung Hana yang berlari kedalam gedung menjulang tinggi.


Perbincangan Eric dan Hana dimobil tak lepas dari sorot tajam penuh kecemburuan, orang itu terlihat mengepalkan tangannya marah. Lalu diam diam mengikuti Hana masuk ke gedung itu. Sungguh mencurigakan !!


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2