Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 38


__ADS_3

Setelah semua kejutan dibandara, kedua belah pihak keluarga sepakat mempercepat acara pernikahan antara Hana dan Reymond. Cincin berlian itu sekarang melingkar di jari manis Hana. Senyumnya kembali terukir bila mengingat momen dimana Reymond melamarnya dibandara. Langit-langit kamarnya seolah penuh dengan warna pelangi membuat gadis itu tersenyum bahagia menatapnya.


Drrtt...drrttt


Hana meraih ponselnya dan membuka pesan dari seseorang, "Aku ingin bicara padamu. Kau ingat cafe yang sering kita datangi waktu kita masih kuliah kan. Aku tunggu kamu disana"


Sebuah pesan dari Intan. Gadis itu mengerutkan kedua alisnya, bukan karena permintaan sahabatnya tapi letak cafe yang akan ia datangi. Sebab setiap Intan ingin mengajaknya, pasti Hana tolak karena Hana tahu akan dijadikan obat nyamuk oleh temannya itu. Ya, dulu Intan ke cafe itu selalu mengajak gebetan-gebetan barunya. Ck! Playgirl memang tapi ujung-ujungnya dia yang diputuskan. Mengingat itu membuat Hana terkekeh sendiri.


**


Tak butuh waktu lama untuk sampai di cafe yang dimaksud. Karena kalian tahu sendiri Hana pencinta motor sport sampai-sampai motor kesayangannya itu memiliki nama yang cantik. Lucy nama yang cukup feminim untuk motor seukuran lelaki. Tapi jika kalian tahu julukannya akan berpikir ulang untuk mengatakan feminim. Ya Lucy si Black Thunder.


Motor itu yang selalu membuatnya menang dari arena balap liar diwaktu gadis itu masih memakai putih abu-abu. Semenjak duduk dibangku perkuliahan dia berhenti berbuat onar karena masalah kesehatan dan tentunya lelah harus berurusan dengan pihak yang berwajib.


Hana melihat seseorang melambaikan tangannya di udara. Rupanya tempat yang dipilih sahabatnya lumayan nyaman.


"Hai...Hana" sapa Intan.


"Hai...ngomong-ngomong tempat ini lumayan juga. Rupanya disini tempat yang sering kau jadikan meeting dengan para pacarmu, hem? tanya Hana sambil melihat keseluruhan isi cafe yang membuat sahabatnya itu langsung membungkam mulutnya.


"Ssttt___suaramu terlalu nyaring. Kita bahas soal cafe itu nanti. Ada yang lebih penting dari itu" ucap Intan mengedarkan pandangannya ke arah kasir.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu bicarakan, sepertinya serius sekali" ucap Hana mengaduk-aduk jus advocad yang beberapa menit lalu ia pesan.


"Aku ingin minta maaf padamu" Intan memegang telapak tangan sahabatnya "aku sungguh menyesal melibatkanmu dengan dendam masa lalu. Padahal kau juga termasuk salah satu korban seperti kakak ku. Hanya saja kau beruntung masih bisa hidup" ucap Intan seolah ada rasa kecewa dan tak terima didalam kalimatnya. Hana turut bersedih dan mengeratkan tautan jemarinya dan jemari Intan.


"Tapi itu semua sudah suratan takdir untuk kakak ku dan sekarang aku ikhlas melepasnya pergi. Aku juga tak ingin persahabatan kita semakin renggang dengan adanya kejadiannya yang menimpa kakakku. Maafkan aku Hana karena menyalahkanmu. Karena aku kamu..."


Intan menangis ditengah-tengah kalimatnya. Hana berdiri dan duduk disebelah Intan lalu memeluknya. Sahabatnya yang hilang karena luka kini telah kembali. "Berhentilah menangis. Padahal aku ingin menceritakan sesuatu padamu bahwa Reymond telah melamarku dan aku__" suara bisikan Hana terpotong karena Intan tiba-tiba merenggangkan pelukannya terkejut.


"Kau menolaknya. Oh syukurlah..." sela Intan kemudian padahal air matanya yang membasahi pipinya belum mengering.


"Apa yang kamu katakan dan siapa yang menolak lamaran yang mengejutkan itu. Aku menerimanya karena aku memang mencintainya semenjak pertemuan kami dikampus itu. Apa kamu lupa?" balas Hana tak percaya bahwa sahabatnya tak setuju dengan keputusannya.


"Ya, ya, ya gara-gara mangkok bakso dan kau menumpahkannya tepat di kemejanya. Membuatnya marah dan berakhir kau dipanggil ke ruangannya. Aku benar bukan?" tanya Intan dan Hana mengangguk membenarkan.


Hana kembali ke kursinya semula. "Aku pikir kau akan serasi dengan pria bule itu, Han. Dibalik tampangnya yang dingin dia merasa bersalah waktu dia menabrakmu dulu" ucap Intan.


Hana yang sedang menyesap jus advokadnya tersedak. "Apa dia berkata sesuatu saat aku belum siuman"


"Iya...dia meminta maaf padamu sambil memegang tanganmu dan entah kenapa tanpa sengaja aku melihatnya mengecup telapak tanganmu seperti ini" ucap Intan memeragakan apa yang Mitchel lakukan pada Hana dan tanpa sengaja Intan melihatnya.


"Ekhem...sepertinya aku sedang menganggu sepasang kekasih ini" ucap seseorang dengan sepotong Tiramissu cake ditangannya.


Mendengar suara asing, Intan langsung melepas tautan jemarinya dan mengejar si pemilik suara itu.


"Ough...hei...kau salah paham" tapi pria yang membawa cake tadi seakan tak menggubrisnya.


"SAYANG SUNGGUH KAU SALAH PAHAM" teriak Intan membuat seisi cafe menoleh ke arah Intan yang kini menjadi tontonan. Begitu juga dengan Hana terbelalak tak percaya sahabatnya itu memanggil pria bercelemek itu dengan sebutan sayang. Apa mereka menjalin suatu hubungan khusus?

__ADS_1


Tubuh pria itu menegang dan berbalik. "Kau mengatakan apa tadi, hem" ucapnya perlahan mendekati Intan.


"Kau salah paham" balas Intan.


"Sebelumnya..."


"Sa-sayang..." mata pria itu berbinar mendengarnya. "Katakan sekali lagi...maka aku memaafkanmu"


"Enggak mau..."


"Ayolah..."


"Tidak..."


(Keduanya bertengkar : ₩¥%$#&£€%&*₩£^*?¥£€)


"Baiklah permasalahanku sudah kelar. Aku pergi dulu ya. Dan selamat untuk kalian berdua" ucapan Hana sukses membuat pasangan baru itu terdiam.


"Seleramu lumayan juga sayang" ucap pria bercelemek setengah berbisik di telinga Intan dan pria itu ternyata adalah pemilik cafe itu sendiri.


"Hei sudah kubilang aku wanita normal yang mencintai seorang pria, yang kau lihat tadi itu salah paham. Aku hanya memeragakan kronologi suatu kejadian dimana sahabatku tadi sedang mengalami koma. Dan seorang pria tengah mengecup punggung tangannya. Oh astaga kau selalu berpikiran buruk terhadapku...Edgar" ucap Intan mengambil cake dari tangan pria yang bernama Edgar.


"Apa dia seorang pembalap wanita, dia terlihat keren ketika mengendarai motor sportnya" tanya Edgar.


"Kalau kau mulai tertarik dengannya, lebih baik kau lupakan karena dia memiliki tunangan dan juga seorang pacar mungkin sama berkuasanya"


Intan menatap Edgar seolah pria itu menunggu jawaban. "Entahlah..." jawab Intan singkat.


Edgar menggeser cake lalu memakannya "Edgar...kau memakan sendiri cake yang kau beri untukku. Kemarikan..."


Diawali dengan pertengkaran dan berakhir sikap romantis yang diberikan Edgar pada Intan. Gadis berambut sebahu itu akhirnya menemukan tambatan hatinya. Cinta meluluhkan seorang Edgar yang angkuh dan cuek. Apalagi setiap Intan ke cafenya selalu membawa seorang pria untuk menemaninya kencan buta. Padahal Intan hanya memanfaatkannya untuk membuat Edgar marah. Dan terbukti benar walau awalnya Edgar tidak peduli dengan apa yang Intan lakukan, lama-lama pria itu mulai terpancing. Apalagi Intan menghilang dan tidak pernah berkunjung ke cafenya lagi membuat Edgar ada yang lain dari biasanya. Itulah cinta Edgar...


**


Hana beranjak pergi dari kursi taman. Jam di ponselnya menunjuk angka sembilan lewat dan itu artinya dia harus pulang. Gadis itu memakai jaket hitamnya.


Setelah keluar dari cafe Hana pergi ke taman. Perkataan Intan mengenai Mitchel membuatnya betah melamun di taman hingga malam mulai larut. Kenangannya bersama Mitchel kembali berputar.


Ditengah perjalanan menuju rumahnya. Tiba-tiba ponsel Hana berdering, mau tak mau Hana menghentikan motornya dan mengangkat telpnya.


"Halo.......iya aku sedang dalam perjalanan pulang kau tak usah khawatir.......iya sayang aku akan berhati-hati dan tidak ngebut............oke bye..." Hana menyimpan ponselnya disaku celananya dan kembali melajukan motornya. Reymond menelphonnya karena cemas seperti biasanya.


Sebuah mobil hitam melaju cepat di samping motor Hana lalu mobil itu berhenti tepat didepannya untuk menghalangi.


Empat orang pria berjas hitam dan tiga diantaranya keluar dari mobil itu.


"Anda nona Rayhana..." tanya pria itu datar.


"Iya. Tapi si-siapa kalian" suara Hana gemetar. Dia tak ingin menunjukkan sisi ketakutannya.

__ADS_1


Ketiga pria itu tak menjawab dan mulai mendekat tapi Hana tak ingin kejadian yang lalu-lalu terulang. Dengan motor yang masih menyala, gadis itu melajukan motornya didepan para pria berjas hitam itu dan otomatis mereka menghindar jika tak ingin menjadi korban tabrak lari.


Hana menoleh kebelakang, tampak ketiga pria kekar itu masuk kedalam mobil sambil mengumpat marah dan sebagian yang lain mengacungkan senjata tapi dicegah salah seorang dari mereka.


Hana merogoh ponselnya dan mendial angka darurat. Dan tanpa menunggu jawaban dari orang diseberang Hana memasukkan ponselnya ke kantong jaketnya. Gadis itu berbelok ke perumahan untuk mengecoh mobil hitam yang mengikutinya. Dengan cepat Hana memarkirkan motornya asal dan dia berlari jauh untuk sembunyi. Sebuah minimarket tempat gadis itu untuk bersembunyi. Entah kenapa ia harus bersembunyi disitu.


"Please...kumohon biarkan aku bersembunyi disini. Ada orang jahat mengejarku" ucap Hana tersengal setelah berlari cukup jauh dari motornya.


Seorang wanita penjaga minimarket itu terkejut lalu mengangguk. "Sembunyilah didalam. Semoga mereka tak menemukanmu" ucap wanita itu membiarkan Hana bersembunyi.


**


"Sir...there is emergency calling from miss Hana" ucap Febio setengah berbisik. Saat ini Mitchel tengah melangsungkan rapat dengan pemegang saham di berbagai negara.


"Kita tunda sepuluh menit rapat ini tuan-tuan. Karena ada sesuatu hal yang begitu mendesak" ucap Mitchel meninggalkan klien pentingnya.


"Ada apa Febio. Darurat apa yang kau katakan"


"Tuan, nona Hana mendial angka 1 dari ponselnya. Dan itu pertanda dia sedang dalam kondisi tidak baik-baik san dan butuh pertolongan secepatnya"


"Kau sudah melacaknya"


"Sedang dilakukan tuan"


"Kerahkan orang-orangku yang berada di Indonesia untuk melindunginya, sekarang Febio. Jika terjadi sesuatu padanya umurmu tak akan sampai tujuh puluh tahun Febio..." perintah Mitchel.


Febio mendongak ketakutan "Sa-saya akan melakukan yang terbaik untuk nona Hana tuan" ucap Febio lalu pergi meninggalkan tuannya yang telah menghilang dibalik pintu ruang meeting.


**


"Kemana perginya wanita itu, brengsek !! Cepat cari dia dan ingat bos kita ingin wanita itu hidup-hidup"


"Bos lihat bukankah itu motor yang dikendarai wanita tadi"


"Kalau begitu cepat cari dia didalam rumah itu bodoh!!"


"Baik bos..."


**


"Selamat datang selamat berbelanja" sapa seorang wanita yang berprofesi menjadi seorang kasir minimarket.


"Saya mencari seseorang..." ucap seorang pria bertubuh tinggi besar.


"Maaf tuan. Saya tidak menjual orang disini" jawab kasir itu.


"Nona saya tidak sedang bercanda dan kalian geledah area gudang, cepat !!"


______________❤❤______________

__ADS_1


__ADS_2