
Langit sore itu mulai menghitam disertai semilir angin berembus membawa berita bahwa sebentar lagi akan menumpahkan isinya ke bumi. Satu persatu mahasiswa Universitas Majapahit mulai kembali ke rumah mereka. Area luas sebagai tempat parkir, awalnya penuh kendaraan kini tersisa beberapa kendaraan saja.
Di dalam kelas Hana duduk berpangku tangan, setelah mengirim pesan pada ayahnya agar menjemputnya di kampus.
"Kau yakin tak ingin menginap dikost ku?" Intan kasihan pada sahabatnya itu dan menawarkannya untuk menginap ditempatnya.
Namun saat hendak menjawab pertanyaan sahabatnya itu, sebuah pesan masuk ke ponsel Hana.
"Papi sedang menjemputku kemari" balas Hana sambil membalas pesan dari ayahnya.
"Oke kalau gitu, aku duluan ya, Han" ujar Intan sambil melambaikan tangan pada sahabatnya.
Gadis itu tersenyum menatap punggung Intan yang semakin lama tertelan jarak. Hana tak mungkin bercerita bahwa ayahnya akan terlambat menjemputnya, karena tiba-tiba ban mobilnya bocor diperjalanan. Dia tak ingin merepotkan sahabatnya.
***
Saat membuka pintu mobilnya, Reymond melihat seorang mahasiswi sedang duduk dibangku taman. Raut kekesalan terlihat jelas diwajahnya yang ayu. Reymond menutup kembali pintu mobilnya dan bersandar dibadan mobil sambil menyilangkan kedua tangannya didada. Memperhatikan secara diam-diam hingga ujung bibirnya terangkat, kini pria itu tersenyum tanpa sebab.
Hana mendongak ketika sepasang sepatu pantofel mengalihkan pandangannya pada rerumputan nan hijau.
Hana mendongak, memandang siapakah gerangan pemilik sepatu dihadapannya itu, "A-anda...?" tanya Hana terbata-bata.
"Jika tidak segera pulang, gerbang kampus akan segera dikunci" tukas Reymond sedikit kesal diacuhkan oleh gadis didepannya.
Hana menunduk tak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba Reymond menarik pergelangan tangan gadis itu.
"Argh, apa yang Bapak lakukan? kenapa menarik Saya?" tanya Hana sambil menarik kembali tangannya tapi cekalan Reymond begitu erat membuat Hana merintih kesakitan. Mendengar nada rintihan, Reymond melonggarkan cekalannya. Namun tetap dipegang tangan gadis itu.
"Masuk!" perintah Reymond.
"Saya sedang menunggu Ayah saya. Jadi tolong lepaskan tangan Saya."
"Aku akan mengantarkanmu pulang, makanya cepat masuk."
Hana kehabisan kata-kata. Lebih baik menurut dari pada tidak segera pulang karena menunggu ayahnya yang entah jam berapa akan datang menjemputnya. Gadis itu menurut dan masuk ke dalam mobil Reymond.
Selama perjalanan menuju rumah Hana, baik Reymond maupun Hana tak ada yang bersuara hingga dering ponsel milik Reymond memecah keheningan.
"Bantu Aku mengambil ponsel didalam tas."
"Ponsel?"
"Iya, ada di kursi belakang. Aku tak mungkin menjangkaunya sedangkan posisiku saat ini sedang menyetir, Kau bisa lihat kan?" ujar Reymond masih fokus menyetir.
"Baiklah" sahut Hana tangan kirinya mencoba meraih tas kerja milik Reymond. Setelah berada di pangkuannya, gadis itu merogoh mencari suara nyaring dari dalam tas itu tapi apa yang Ia temukan justru mengejutkannya. Jemarinya menyentuh sesuatu yang halus dan lembut seperti bulu. Diangkatnya benda yang membuatnya penasaran.
"Panda!" ucap Hana pelan. Digenggamnya gantungan kunci yang ada ditangannya itu kuat-kuat.
"Cepat berikan ponselku!" ujar Reymond tak sabar dan menoleh ke samping.
"Hentikan mobilnya sekarang juga."
"Apa?"
"Saya bilang hentikan mobilnya!"
Ckiitt, Reymond mendadak mengerem mobilnya. Hana membuka pintu mobil dan keluar begitu saja tanpa sepatah katapun. Reymond terkejut atas reaksi Hana dan turut keluar dari mobilnya untuk mengejar gadis itu.
Perdebatan kecil pun dimulai dibawah derasnya hujan
__ADS_1
"Lepaskan tangan saya!"
"Ada masalah apa? Kenapa tiba-tiba keluar dari mobil? Apa kau tidak lihat sekarang sedang hujan dan sekarang bajumu basah. Apa kau akan pulang dengan pakaian yang seperti itu?"
Hana tahu bajunya mulai basah ketika keluar dari mobil tapi rasa kecewa terlanjur merasukinya.
"Kenapa Anda berbohong pada Saya!" teriaknya pada Reymond.
"Apa maksudmu?" Pria itu tak mengerti apa yang dibicarakan Hana padanya.
Hana mengeluarkan benda yang dimaksud dari saku celananya.
"Ini!" gadis itu mengacungkan kunci motor tepat dihadapan wajah Reymond.
"Kenapa Anda berbohong dan berpura-pura tak menyimpan barang milik Saya!"
Reymond terdiam mematung. Rencana ingin mengembalikan benda itu secara diam-diam tanpa sepengetahuan gadis itu ternyata gagal dan malah membuat Hana kecewa padanya.
"I-itu..."
"Saya benci pembohong..."
TIIIN !
TIIIN!
"Hei, Awas!!"
Reymond menarik tubuh gadis itu kedalam pelukannya. Tiba-tiba...
"Hei, Apa yang terjadi...?"
***
"Sekarang sudah lebih baik. Dia hanya pingsan, Anda tidak perlu cemas. Kalo begitu saya permisi." Kata dokter.
"Terima kasih dok."
Reymond pun masuk kedalam melihat kondisi Hana. Dia menarik kursi dekat dengan gadis yang ia baru temui tadi pagi.
πΆπΆπ΅π΅πΆπΆ
Jujur aku tak kuasa
Saat terakhir ku genggam tanganmu
Namun yang pasti terjadi
Kita mungkin tak bersama lagi..
Dering lagu kerispatih milik Hana seketika menjadi alarm buat Reymond. Dia membongkar tas milik Hana dan menggeser tombol hijau lalu menerimanya.
"Hana...!! Pekik Mona selaku ibu Hana.
"Kenapa jam segini belum pulang nak, Apa kamu baik baik saja?"
"Halo...halo.. kenapa diam saja?"
"Halo.." sahut Reymond.
__ADS_1
"Kamu siapa? kenapa Kamu yang terima telp anakku. Lalu dimana sekarang anakku?"
"Tante tenang dulu, saya Reymond, saya mengantarkan anak tante kerumah sakit, tiba tiba saja dia pingsan dan Sa..." Penjelasannya terpotong karena Mona begitu terkejut.
"Apa! Di rumah sakit mana anakku dirawat !!"
"Di RS. Kasih Bunda dekat kampus Hana tante. Tapi tante jang.."
Tut tut tut
Suara telelpon yang diputus sepihak. lagi-lagi terpotong sebelum ia bisa menjelaskan apa yang terjadi. Setengah jam kemudian, Mona dan Ridwan, orang tua Hana telah tiba di Rumah sakit dimana anak kesayangannya itu dirawat. Maklumlah anak tunggal jika terjadi sesuatu pasti orang tua mana tidak kalang kabut dibuatnya.
Apalagi sekarang mendengar anak perempuannya dirawat dirumah sakit. Dan ini sudah kedua kalinya ia dirawat dengan kondisi yang sama. Meski begitu sebagai orang tua hanya mampu yang terbaik untuk kesembuhan anak semata wayangnya.
CKLEK!
Melihat putrinya terbaring membuat Mona lemas tak berdaya. Ia selalu berharap putrinya bahagia dan melupakan kejadian mengeringan dimasa lalu.
"Kenapa seperti ini lagi nak..!! Ucap Mona sesenggukan.
Lagi? Apa Hana pernah terbaring dengan kondisi seperti ini sebelumnya? Meski kata dokter Hana hanya pingsan kenapa Mamanya begitu mengkhawatirkan anaknya.
"Apa yang terjadi sebenarnya?" Tanya Ridwan, Ayah Hana.
"Om bisa kita bicara diluar" pinta Reymond agar tidak mengganggu Hana yang sedang dirawat. Akhirnya keduanya melangkah keluar dari ruangan.
Reymond pun menjelaskan apa yang menimpa Hana. Reymond pun meminta maaf kepada orang tua Hana atas perlakuannya pada Hana. Tentu saja Papi Hana emosi mendengarnya dan siap siap mengepalkan jemarinya meninju wajah tampan Reymond, namun ia urungkan niatnya. Melihat kondisi Hana, papinya tidak ingin menambah kesedihan anaknya.
"Nak Reymond sudah menikah?" Tanya Ridwan tiba tiba.
Pertanyaan konyol macam mana itu? Bukannya tidak punya pacar atau sedang cari pacar apalagi menikah, cuma Reymond tidak punya waktu saja dan lebih memilih menyibukkan diri daripada memenuhi keinginan hatinya itu.
**
"Bagaimana kondisimu sekarang?" Tanya Reymond saat berpapasan di lorong kampus.
"Saya, baik-baik saja" jawab Hana ketus.
"Baguslah." Ucap Reymond sembari mengusap kepala Hana dan dia pun masuk ke ruangannya.
Hana meraba kepalanya, detak jantungnya juga ikut berdebar.
"Woi, melamun aja pagi-pagi entar kesambet setan tahu."
"Iya, Loe setannya."
"Ih, cantik begini dikatain setan. Lagian dari tadi gue panggil Loe nggak nyahut. Eh, rupanya jadi patung hias didepan ruangan Pak Handsome" ledek Intan sambil mencubit perut Hana
"Auw, terserah Loe deh...."
"Han, Loe udah selesai kerjain tugas dari pak Didik? tanya Intan mengekor dibelakang Hana.
"What...? kapan dikasih tugas kok Gue nggak inget sih?"
"Emang loe kemana sih kemaren siang abis dari kantin? Kalo nggak salah dipanggil pak Handsome ke keruangannya. Nah, abis tu lo kemana kok nggak balik-balik, hayo.. jangan jangan...??
Pletakk... Jitakan cantik mendarat di jenong Intan.
"Cerewet, bukannya Loe udah tahu kalo Gue bantuin dia susun buku!"
__ADS_1
"Adu-duh, iya deh..."