
Malam minggu kelabu ditemani hujan deras membuat orang-orang memilih dirumah saja, ketimbang nge-date. Namun, tidak dengan kedua sejoli yang asyik menembus derasnya hujan. Kedua tangan Hana memeluk erat tubuh Reymond. Pakaian mereka basah kuyub terkena hujan, hingga motornya berhenti didepan rumah mewah berlantai dua.
"Pak, kok kita kesini, ngomong-ngomong ini rumah siapa, mewah sekali?" tanya Hana terkagum-kagum.
"Ini rumah Saya" jawab Reymond singkat.
Tiba-tiba sosok wanita paruh baya membukakan pintu. "Tuan muda sudah pulang, oh...ada tamu, mari Non silahkan masuk," sapa Bi Inah asisten rumah tangga dirumah ini.
Bi Inah sedikit terkejut melihat Hana, selain ibu Reymond yang kadang menjenguk putranya, tidak ada gadis yang pernah dibawa kerumah oleh tuan mudanya itu.
"Tuan, Saya akan menyiapkan makan malam. Nona mau minum apa? tanya Bi Inah pada Hana.
"Bi, antarkan dia ke kamar dulu. Kasihan kedinginan tuh," kata Reymond menyela kata kata Bi Inah.
"Maafkan Saya, Tuan."
"Kalau begitu mari Nona, Saya antar ke kamar Nona," Bi Inah melihat Hana menggigil jadi merasa bersalah.
"Ini Nona kamarnya, silahkan masuk."
"Terima kasih ya Bi," jawab Hana. Kamarnya sangat indah dan luas untuk seukuran kamar tamu.
"Saya permisi ke bawah ya, Non. Kalau ada perlu panggil saja Saya," ucap Bi Inah.
"Baik Bi, Terima kasih."
__ADS_1
Hana membuka laci lemari untuk mencari handuk mandi, ketika gadis itu sedang berjongkok untuk menutup kembali, ia merasa tetesan air membasahi lengannya yang entah dari mana berasal.
"Eh, kok ada tetesan air, mana mungkin rumah mewah begini atapnya bocor, kan?" gumam Hana tak menyadari bahwa Reymond berdiri tepat dibelakangnya. Dia hanya tersenyum geli mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Hana, semenjak turun dari motor Reymond memandangi bibir ranum milik seorang gadis yang beberapa menit lalu membuatnya malu bukan main.
"Atap rumah siapa yang bocor?" Tanya Reymond sedikit membungkukkan badannya.
Pertanyaan Reymond sontak mengejutkan Hana, ia pun mendongak ke atas lalu pandangannya turun ke perut six pack Reymond dan balutan handuk berwarna hitam. Hana terkejut dengan kedatangan Reymond ke kamarnya tanpa suara, bukannya menghindar kesamping, gadis itu malah berdiri, alhasil kepalanya terhantuk dagu Reymond.
"Haduh!" pekik Reymond mengaduh.
"Maaf, maaf...maafkan Saya. Saya tidak
sengaja.
Saking paniknya, Hana menginjak sandal Reymond dan keduanya terjatuh.
Debaran jantung berpacu begitu cepat, saat Reymond menarik kepala Hana mendekat dan...
CUP!
Matanya melebar tatkala benda kenyal yang hangat menyentuh bibirnya. Kecupan lembut dan manis, menghanyutkan gadis itu, membuat hormon didalam dirinya seolah ikut menari bahagia.
Saat Reymond melepas pagutannya, seperti ada sesuatu yang hilang begitu saja. Sudut bibir Reymond tertarik ke atas. Pria itu tahu bahwa Hana menginginkannya lagi, dan kali ini kedua tangan Reymond menyentuh pipi Hana. Mendekat dan semakin dekat hingga deru napas keduanya terasa.
Tiba-tiba...
__ADS_1
Tok!
Tok!
Tok!
"Permisi Tuan muda, makan malamnya sudah siap, Tuan," kata Bi Inah dibalik pintu.
"Iya, Bi!" sahut Reymond.
"Kenapa Kau menutup wajahmu?" tanya Reymond.
"Itu ciuman pertama Saya, Pak. Bapak kok jahat sih?" sambil mengusap bibir dengan punggung tangannya.
"Itu juga ciuman pertama Saya. Apa perlu Saya kembalikan ciuman pertama Kamu?" ujar Reymond mendekati Hana dengan memanyunkan bibirnya.
"Ah, Anda mesum! menyebalkan?!"
Hana berlari kecil ke arah kamar mandi. Reymond hanya terkekeh melihat tingkat Hana yang seperti anak kecil.
Kemudian, Reymond memakai kaos oblong dan celana pendek selutut lalu meraih ponselnya di nakas dan menelepon seseorang.
Setelah mengakhiri panggilan teleponnya, Reymond menuju ruang makan. Sedari sore hanya kenyang dengan bawelan Hana. Mengingat kembali kejadian tadi membuatnya tersenyum sendiri.
Bi Inah yang sedang membereskan dapur pun ikut tersenyum, melihat tuannya bahagia seperti saat ini.
__ADS_1
Reymond sedari kecil dirawat oleh Bi Inah, saat Reymond ingin tinggal sendiri, pria itu pun meminta Bi Inah untuk ikut bersamanya. Meski, Ibunya pernah menentangnya, tapi tetap saja Reymond ingin memiliki rumah sendiri.
BERSAMBUNG