Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps 19


__ADS_3

"Pa, bagaimana dengan tanggal pertunangan Reymond dengan Silvia?" Tanya Sarah yang fokus menatap layar TV di ruang tamu.


"Lebih cepat lebih baik ma"


"Silvia itu anaknya selain pintar, cantik tapi juga baik loh pa, tadi sore aja pas ketemu di caffe mama di kasih oleh tas Harmezh, tas yang mahal itu.


"Bukannya mama bisa beli sendiri? Di kemanain tuh uang yang papa kasih tiap bulan? Menaikkan sebelah alisnya dan kembali sibuk menatap  ponselnya.


"Ihh papa kok bahas uang bulanan sih, itu buat mama pake arisan. Untungnya gede loh pa. Lagian rejeki dari calon mantu nggak boleh ditolak pa, pamali katanya orang" kata mama Reymond antusias.


"Katanya orang ! Kata mama sendiri kali " sungutnya.


"Terserah lah, papa nggak bisa di ajak bicara serius. Lagian dari tadi chat sama siapa sih sibuk bener... coba lihat !


**


Setelah seminggu kejadian di arena ring, hubungan Hana dan Reymond seperti biasanya atasan dan pegawai itulah status yang tepat untuk mereka. Mereka akan bertegur sapa apabila diperlukan.


"Pagi manis ku.." senyum cerah terukir diwajah tampan dan bermata sayu milik Eric.


"Oh..hai. pagi juga. Bagaimana kabarmu" tanya Hana dengan senyum tak kalah cerah.


"Baik. Maukah kamu temani aku makan siang, sepertinya ada restoran yang baru di buka hari ini. Tenang saja jaraknya deket kok dari kantor. Gimana ?"

__ADS_1


"Hemm...oke aku setuju." Jawab Hana mengacungkan jempolnya. 


Dibalik jendela kaca, sepasang mata sedang mengamati dua insan yang tengah berbincang dengan akrabnya. Arah mata Reymond tertuju pada Hana dan juga keponakannya, Eric. Tangannya mengepal memperlihatkan buku-buku jarinya tampak putih pucat.


Melalui suara interkom Reymond memanggil sekertarisnya untuk masuk ke ruangannya. Dan masih mengamati sekertarisnya yang berpamitan dengan keponakannya. *Ck *!


Senyum itu harusnya untukku Hana. Tak kan ku biarkan lelaki lain melihat senyum mu lagi mulai dari sekarang, meski itu keponakan ku sendiri !


Tok tok tok


"Masuk"


"Bapak panggil saya ?"


"Pesankan tempat untuk kita makan siang bersama di luar kantor"


"Dengan Eric ?" Tanyanya.


"Kok bapak tau?" Batin Hana.


"Bapak tak perlu tau ! Tukasnya.


Raymond menatap Hana tajam. Ia menipiskan bibir dan mulai mendekati Hana yang sedang meremas ujung kemejanya menahan rasa takut.

__ADS_1


Jarak mereka hanya sejengkal telapak tangan. Sebelah tangan Raymond bergerak cepat menangkupkan pipi Hana dan menekannya kuat-kuat, hingga Hana meringis kesakitan.


"Di kamus ku tidak ada bantahan Hana !! Kau dengar itu " menghempaskan tangannya membuat pipi Hana menoleh ke samping.


"Maafkan saya pak. Saya tetap tidak bisa menemani bapak makan siang. Permisi " ucapnya datar. Hana pun berbalik ke arah pintu. Namun tak kalah cepat dengan tangan Raymond yang menahan knop pintu dan menguncinya.


"Sepertinya bapak belum jelas dengan kata-kata saya."


Raymond memegang kedua bahu Hana, "Kenapa sikap mu berubah dingin padaku ?" Tanya Raymond melembut.


"Jadi harus seperti apa sikap saya ke bapak. Bapak adalah bos saya. Dan lagi bapak adalah tunangan orang lain." Jelas Hana dengan suara sedikit gemetar diujung kalimatnya menahan lidahnya agar tak mengucapkan kata-kata yang memperburuk situasinya.


"Apa maksud mu !! Siapa tunangan siapa ?" Tanya Raymond mengerutkan dahinya.


"Semua orang kantor sudah dengar kalo bapak sudah bertunangan dengan pilihan Nyonya besar." Jawab Hana mengalihkan pandangannya ke lukisan alam pegunungan di ruangan bosnya itu.


Raymond memeluk erat tubuh wanita yang ia cintai, "kumohon jangan percaya sesuatu yang belum pasti dan yang kamu dengar dari orang lain". Hana tak membalas pelukannya, hatinya sudah retak dan mungkin akan hancur menjadi serpihan.


BRAAKK


Pintu ruangan Raymond didorong paksa.


"DASAR SEKERTARIS MURAHAN !!! "

__ADS_1


PLAK !!


_____________________❤❤__________________


__ADS_2