
Materi hari ini sebenarnya sudah selesai satu jam yang lalu, gadis itu hanya mencatat materi yang tertinggal akibat dia harus dirawat beberapa hari. Berharap Intan untuk menemaninya, tapi apa malah tega meninggalkannya sendiri dengan alasan ada kencan buta nanti malam.
"Punya temen malah nggak setia, sakitnya lagi ditinggal nge-date, nasib jomblowati," gumam Hana sendiri.
"Kamu sudah gila ya, bicara sendiri?" tanya Reymond yang berdiri diambang pintu kelas.
"Eh, siapa yang bapak maksud gila, Saya?"
"Iya, siapa lagi kalau bukan kamu. Emang ada orang lain selain kamu sendiri dikelas ini?" tanya Reymond sambil berjalan mendekati Hana.
"Saya nggak gila pak cuma bicara sendiri, Eh" Jelas Hana.
"Lah, apa bedanya bicara sendiri sama gila?"
"Beda dong pak?"
"Jelaskan perbedaannya kalau begitu biar saya mengerti," kata Raymond sembari menarik kursi menghadap Hana.
" Ehm itu...."
Tak sengaja mereka saling tatap untuk sekian menit, sontak pipi Hana merona, cepat-cepat ia membereskan buku catatan dan memasukkannya ke dalam tas. Ketika beranjak pergi langkahnya tertahan.
"Ini kedua kalinya bapak menghalangi jalan saya. Lagian bapak nggak ada kerjaan selain menghalangi saya. Mirip tukang begal aja halangin jalan orang" ucap Hana sedikit ketus.
"Iya saya memang tukang begal, saya mau begal hati kamu, boleh?"
"Apaan sih bapak ini lebay" keluar kelas dengan pipi merona yang tak dapat ia sembunyikan.
__ADS_1
Reymond tertawa puas, menjahili gadis itu membuatnya senang. Dia pun mengikuti Hana menuju tempat parkir.
"Kenapa bapak ngekorin Saya terus sih, Saya bukan induk ayam yang bapak bisa ngekor kemana aja," gerutu Hana sebal lihat tingkah laku direktur utama Universitas Majapahit itu.
"Mobil saya dibengkel, jadi antarkan saya pulang."
"Bapak kenapa nggak minta jemput sopir pribadinya Bapak, kenapa Saya yang harus antar Bapak?" tanya Hana lagi-lagi nggak mengerti jalan pikiran pemilik kampusnya ini.
"Sudah jangan bawel, mana kunci motor kamu. Kalau kamu masih saja bawel kita bakal kehujanan dijalan. Apa kamu nggak lihat sebentar lagi mau hujan," papar Reymond panjang lebar.
"Apa?"
"Cepet naik," titah Reymond.
"Pak..!"
"Saya harap bapak jangan coba-coba naik," ucap Hana.
"Kenapa, takut lecet kalo saya yang naik? Tanya Reymond tak mengerti.
"Bukan gitu pak."
"Lalu apa? Jangan bertele-tele ayo cepet naik," ucap Reymond tak bisa lagi menahan emosinya.
"Masalahnya, pemilik motor itu ada dibelakang Bapak?" Reymond seketika mematung menyadari kekeliruannya. Dengan percaya dirinya Reymond naik motor matic merek Honda berwarna pink dan ternyata pemiliknya sudah berada dibelakangnya sendiri.
Sambil menahan malu Reymond turun dan menstandarkan kembali motor matic tersebut.
__ADS_1
"Maaf Bu, Saya mengira ini motor miliknya." Ucap Reymond sambil menunjuk Hana.
"Nggak apa apa Pak, Saya permisi dulu," sahut ibu-ibu pemilik motor matik itu.
"Ha ha ha ha ha" Hana tak bisa menahan perutnya yang sakit akibat terus tertawa terbahak bahak.
"Aduh sakit perutku, hahahaha?"
"Sudah kenyang ketawanya, jadi yang mana motor Kamu?" tany Reymond menahan malu.
"Makanya Pak, lagian bapak asal aja naik. Motor matic bukan selera Saya, Pak?"
"Lalu motor Kamu yang mana cepetan. Apa Kamu nggak lihat ini sudah mulai gerimis," kata Reymond mulai kesal.
"Itu motor sport hitam. Saya hanya bawa helm satu aja, Pak."
Dia terpukau melihat Reymond mengendarai motor sport kesayanganya. Sempurna, jika cowok setampan Pak Reymond ini yang menaikinya. "Wuah....." sontak bibir mungil hana bersuara.
"Kamu aja yang pake. Kenapa masih begong. Kamu nggak mau pulang?" Hana masih dalam mode melamun ketika lambaian tangan Reymond mengarah kedepan wajahnya.
"Ah, I-iiya Saya naik. Eh, ini motor Saya, Pak nggak perlu ijin dari Bapak mau naik atau nggak."
"Makin bawel aja. Kutinggal nih"
"Eh jangan dong".
Akhirnya, mereka berdua pulang di iringi hujan deras. Mau tidak mau, Hana memeluk Reymond karena gadis itu lupa membawa jaket.
__ADS_1