
Langkah Reymond semakin dekat dengan tatapan menerkamnya, segera Hana mengayunkan Pisau ke arah Reymond.
"Berhenti, jangan coba-coba mendekat atau, atau..." Hana menodongkan pisau lipat dengan tangan gemetar.
Dia tak pernah bersikap seperti ini sebelumnya dan bahkan tak terlintas dipikirannya untuk menodongkan pisau pada orang lain sepanjang Hana hidup.
"Atau apa, hah?" seringai licik milik Reymond nyaris meluluh lantahkan keberanian Hana, yang mulai menciut karena langkah Reymond yang tenang semakin mendekat, seolah tak takut akan ancaman atau pun todongan senjata dari lawannya.
Apalagi seorang Hana dengan belati lipat seukuran telapak tangan bahkan memegangnya saja, gadis itu gemetar masih berani menodongkannya pada seorang bersabuk hitam.
Padahal niat Reymond mengikuti Hana sampai ke pintu kamarnya, hanya menggoda saja, tapi entah kesambet setan mana sampai keblablasan.
Dengan sigap dan tak kalah cepat, Reymond mengambil alih belati itu dari tangan Hana. Membuangnya entah kemana dan kini tangan kanan Reymond mencengkeram rahang mungil Hana. Air mata ketakutan berhasil membasahi pipinya.
"Apa yang kamu lakukan, jangan macam-macam!"
Senyum licik masih menghiasi wajah tampan Reymond tak ingin berlama-lama, ia pun ******* kasar bibir Hana yang masih merapat dengan menggigit bibir bawah hingga sedikit memberi celah untuk Reymond menerobos masuk mencecap ujung lidah milik Hana.
Membaringkan secara paksa tubuh gadis itu yang mulai beringsut mundur hingga membentur kepala ranjang, Reymond membuka kancing bajunya mendekati Hana yang duduk memeluk lututnya sebagai tameng.
***
Kedua orang tua Reymond menunggu putranya hingga sore, tapi tak kunjung kelihatan batang hidungnya. Akhirnya mereka memutuskan pulang, meminta Bi Inah untuk mengabarinya jika Reymond sudah pulang.
__ADS_1
"Bi, ingat untuk menelepon Saya, jika sudah Reymond kembali, ok?"
"Baik Nyonya. Maaf nyonya, apa Anda dan Tuan sebaiknya pulang setelah makan malam?" tanya Bi Inah.
"Saya makan malam diluar."
"Baik nyonya."
Bi Inah pun mengantar majikannya sampai depan pintu, kemudian menunduk memberi salam sebelum mobil orang tua Reymond menghilang dari pandangan.
***
Kondisi kamar Hana sudah tidak layak dikata sebagai kamar perempuan karena semua perabot terjungkal dan berhamburan kemana-mana bahkan ada yang pecah.
Kenapa pria yang dihadapannya ini sudah menjadi gila hingga membutakan mata hatinya. Ditendangnya sekuat tenaga, hingga Reymond terjungkal ke belakang agar dia memiliki sedikit celah untuk melarikan diri.
Ketika hendak menyeret tubuhnya menuruni ranjang, kaosnya ditahan dengan kuat, tapi sayang cekalan Reymond terlepas, membuat gadis itu jatuh tersungkur ke lantai.
Hana menjerit kesakitan manakala telapak tangan serta lutut mengenai pecahan vas bunga yang ia lempar untuk menghentikan ulah Reymond.
Melihat pekikkan Hana, sontak Reymond tersadarkan dari kebejatannya yang nyaris hilang kendali.
Membopongnya ke Rumah Sakit sesegera mungkin. Dia merasa begitu arogan dan bodoh karena ini yang kali kedua ia membuat Hana masuk rumah sakit karena ulahnya.
__ADS_1
Sesampai di Rumah sakit Reymond menggendong Hana ke ruang ICU.
"Dokter! tolong periksa dia, sekarang!"
"Baik, silakan ke bagian pendaftaran untuk mendaftarkan pasien.
Setelah mendaftarkan Hana sebagai pasien, Reymond menuju ruang ICU. Seorang suster tengah menghampiri Reymond yang sedang cemas.
"Permisi pak, Bapak dari keluarga Nona Rayhana?" tanya seorang suster yang menatap kagum akan ketampanan Reymond.
"Iya betul, ada apa sus...?
"Dokter meminta persetujuan untuk melakukan operasi kecil di bagian telapak tangan akibat pecahan kaca yang menembus kulit susah dicabut."
"Baiklah sus, berikan pelayanan yang terbaik untuknya."
"Baik Saya permisi."
Selama menunggu operasi, Reymond terlihat menelepon seseorang untuk membereskan kekacauan yang dia perbuat di rumah Hana.
Sepasang mata telah mengawasi gerak-gerik Reymond dan Hana sejak mereka direstoran tadi pagi.
BERSAMBUNG
__ADS_1