
"Kau sedang menatapku tuan tampan" tanya Hana. Mitchel memalingkan wajahnya kearah lain.
"Cih...kenapa kau menatap ke arah sana sedangkan di hadapanmu ini lebih menarik" imbuh Hana tak lama gadis itu menutup wajahnya karena pandangan mereka beradu.
Mitchel menahan lengan Hana. Ketika gadis itu mulai menjauh. "Kau mulai berani menggodaku, kucing kecil?!" Ucap Mitchel menarik lengan gadis itu hingga tubuhnya merapat.
Hana menggeleng pelan. "Menjauhlah. Jangan berani-berani menggodaku. Kecuali kau melepas cincin sialan itu dari jarimu" ucap Mitchel lalu menghempaskan lengan Hana.
"Aku hanya bercanda. Kenapa kau begitu serius. Lihatlah wajahmu itu terlihat menyeramkan. Auww...aku takut" ledek Hana terkekeh menertawai Mitchel. Mungkin orang lain akan takut atau gemetar tubuhnya jika sudah ditatap oleh Mitchel seperti tatapan elang itu.
Sore ini keduanya tiba di Bandara dengan jet pribadi milik Mitchel tentunya semua itu atas ide licik dari Mitchel membawa Hana ke Jakarta tanpa sepengetahuan Reymond.
**
Keduanya berada di dalam mobil dan Mitchel yang mengemudi.
"Selama kita berdua, aku cukup terkesan padamu. Kau tahu kenapa?" tanya Mitchel memulai percakapan dan Hana mencebikkan bibirnya sebagai jawaban.
"Itu karena kau tak pernah membahas pria manapun selama kita berdua sekalipun itu tunanganmu. Apa kau tak mencintainya?"
"Aku sangat mencintainya hingga aku tak ingin membagi kisah cintaku pada orang lain. Apa kau tak merasa merasa muak mendengar si wanita membicarakan pria lain dihadapan mu, benarkan ucapanku?" Balas Hana seolah menyindir Mitchel agar tak turut campur dengan masalah pribadinya.
Mitchel menoleh sesaat kemudian melajukan mobilnya menuju rumah Hana. Beberapa saat kemudia keduanya telah tiba di rumah Hana.
"Cepat keluar!!"
"Kenapa? Apa kau marah dengan ucapanku tadi, aku hanya mengatakan yang sebenarnya"
Mitchel menghela nafas lalu keluar dari mobilnya. "Sweetheart...jangan menatapku seperti itu. Dan rapikan rambutmu yang seperti permen kapas itu. Berantakan sekali"
Hana merapikan rambutnya asal didepan spion mobil. "Kau menyetir seperti orang kesetanan masih menyalahkan aku. Sebenarnya masalahmu apa, huh. Aku menyesal berbaik hati padamu selama ini. Kau bukan seperti Mitchel yang ku kenal pertama kali" Hana mendorong tubuh Mitchel supaya menyingkir dari hadapannya kemudian berlari kedalam rumah agar tangisannya tak terlihat didepan Mitchel. Dia benci pria yang pernah menyelamatkan hidupnya itu. Entah kenapa dia membencinya tiba-tiba.
**
"Baik...baiklah !! Aku tutup telpnya!" Ucap Reymond mengakhiri panggilannya.
BRAKK
Reymond memukul meja makan itu setelah mendengar kabar bahwa Hana sudah berada di Jakarta sejak dua hari yang lalu. Bagaimana bisa dia jadi tak berguna malah orang lain bertingkah seperti super hero didepan calon istrinya.
Reymond menghubungi sekertarisnya. Semenjak Hana memutuskan berhenti bekerja di CBS mau tidak mau Reymond mencari sekertaris baru untuk membantunya menjalankan perusahaan.
"Hallo...pesankan aku tiket pesawat siang ini ke jakarta" ucap Reymond.
"Apa berdua dengan tuan Eric?"
__ADS_1
"Tidak. Eric masih ada urusan bisnis di New york yang harus dia handle"
"Baik" balas sekertarisnya itu singkat.
Reymond menatap cincin yang melingkar dijari manisnya. Ikatan pertunangan sebulan lalu merubahnya menjadi orang paling bahagia didunia. Wanita yang punya sejuta keunikan telah mengisi hari-harinya dengan senyum dan candanya. Walau terkadang air mata kesedihan dan pengalaman yang menyakitkan untuk wanita itu alami membuatnya semakin ingin melindunginya dengan sekuat tenaga yang ia miliki.
Tak terasa air mata pria itu berkaca-kaca mengingat kemungkinan-kemungkinan jika Hana akan memutus hubungan dan berpaling darinya hanya demi orang yang baru dia temui.
Reymond menggeleng berharap pikiran buruk tak mengendalikannya hingga bersikap jahat pada gadisnya.
"Tidak. Tidak. Dia pasti bisa menjaga hatinya untukku" ucapnya pada dirinya sendiri.
**
"Sayang....kau sudah bangun. Segeralah turun untuk sarapan ya" kata Ridwan ketika mengetuk kamar putrinya.
Ridwan menoleh ke lantai bawah karena mendengar suara bel pintu kemudian dia segera menuruni tangga untuk membukakan pintu.
"Selamat pagi tuan Ridwan" sapa Mitchel dengan senyum tersungging diwajah tampannya.
"Selamat pagi" balas Ridwan sedikit terkejut. "Silakan masuk. Jika anda belum sarapan mari bergabung dengan kami dimeja makan tuan Gavind" ucap Ridwan mempersilakan Mitchel ke meja makan.
"Baiklah saya tidak akan menolak dan kumohon anda jangan terlalu formal pada saya" ucap mitchel lalu melangkah ke meja makan.
Terdengar suara langkah kaki menuruni tangga dengan tergesa-gesa. "Papi...!!! Masak apa hari ini...hemm...wanginya sampai___" Hana berteriak ketika turun dari tangga saking semangatnya sampai dia tak mengetahui pagi ini ada orang lain yang turut serta sarapan dirumahnya.
"Kau...!!" tunjuk Hana pada Mitchel. "Kau kenapa disini!" Hana menoleh ke arah ayahnya yang menyantap sarapannya dengan santai. "Papi bisa kau jelaskan kenapa 'the beast' ini ada disini" ucap Hana dengan kedua tangannya menunjuk ke arah Mitchel.
Mitchel tersedak mendengar panggilan 'the beast' ditujukkan padanya. "Sayang jaga sopan santunmu dan makan sarapanmu" kata Ridwan sedikit tak enak hati dengan sikap putrinya didepan penerus Gavind itu.
Dan akhirnya Hana menuruti ayahnya sarapan dengan tenang meski hatinya masih kesal dengan Mitchel.
**
Mitchel menoleh ke arah Hana karena gadis itu sedari tadi terus menatapinya seolah ingin protes. "Lihatlah wajahmu, kau semakin cantik jika kau sedang marah" rayu Mitchel.
Hana tak menjawab rayuan Mitchel. Pikirannya tertuju pada jalan yang tak seharusnya dia lewati. "Hei...ini bukan jalan menuju bandara! Kau mau membawaku kemana Mitchel" tanya Hana. Karena ayahnya mengatakan Reymond akan tiba sore ini jadi dia ingin memberi kejutan padanya dengan menjemputnya dibandara.
"Kita perlu bicara Hana. Hanya berdua" ucap Mitchel menoleh ke arah Hana yang menatapnya tajam.
"Bukannya kita sedang bicara. Tahu begitu lebih baik aku menggunakan taxi saja tadi. Kenapa sekarang kau sering membuatku kesal Mitchel, sering membuatku marah tanpa alasan"
Hening
Mitchel menambah kecepatan mobilnya. Di pertigaan jalan itu dia berbelok ke kiri, melewati pepohonan kelapa yang menjulang tinggi. Dari jauh terdengar deburan ombak saling menerjang bebatuan. Dan berhentilah mereka ditepi pantai.
__ADS_1
"Ayo turun..." ajak Mitchel lalu melepaskan seatbeltnya. Begitu juga Hana melepaskan seatbeltnya dan turun dari mobil Mitchel.
Hana memandang ke atas langit, cuaca hari ini sedikit dingin karena mendadak awan mulai menggelap.
"Sepertinya akan turun hujan. Apa kau yakin ingin bicara disini?!" tanya Hana membuat langkah Mitchel terhenti dan menoleh ke belakang.
"Hana_____" panggil Mitchel. Kedua tangan pria itu memegang bahu Hana. "Entah mulai kapan rasa ini ada. Dan setiap aku mengenyahkan perasaan ini yang ada hatiku semakin sakit dan tak terima. Hana....aku mencintaimu"
Hana tercengang dengan apa yang di dengarnya. "Mitchel...kau tak bisa melakukan ini padaku. Aku tak mungkin....Reymond adalah tunanganku. Kau lihat ini..." Hana mengangkat jemarinya yang tersemat cincin tunangannya dengan Reymond.
"Aku tahu Hana. Aku sudah mencoba ribuan kali melenyapkan rasa ini melupakan dirimu, bayanganmu, senyummu dan semuanya. Tapi..." ucap Mitchel menarik lengan Hana lalu memeluknya erat. "Aku tak bisa Hana. Maafkan aku. Aku sungguh mencintaimu..."
Tiba-tiba...
Seseorang sudah berdiri menyaksikan Mitchel dan Hana berpelukan. "Reymond....." Hana melihat Reymond dengan raut wajah yang sulit ditebak. Reymond menggeleng lalu melangkah pergi. Sakit hati. Iya, sangat sakit melihat semua kebenarannya.
Mitchel mengurai pelukannya dan menatap Hana yang berlari mengejar Reymond. Tiba-tiba petir menggelegar dibalik awan hitam. Rintik hujan semakin deras membasahi tubuh Mitchel yang berdiri seorang diri menatap jauh gadisnya menangis terisak.
"Reymond kumohon dengarkan aku. Apa yang kau lihat dan dengar tak seperti yang kau pikirkan. Sungguh percayalah padaku"
Reymond menghentikan langkahnya, "Kau tau betapa cemasnya aku saat kau diculik. Aku langsung ke New york mencarimu. Ponselmu tidak aktif. Aku tak tahu bagaimana harus menghubungimu dan aku mendapat kabar kau sudah pulang tapi kau tak mengabariku sejak dua hari yang lalu.
Sepertinya kekhawatiranku sia-sia dan kau terlihat baik-baik saja, kenapa kau tidak melanjutkan yang tadi kalian lakukan?!"
"Reymond____" Hana menatap punggung Reymond berjalan menjauhinya. Namun langkah pria itu terhenti ketika melihat pergerakan asing dibalik semak-semak. Reymond bisa melihat jelas sebuah senjata tengah mengarah ke arah gadisnya. Reymond segera berlari memeluk Hana dan...
DORR
DORR
DORR
Tiga buah peluru itu bersemayam di punggung Reymond hingga tubuhnya luruh diatas pasir. Hana berteriak histeris menutup kedua telinganya.
Suara tembakan mengejutkan Mitchel lalu menoleh ke arah Hana yang sudah bersimpuh diatas pasir. Mitchel mengambil pistolnya dibelakang pinggangnya lalu melesatkan amunisinya pada seseorang yang ia tahu masih berada dibawah pengawasan anak buahnya tapi entah bagaimana Rolex bisa meloloskan diri dan mengikutinya ke Indonesia. Ya, pria yang menembak tadi adalah Rolex hingga tujuh peluru milik Mitchel menembus tubuh Rolex, membuatnya terkapar tak bernyawa.
"REYMOND...!! Mitchel bantu aku...kumohon. Kita harus membawanya kerumah sakit secepatnya" teriak Hana lalu tangan Reymond menyentuh pipi Hana pelan. "Tidak...aku hanya ingin...melihat senyum mu...hah...aku...tak ingin kau menangis.." ucap Reymond tersengal. Senyumnya mengembang diatas luka tembak dipunggungnya.
"Jangan banyak bicara Reymond. Ayo kita kerumah sakit sekarang" lagi-lagi Reymond mencegah Mitchel mengangkat tubuhnya. Pria itu menggeleng. "Uhuk..uhuk...ini___" Reymond terbatuk hingga darah segar merembes di ujung bibirnya. Cincin yang melingkar di jari manis Reymond akhirnya terlepas. "Ini...jagalah calon istriku baik-baik. Bahagiakan dia untuk ku...uhuk...hah...hah..." ucap Reymond pelan kemudian menyatukan telapak tangan Hana dan Mitchel. "Berjanjilah padaku, kalian akan bersama setelah kepergianku" tambahnya lagi menatap Hana dan Mitchel bergantian lalu keduanya mengangguk setuju. Hembusan nafas pelan diiringi kelopak mata itu menutup pelan. Reymond telah pergi dengan cintanya yang tulus untuk Hana. Selamanya....selamanya.
"REYMOOOND.....JANGAN TINGGALKAN AKU. MAAFKAN AKU REYMOND...MAAFKAN AKU...AKU SALAH REYMOND. JANGAN TINGGALKAN AKU SEPERTI INI SEBELUM AKU MENJELASKAN SEMUANYA. PLEASE...BUKA MATAMU. BERI AKU KESEMPATAN BUAT JELASIN" Hana berteriak histeris mengguncang tubuh Reymond dipangkuannya. Mitchel terdiam dia merasa bersalah dengan apa yang terjadi dibawah derasnya hujan mengiringi pilunya kisah cinta mereka bertiga.
Tak lama ambulance datang membawa tubuh Reymond yang bersimbah darah. Berapa kali Hana pingsan tak kuasa dengan kepergian Reymond. Padahal setelah ia sampai dua hari lalu gadis itu ingin bertemu dengan calon suaminya tapi orang tuanya Reymond mengatakan bahwa Reymond berada di New york.
Didalam mobil Hana terdiam membisu. Tatapannya lurus ke arah depan. Terkadang terdengar isakan tangis yang menyayat hati. Mitchel menggenggam tangan Hana memberi kekuatan agar tegar apapun yang terjadi. "Kita berdoa semoga Reymond bisa selamat. Percayalah...Reymond orang yang kuat. Aku benar kan?!" Hana menoleh ke arah Mitchel kemudian mengangguk yakin.
__ADS_1
____________________❤❤__________________