Setitik Harapan

Setitik Harapan
Episode 08


__ADS_3

"Maafkan sikap ibuku," kata Reymond mengawali perbincangan. Setelah motor yang mereka kendarai terparkir di depan restoran.


Tak ada respon maupun jawaban dari Hana, ia sungguh menyesal dengan sikap ibunya.


"Hana, apa kau baik-baik saja".


Mencoba memegang lembut telapak tangan Hana, tetapi dengan cepat Hana menariknya.


Pandangannya tertuju pada jendela. Dia enggan menatap wajah Reymond mungkin dikarenakan sikap ibunya sedikit mengguncang jiwanya.


"Saya ingin pulang, Pak" ucap Hana lirih.


Keberaniannya sudah lenyap ketika berhadapan dengan ibunya Reymond.


Tidak lama pelayan datang membawa pesanan yang Reymond pesan.


"Tidak dengan kondisimu saat ini, Aku khawatir terjadi apa-apa dijalan. Jadi selesaikan sarapanmu," Titah Reymond.


"Saya tidak ada nafsu makan, Pak. Tolong jangan paksa Saya, Saya hanya butuh sendiri saat ini. Kumohon, atau berikan kunci motor Saya, Saya bisa pulang sendiri".


GUBRAK!!


Reymond menggebrak meja hingga hidangan diatas meja bergeser tak beraturan. Semua pelanggan mengarahkan pandangannya ke meja Reymond dan Hana.


Hana mencekeram bajunya kuat, menunduk ketakutan.


"Ada apa dengannya, terkadang lembut dan sekarang dia membuatku ketakutan," bathin Hana.

__ADS_1


Reymond merogoh kantong celana dan mengeluarkan dompet, diambilnya dua lembar seratus ribuan untuk billnya tanpa sedikitpun ia sentuh pesanannya.


Langkah Hana terseok seok mengikuti Reymond menuju area parkir motor.


"Cepat naik..."


Hana hanya bisa pasrah, untuk saat ini ia harus menurut agar ia bisa terbebas dari manusia salju ini. Reymond menarik kedua lengan Hana supaya memeluknya.


Motor sport hitam melaju dengan sangat cepat, menyelip disetiap sisi mobil maupun truk yang berjejer beriringan. Bahkan klakson Om tolelot Om sempat memberi peringatan kepada si pengendara agar jangan menyelip ketika ditikungan karena mereka bukan Valentino Rossi ataupun Lorenzo.


Cengkraman Hana semakin kencang ketika speedometer menunjuk angka seratus. Hanya dengan ini Reymond sedikit berkurang emosinya, merelakan amarahnya terbuang dijalanan secara cuma-cuma.


Sampailah dengan selamat dirumah Hana. Bersyukur masih diberi nikmat untuk bernapas besok. Hana menepuk-nepuk dadanya lega.


"Kenapa masih belum turun. Buka pagarnya?


Sepertinya nyawa Hana belum terkumpul sepenuhnya.


"Kok malah haa? itu pagarnya dibuka." Reymond mulai kesal.


Ding Dong!


Ding Dong!


"Sepertinya tidak ada orang dirumah, bagaimana ini tidak ada kunci cadangan. Apa mereka berpikir aku masih menginap dirumah, Bapak?


Reymond hanya menaikkan bahunya tak tahu- menahu.

__ADS_1


"Coba kamu cek ponsel Kamu, barangkali ada telepon atau pesan yang masuk," kata Reymond.


Benar juga berapa kali panggilan telepon dari ayahnya, dan sebuah pesan dari ibunya.


Mami dan papi pergi ke Sidney, pamanmu membutuhkan kami disana, karena ada urusan mendadak. Kunci rumah ada dikotak surat. Hana sayang, hati-hati dirumah ya? dan tunggu kami pulang.


Begitulah isi pesan dari ibunya. Dibukalah kotak surat dan mengambil kunci rumah.


"Anda tidak pulang, Pak?" tanya Hana saat menutup pintu.


"Apa Kamu lihat mobilku diluar, sedangkan Aku kesini mengendarai motormu?!"


"Paling tidak buatkan Aku sarapan!"


"Baiklah, silakan masuk, Aku akan ke kamar sebentar," kata Hana meninggalkan Reymond seorang diri di ruang tamu.


Reymond bukannya menurut malah mengikuti Hana ke kamarnya, ketika gadis itu hendak menutup pintu, sebuah tangan menahan dan Pria itupun melangkah masuk.


"Kenapa Bapak mengikuti Saya" suara Hana tercekat.


Reymond terus melangkah maju sedangkan Hana melangkah mundur.


"Bukannya Kamu punya keberanian untuk menyulut emosiku di restoran, hem?" Reymond tersenyum devil.


Langkahnya terus maju, bahkan menepis apapun yang Hana lempar ke arahnya. Hingga tubuh gadis itu membentur nakas. Hana mulai ketakutan, tangannya segera merayap ke laci nakas dibalik tubuhnya, meraba-raba benda didalamnya yang mungkin bisa ia gunakan untuk membela diri. Ia menemukan pisau lipat dan menyembunyikannya dibalik tubuhnya.


Langkah Reymond semakin dekat dengan tatapan menerkam, segera Hana mengayunkan Pisau ke arah Reymond.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2