Setitik Harapan

Setitik Harapan
eps. 45


__ADS_3

Hana membuka pintu apartemen, dimana tempat itu sudah di anggapnya sebagai rumah ketika sedang menikmati kerasnya hidup mencari masa depan tentunya bersama-sama dengan sahabatnya. Gadis itu tak butuh banyak teman, ketika seorang Intan mampu mewakili semuanya. Itu sudah cukup membuatnya bahagia.


Kini gadis itu melangkah masuk dan mengunci pintu. Helaan nafas pun terdengar pelan namun arti sesungguhnya terlalu berat untuk gadis itu. Dia merindukan masa-masa kebersamaannya dengan Intan. Hana berdiri didepan cermin full body itu, ingatannya kembali ke masa lalu...


Sosok Hana tampak anggun dengan balutan gaun biru gelap, tanpa lengan dengan memperlihatkan bahunya yang putih mulus dan panjang gaunnya hanya dibawah lutut serta dipadukan ikat pinggang berwarna silver. Hana terlihat seorang wanita feminim namun elegant.


Intan sampai ternganga tak percaya. Biasanya hanya pake celana jeans dan kaos oblong, malah sering melihatnya memakai jaket kebesaran. Sampai-sampai Intan mengartikan sahabatnya itu lagi meriang atau ngikutin style jaman now.


"Itu mulut dikondisikan, ntar nyamuk pada masuk baru tahu rasa" Intan mengatupkan rahangnya. Serasa pujian anggun untuk sahabatnya telah menguap ke udara.


"Kamu pakai rok??" Jangan bilang kamu perginya naik motor sport mu itu" tanya Intan menaikkan alisnya sebelah.


Kok rasanya temennya itu jadi tukang nyinyir sih, bathin Hana.


Setengah berbisik. "Aku dijemput, sama pangeran berkuda putih".


"Siapa...?" tanya Intan penasaran.


Hana tersenyum, "Mau tahu, apa mau tahu banget." Jawab Hana meledek. Sudah siap dengan penampilannya. Dia terlihat cantik. Sambil membolak balikkan tubuhnya kesamping, dirasa sudah perfect ia pun melangkah pergi.


Intan kembali berdecak. "Jangan berdecak terus?" Kata Hana sambil duduk diambang pintu sedang memakai high heels nya. "Kenapa memangnya kalo ber ck ck ck ria" tanya Intan memanyunkan bibir karena tak mendapat jawaban dari sahabatnya itu.


"Lupakan...aku terlambat nih" Hana melangkah keluar pintu. "Tunggu ada yang kurang" Intan setengah berlari ke dalam, entah apa yang dia ambil. Tak lama ia pun keluar dengan sebuah benda seperti dompet, tapi terlihat begitu mewah berwarna silver.


"Pakai ini... ingat bersikaplah yang anggun." Hana mengiyakan pesan sahabatnya itu sudah seperti pesan seorang ibu untuk anaknya. Begitu peduli, dia bersyukur punya sahabat seperti Intan.


Hana mengusap pantulan dirinya di depan cermin yang ada dikamarnya. "Aku merindukanmu Intan, kau pasti sedang bersama Edgar sekarang, huuh" keluhnya.


Ting tong....ting tong...

__ADS_1


Hana menoleh ke arah pintu lalu bergegas membukakannya.


"Kau....!!"


Hana langsung menutup pintu ketika sepasang tangan kekar milik Mitchel menghalanginya.


"Mau apa kau kemari, lepaskan tanganmu kalau kau masih sayang pada jarimu!!"


"Hana...tunggu!! aku kesini karena ingin bicara padamu. Tolong beri aku waktu"


"Tidak, pergilah. Aku membencimu Mitchel"


Hana mendorong sekuat tenaga daun pintu agar Mitchel tak bisa masuk, hingga terdengar suara lengkingan Mitchel membuat Hana berbalik dan membuka pintu.


"Aaargh...!!"


"Maaf...tanganmu, itu pasti sakit"


"Tidak apa-apa Hana, ini akan sembuh dengan sendirinya"


Hana menghentikan tangannya yang mengusap-usap telapak tangan Mitchel ketika mendengar ucapan Mitchel tadi seolah pria itu sedang berpura-pura untuk menarik simpatinya, lalu Hana memukulnya keras.


Mitchel mengerang kesakitan. Hana menatap tak peduli.


"Kita bicara disini saja, aku tak ingin jadi bahan gosipan emak-emak" ucap Hana, tapi bukan Mitchel jika pria itu tak punya banyak cara agar dia bisa masuk ke dalam.


"Oh...oke, tapi biarkan aku kedalam mengambil sesuatu untuk mengompres tanganku yang benar-benar mulai bengkak ini" ucap Mitchel sambil menarik lengan Hana agar menyingkir tak menghalangi pintu.


Hana menghembuskan nafas kasar, mengikutinya masuk ke dalam dan membanting pintu apartemen itu dengan kasar.

__ADS_1


"Ini...kompres tanganmu pake ini" ucap Hana kesal lalu duduk disofa berhadapan dengan Mitchel. "Apa yang ingin kau bicarakan, karena aku akan pergi setelah kau keluar dari sini"


"Kalau begitu aku akan mengantarmu, bagaimana? Siapa tahu kita searah"


Hana berdecak pelan, sungguh tak mengerti apa yang sedang dilakukan pria yang pernah menyelamatkan hidupnya itu.


"Mitchel...mau sampai kapan pun, aku tidak akan pernah mencintaimu. Jadi kumohon menjauhlah dariku. Karena kesempatan kedua ketiga itu tidak ada dalam kamus hidupku!!


Mitchel menatap Hana, didalam hatinya dia kecewa mendengarnya.


"Baiklah, baiklah, aku mengerti" ucap Mitchel sambil mengompres jarinya.


"Jadi, untuk apa kau kemari menemuiku?" Tanya Hana tanpa basa-basi.


"Sebenarnya aku hanya ingin mengajakmu ke suatu tempat"


"Aku tidak bisa pergi kemana pun,___"


"Ikutlah bersamaku Hana, aku janji akan membuatmu bahagia. Kau tak harus menatap ke belakang, ke masa lalu yang terus menerus menghalangi kebahagiaanmu"


Hana menatap tajam ke arah Mitchel, "Kaulah yang membuatku harus menatap ke belakang, tak peduli semenyedihkan apapun itu karena kau Reymond meninggal" ucapnya mulai menitikkan air mata.


Mitchel mengetatkan rahangnya lalu beranjak berdiri, "Aku akan datang lagi. Jangan mencoba menjauhiku, sekalipun kau bersembunyi pun aku pasti menemukanmu" kata Mitchel.


Mitchel melangkah keluar dari apartemen Hana ketika gadis itu tak mampu menahan tangisnya lagi. Sakit yang dirasakannya.


"Reymond, kenapa kau meninggalkan aku. Kenapa kau tak membawaku, bersamamu..."


____________________❤❤____________________

__ADS_1


__ADS_2