
Tiga puluh menit berlalu, gadis berambut hitam bergelombang itu duduk seorang diri menunggu bus tiba namun sepertinya kendaraan yang sedang ditunggunya tidak melewati jalur pemakaman umum.
Hana menghela nafas resah karena hari semakin gelap apalagi rintik hujan mulai deras dan dia tidak membawa payung maupun jaket tebal untuk menghangatkan tubuhnya yang hanya memakai dress brokat kombinasi satin hitam. Hembusan angin membuat tangannya bergerak menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.
Perasaannya semakin was was karena beberapa abang ojek berhenti di depan halte bus dengan mantel hujan menutupi tubuhnya sebagian.
"Ojek neng..." suara abang ojek menawarkan tumpangan tentu senyum ramahnya bertengger diwajahnya agar tidak terlihat sangar. Apalagi kumis tebalnya seperti Adam Suseno itu.
"Tidak. Terima kasih. Saya sedang menunggu jemputan saya" tentu Hana berbohong. Ini sudah yang ke empat kalinya jawaban serupa pun dilontarkannya pada abang ojek yang menghampirinya.
Bang ojek berhelm hijau kembali tersenyum lalu melajukan kendaraannya. Di balik spion dia mengawasi gadis itu hingga motornya cukup jauh dari jangkauan mata gadis itu. Bang ojek berhenti di dekat sebuah mobil BMW hitam.
Apa yang dia rencanakan...?
Kaca mobil bergerak turun secara perlahan. "Maaf tuan, nona itu menolak tumpangan yang saya berikan dan saya sudah mencoba membujuknya tapi nona itu tetap kekeh menolak".
Pemilik mobil itu mengangguk lalu menyerahkan sebuah amplop putih berisi uang. Abang ojek itu pun menerimanya lalu pergi setelah mengucapkan terima kasihnya.
Percikan air hujan menerobos masuk ke dalam mobil ketika kaca mobil menutup secara perlahan. Mitchel mengetatkan rahangnya. Kepalan tangannya mengeras sambil memegangi kemudi.
Disisi lain....
"Siapa yang harus ku hubungi, Eric ? Argh...anak itu, aku masih kesal padanya" Hana masih menscroll layar ponselnya. "Intan? Dia sedang honeymoon dengan Edgar. Aku tak mungkin menghubunginya. Ehm..." Hana tengah sibuk menscroll layar ponselnya, barangkali sebuah nama di kontaknya bisa menolongnya sekarang. Ibu jarinya berhenti ketika sebuah nama jatuh pada huruf M.
MITCHEL GAVIND
Matanya terpaku pada nama yang ada dikontaknya. Diliriknya arlojinya sudah 17.35 wib. Tak lama lagi adzan maghrib dan posisinya saat ini berada dihalte bus dekat area pemakaman, ditambah lagi hujan semakin deras. Sejenak pikiran horornya melanglang buana, tiba-tiba bulu kuduknya meremang. Gadis itu menyesal menolak keempat abang ojek tadi.
__ADS_1
"Disaat seperti ini hanya dia yang bisa menjemputku, ehm tapi? Argh...ck buat apa aku memintanya" Gumam Hana mengetuk ketukkan ponselnya ke dagunya sendiri.
"Ojek neng...." tawar seseorang dengan suara beratnya.
Hana semakin kesal karena tak ada siapapun yang bisa dihubungi untuk dimintai tolong. Gadis itu terlalu gengsi untuk menelphon Mitchel dan juga takut untuk memesan ojek online apalagi setelah trutama akan penculikan sebelumnya.
"Ojek neng..." tawar orang itu lagi.
"Bang !!! Berapa kali saya bilang, saya sedang menunggu jemputan. Kenapa masih nanya lagi sih" seru Hana mengepalkan tangannya lalu berbalik menatap seseorang yang dikenalnya.
Oh sial ! Mitchel....kenapa dia disini ?
Bang ? Aku memanggilnya abang...
Hana menutup wajahnya malu. Sedangkan Mitchel terkekeh geli melihat tingkah Hana.
Hana pun mengikutinya, tapi..
"Aku tak mau masuk ke mobilmu" kata Hana sedangkan Mitchel menatap geram.
"Jika kau tak segera masuk, maka kita berdua akan basah kuyub. Itu yang kau inginkan, huh" ucap Mitchel.
Hana tetap bersikeras tidak ingin masuk ke dalam mobil bersama dengan Mitchel.
Oh...gadis egomu terlalu tinggi
Kini mereka berdua basah kuyub karena terus berargumen.
__ADS_1
"Kyaaa!!" Teriak Hana ketika Mitchel mengangkat tubuhnya terbalik seperti karung beras.
"Mitchel...!! Turunkan aku...turunkan aku dasar...aaaaa" Mitchel merebahkan secara paksa tubuh Hana lalu Mitchel berlari memutar ke arah kemudi.
"Diam Hana !!! Jika sekali lagi kau berteriak, jangan salahkan aku yang menciummu!" Ancamnya sambil membanting pintu mobil dengan keras.
Seketika Hana menutup mulutnya rapat dengan kedua telapak tangannya.
**
Istanbul Airport
"Ayah...ibu... " sapa Denis
"Welcome son, bagaimana kabarmu. Maafkan ayah dan ibumu yang hanya dua kali menemuimu di Indonesia. Itu pun pasca operasi" tanya ayah Denis sambil memeluk putranya yang baru saja tiba dibandara.
"Itu sudah lebih dari cukup ayah. Dan kita harus bersyukur pada pemilik mata ini. Tanpanya aku tak bisa melihat kalian berdua. Aku pun juga tak bisa menjaga adik perempuan ku yang nakal ini" ucap Denis sambil merangkul Zaenab yang tengah sibuk dengan ponselnya. Zaenab terkejut lalu memukul pundak kakaknya.
"Ucapan terima kasih saja tidak cukup kita berikan pada keluarga Norman, sayang" sahut Ibu Denis seolah perkataannya ditujukan pada suaminya.
Ayah Denis pun langsung menimpali, "Kau tenang saja sayang aku sudah menyiapkan imbalan yang besar sebagai pengganti kedua mata untuk putra kita" ucapnya setengah berbisik.
Denis mengerutkan alisnya tak mengerti pembicaraan kedua orang tuannya yang terdengar semakin lirih. Denis pun bertanya pada Zaenab, tapi dia malah menaikkan kedua bahunya, tidak tahu.
"Baiklah ayo kita pulang. Aku rindu masakan ibuku tersayang ini..." ucap Denis sambil mencium pipi ibunya, manja.
__ADS_1
____________________❤❤___________________