Setitik Harapan

Setitik Harapan
episode 51


__ADS_3

"Argh...." Mitchel mengerang kesakitan saat Hana memukul bahunya.


"Ahh...maafkan aku. Itu...kau...apa bisa ehm maksudku biarkan aku yang menyetir. Kau bisa istirahat sampai kita tiba dirumah sakit" sahut Hana gugup. Dia takut semakin memperparah suasana.


Melihat ketulusan dimata Hana, Mitchel pun menuruti keinginan gadis itu lalu membuka pintu mobil sambil menahan bahunya yang tertembak. Begitu juga dengan Hana pindah ke kursi kemudi.


**


Sidney, Australia


Akhir-akhir ini rasa sakit di dadanya kembali kambuh. Kerinduan akan mending sang istri selalu menyelimuti hari-harinya. Putri kecilnya telah tumbuh menjadi gadis dewasa yang cantik dan mandiri. Tapi Ridwan selalu merasa kesepian. Foto mendiang istrinya selalu menjadi teman tidurnya setiap malam.


Ring...ring...ring


Terdengar dering ponsel diatas meja. Kedua alisnya bertautan. Sebuah nomor asing masuk ke ponselnya. Sambil menggeser layar ponselnya, Ridwan meletakkan kembali cangkir teh yang baru saja dia minum.


"Hallo, dengan siapa saya bicara?"


"Papi? Ini aku Hana__"


Ridwan menjauhkan ponsel dari telinganya dan menatap nomor asing yang menghubunginya. Tak percaya.


"Hallo...papi...hallo kenapa papi tak bicara"


Ridwan tersadar dan kembali menyematkan ponsel ke telinganya.


"Putriku, kaukah itu? aku sungguh merindukanmu. Kemana saja kau, Nak? Kenapa sama sekali tidak pernah menelpon ku?"


"Papi, Hana minta maaf. Aku juga sangat merindukan Papi tapi saat ini aku __" Hana terdiam sesaat.

__ADS_1


"Jika Papi tahu aku tidak di Jakarta pasti dia khawatir. Lalu aku harus berkata apa padanya?" Pikir Hana dalam hati.


"Hallo Hana, kenapa kau diam saja, Nak. Hallo kenapa tak bicara?"


"Hallo....Papi, pokoknya Papi jangan khawatir. Putrimu ini baik-baik saja, Papi"


Terdengar suara seorang dokter diseberang ponsel memanggil keluarga pasien.


"Papi, maafkan aku. Aku harus pergi, jika urusan ku sudah selesai aku akan menghubungi Papi lagi"


Terdengar helaan nafas berat dari seorang ayah. "Haih, Baiklah putriku, jaga kesehatan mu, Nak"


"Papi juga. I love you, Papi"


Seulas senyum terukir diwajahnya yang mulai tua.


"Kapan aku bisa menimang cucu" pikir Ridwan dalam hati.


**


Los Angeles


Seminggu berlalu begitu cepat. Mitchel pun pulih dari luka tembak di bahunya. Setelah pengobatan selama seminggu di Turki, baik Mitchel dan Hana memilih kembali ke Los Angeles.


Febio sudah terlalu tua untuk melakukan pekerjaannya sebagai asisten pribadi keluarga Gavind. Paruh bayu itu sekarang sudah pensiun dan memilih berlibur ke hawai.


"Nona, sebaiknya Anda segera kembali ke mansion. Udara laut yang dingin tidak bagus untuk kesehatan Anda" pinta Merlin, asisten baru Mitchel.


Rambut panjang bergelombang itu menutup sebagian wajah ayunya ketika Merlin memintanya kembali ke mansion.

__ADS_1


Deg !


Degup jantung Merlin berdenyut menatap raut wajah nonanya. Sekejap semburat merah tergambar dipipi Merlin. Pemuda itu menunduk menahan diri.


"Beri aku lima menit, aku masih ingin disini" balas Hana pada Merlin tanpa menatap pemuda yang berdiri dua langkah dibelakang Hana.


"Baik Nona, dan juga saya mengantarkan jaket ini untuk Anda agar Anda tidak kedinginan" Hana mengenakan jaket yang dibawakan Merlin untuknya.


"Terima kasih, Merlin. Kau sangat pengertian" Hana tersenyum simpul membuat rona pipi Merlin kembali memerah.


"Astaga! Jantungku. Berhentilah berdegub. Kalau begini aku takut tidak bisa menahannya!" Batin Merlin menjerit.


Merlin kembali ke mansion karena ada urusan lain yang harus ia kerjakan selain menjaga dan mengawasi Hana. Setidaknya ada dua penjaga yang diperintahkan Merlin untuk mengawasi Hana. Semua itu atas perintah Mitchel tentunya.


Sungguh Hana bosan seperti seorang tawanan padahal bukan. Hanya saja dia merasa kesepian tak ada yang menemaninya berbincang. Meskipun ada Merlin di mension, tetapi pemuda itu terlalu sopan dan patuh pada Mitchel membuat Hana urung mengajaknya berbincang.


Tiba-tiba bayangan tentang Reymond melintas dipikirannya. Bulir bening itu mulai penuh membanjiri pelupuk matanya.


Setiap pantai yang pernah ia datangi ada perasaan rindu, kadang pula gadis itu merasa sedih yang teramat sangat jika mengingat cintanya pada seseorang.


Hana duduk meringkuk wajahnya ia telungkupkan pada kedua lututnya. Butiran pasir menempel disebagian celana jeans yang ia kenakan. Hana tak peduli itu. Seolah nyaman duduk dipinggir pantai berpasir.


Walau suara isakannya nyaris tertelan suara ombak yang datang lalu pergi. Yah! Gadis itu menangis. Di lubuh hatinya dia rindu. Rindu pada calon tunangannya yang lebih dulu berpulang ke sisi sang Khaliq.


Mengapa begitu kejam, takdir ini seolah membuatnya harus mengeluarkan milyaran air mata. Kenapa? Di saat trauma masa kecilnya sembuh gadis itu mengalami sesuatu yang akan sulit ia lupakan dalam hidupnya. Pertama, saat masa pemulihan pasca kecelakaan, gadis itu harus kehilangan ibunya yang tercinta.


Tak lama kemudian setelah menerima lamaran dari Reymond Martin, putra dari Norman Martin sang pemilik CBS. Lagi-lagi musibah menghampirinya. Reymond tertembak ditepi pantai oleh salah satu musuh bebuyutan Mitchel hingga menyebabkannya tewas ditempat.


Entah setelah ini kehidupan macam apa lagi yang akan dihadapi oleh seorang Rayhana.

__ADS_1


____________________❤❤____________________


__ADS_2