
Semenjak dari Bandung sikap Intan pada Hana sedikit demi sedikit berubah, Intan mulai menjauhi sahabatnya. Hari ini adalah hari terakhir dari masa cutinya, ia hanya berdiam dikamarnya lalu ia berjongkok di tepi ranjang, di julurkan tangannya untuk meraih sebuah box dari kayu yang ia simpan dibawah ranjangnya, didalamnya berisi gulungan koran lama dan beberapa foto masa kecilnya bersama kakak dan kedua orang tuanya.
Dibukalah tali yang mengikat koran tersebut. Netranya mulai berkaca-kaca, membaca halaman depan yang bertuliskan huruf tebal itu, 'Anak Tewas Dianiaya Penculik'. Buliran air mata mengalir deras.
"Kakak.......?" Isaknya lirih.
Intan tak sanggup menatap foto terakhir kakaknya yang dimuat di surat kabar harian Kompas.
Dengan koneksi orang tuanya, Intan sampai rela mendatangkan detektif dan pengacara handal untuk mengorek kebenaran dari para penculik itu kini masih mendekam dipenjara, yang sebelumnya hanya memvonis dua puluh tahun penjara kini menjadi hukuman seumur hidup. Tentunya hukuman seumur hidup sudah menguntungkan bagi mereka bertiga, tapi tidak untuk keluarga Intan. Intan sendiri menginginkan hukuman setimpal karena menewaskan kakaknya maka nyawa dibalas nyawa.
Dia meremas lembaran berita lama tersebut. Sorot matanya yang tajam mengisyaratkan dendam yang begitu dalam. Ditatapnya foto kakaknya yang merangkulnya saat keduanya masih kecil, kedua matanya kembali sendu. Ketukan pintu membuat Intan bergerak cepat memasukkan lembaran demi lembaran koran lama dan foto-foto masa kecilnya dan menyembunyikannya dibalik selimut. Seorang wanita dengan ragu masuk kedalam kamar Intan.
"Intan...bisakah kita bicara"
"Tak ada yang perlu kita bicarakan lagi"
"elo marah ama gue?
Ini yang paling aku benci. Ketika marah sama kamu cuma panggilan gue-elo yang bikin aku berani bicara sama kamu Intan... bathin Hana.
"Gue minta maaf jika gue bikin salah sama elo" Hana menjulurkan tangannya hendak menggenggam tangan Intan, namun Intan menepisnya. Hingga tangan Hana membentur sesuatu yang keras di balik gundukan selimut. Hana pun menyibakkan selimut disamping Intan tetapi buru-buru Intan mencegahnya.
"Apa yang elo sembunyikan dari gue Intan" tanya Hana tajam.
"Bukan urusan elo" tukas Intan tak kalah tajam.
Hana menghela nafas. "Apa gue mengatakan sesuatu yang bikin elo g suka sama gue? akhir-akhir ini elo ngejahuin gue dan seolah-olah gue g ada" ucap Hana mulai gusar.
__ADS_1
Intan terdiam.
"Iya, aku membencimu Han, kamu penyebab kakak ku meninggal. Kenapa bukan kamu aja yang mati kenapa mesti kakak ku. Kakak ku yang sangat ku sayangi dan bodohnya aku larut dalam persahabatan palsu ini..."bathin Intan
Hana memperhatikan Intan yang sedari tadi terdiam dengan berurai air mata. Ditariknya tangan Intan mendekat agar Hana bisa memeluk sahabatnya. Menenangkannya. Baru kali ini Hana melihat kemarahan sahabatnya. Entah apa penyebabnya ia hanya mampu mencoba menenangkannya.
Intan meronta. Di dorongnya Hana hingga membuat Hana mundur beberapa langkah ke belakang.
"Gue benci sama elo Han...lo udah bikin kakak gue matiiiiiiii !!!" Teriak Intan menangis.
"Kenapa mesti kakak gue...kenapa g elo aja yang mati...haa!!!" Teriaknya lagi
"Kenapa..."
"Kenapa..."
"Maksud elo apa intan, bukannya elo bilang elo anak tunggal, trus kakak elo meninggal kenapa jadi salah gue..." tanya Hana bingung.
Intan menyibakkan selimut yang menutupi box tadi. Intan mengambil lembaran koran lama dan foto-fotonya semasa kecil barsama kakaknya lalu melemparnya ke arah Hana hingga berhamburan ke lantai.
Hana berjongkok arah matanya menatap intan yang mengepalkan tangannya menahan emosi lalu diambilnya selembar foto seorang anak lelaki tersenyum lebar memakai kaos putih dan celana pendek army dan pandangannya beralih ke koran lama, dibacanya halaman depan yang bertuliskan huruf tebal itu, 'Anak Tewas Dianiaya Penculik'. Tidak begitu jelas foto seorang anak yang dimaksud karena telah diblur oleh pihak penerbit media tersebut.
Hana menatap lekat siapa gerangan bocah tampan yang disebut Intan sebagai kakaknya itu hingga memorinya berputar ke masa lalu. Masa dimana dirinya yang berusia tujuh tahun diculik, dipukul oleh orang yang ia sendiri tidak tahu. Memorinya berusaha keras mengingat. Sekelebat bayangan seseorang yang menenangkannya dikala para penculik itu menamparnya. Hana hanya ingat seutas senyum yang membuatnya tenang dikala itu tapi otaknya tak mampu bekerja untuk mengingat keseluruhan wajah anak lelaki.
"Rangga..." ucap Intan datar.
"Rangga..." ucap Hana mengulang sambil mengingat sebuah nama. Hana menggeleng pelan.
__ADS_1
"RANGGA... NAMA KAKAKKU BRENGSEK.."
Maki Intan kedua tangannya mencengkeram bahu Hana dan menggoncangkannya.
"Tidak...tidak...aku...aku tidak ingat apapun.." jawab Hana memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sangat sakit. Ingatan penculikan yang terjadi beberapa waktu lalu Hana alami kembali muncul. Dimana dalang penculikan itu adalah Silvia, mantan tunangan atasannya. Kini keringat menyembul di dahinya, tangannya gemetar.
"Aku..aku...Arrrgghhh.."teriak Hana berlari keluar dari kamar Intan sambil memegang kepalanya yang terasa nyeri.
Intan menatap Hana dengan pandangan kosong lalu tersadar apa yang telah ia lakukan telah membuat Hana kembali mengingat traumanya. Intan berlari mengejar Hana yang masuk ke dalam kotak besi itu namun lift telah berjalan ke bawah. Intan berlari ke tangga darurat secepat yang ia bisa. Pikirannya kacau.
Apa yang terjadi pada sahabatnya jika Hana dalam kondisi seperti saat ini, sungguh Intan tak ingin terjadi sesuatu pada sahabatnya sebenci apapun ia pada Hana. Setidaknya sisi lembut Intan menyadarkannya bahwa dendam itu takkan membuat nyawa kakaknya kembali. Derap langkahnya semakin cepat ketika anak tangga terakhir telah didepan mata. Dibuka pintu itu secara paksa. Intan mencari Hana di lobi apartemennya. Tapi tak menemukan keberadaannya.
Hana terus berlari menahan nyeri dikepala hingga tak menyadari langkahnya telah berada di tengah jalan dan...
BAAGGHH
Tubuh Hana menghantam sebuah mobil, membuatnya melambung keatas mobil dan terpental jauh ke belakang. Terdengar suara decitan ban mobil itu mengerem secara tiba-tiba. Seorang pria lengkap dengan setelan Tuxedo-nya berlari melihat Hana yang terbaring bersimbah darah.
"HANAAAAA !!!" Seru Intan histeris.
"Oh..God Hana...!" Intan menutup mulutnya tak kuasa melihat sahabatnya berlumuran darah.
"Cepat bantu dia kerumah sakit, kumohon" pinta Intan menangis.
"Akan ku lakukan" kata pria itu.
Intan menopang kepala Hana dipahanya. Ia tak peduli dengan darah yang mengotori bajunya. Mobil hitam itu melaju dengan cepat terdengar bunyi klakson yang meminta mobil lain agar menepi. Tak peduli makian dari pengandara mobil lain, yang pria itu utamakan adalah keselamatan seorang wanita yang telah ia tabrak.
__ADS_1
____________________❤❤_________________